Kamis, 12 Oktober 2023

BERDO’A/MENYERU KEPADA MAHLUK HAKIKATNYA MENYERU SESUATU YANG DICIPTAKAN TIDAK DAPAT MENCIPTAKAN.

 

BERDO’A/MENYERU KEPADA MAHLUK HAKIKATNYA MENYERU SESUATU YANG DICIPTAKAN TIDAK DAPAT MENCIPTAKAN.

Ayyuhal ikhwah, pembahasan berikut adalah bahasan umum sebagai fondasi utama dalam hakikat kesyirikan, ini  bersifat ‘Aam (umum) bukan dalam sifat-sifat khosnya sehingga harus difahami ini agar tidak tersilaf atau di bingungkan dengan perkara-perkara khosnya yang dalam perincianya kadang sesuatu itu dapat dibenarkan dan bukan bagian dari sesuatu yang diharamkan. Orang-orang jahil dari kalangan ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu berdalil dengan perkara-perkara khos untuk membathalkan hukum-hukum yang padanya termasuk pada perkara ‘aam sehingga menghalalkan yang haram dalam kesyirikan.

Dalam teologi nya maka, Malaikat, Nabi, Waliyullah, Orang-orang shalih, berhala dan lain sebagainya yang mereka mempersekutukanya dengan allah ta’ala, mereka tidak dapat menolong orang-orang yang menyerunya bahkan menolong diri mereka sendiripun mereka tidak mampu. Sebagaimana allah ta’ala berfirman :

أَيُشْرِكُونَ مَا لا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ .وَلا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. Al A’raaf (7) : 191-192.

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلا يَمْلِكُونَ لأنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلا نَفْعًا وَلا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلا حَيَاةً وَلا نُشُورًا

Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan. Al Furqaan (25) : 3

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." Al A’raaf (7) : 188

قُلْ إِنِّي لا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلا رَشَدًا .قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا .إِلا بَلاغًا مِنَ اللَّهِ وَرِسَالاتِهِ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan." Katakanlah: "Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya."  Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.  Al Jin (72) : 21-23.

Cukuplah dengan dalil-dalil tersebut bahwa semua mahluk tidak dapat memberikan pertolongan kendati mereka menyangka bahwa sembahan-sembahan atau berhala-berhala itu adalah sebagai tuhan pencipta namun kita saksikan bersama bahwasahnya apa-apa yang mereka anggap sebagai tuhan itu adalah hakikatnya adalah mahluk, orang-orang hindu menyembah shiwa, brahma, khana, sapi, gangga dan lain sebagainya dan kita pastikan bahwa ashalnya mereka adalah sesuatu yang diciptakan tidak dapat menciptakan. Agama budha, mereka menyembah  Sang Hyang Adi, Parama Buddha, Hyang Tathagata dan lainnya yang juga diketahui bersama bahwa mereka semua adalah asalnya sebagi manusia biasa. Dalam literatur agama hindu dan budha dewa dan dewi asalnya adalah manusia biasa yang mereka di anugerahi wahyu, hikmah, karomah atau apapun sebutanya yang intinya mereka memiliki kelebihan dalam dirinya daripada manusia lainya, dalam kedudukannya, kepintaranya, kebijaksanaanya dan keutamaan-keutamaan lainya sehingga diakui oleh pengikutnya sebagai sesuatu yang layak bahkan harus di ikuti.

Yahudi dan kristen, mereka pun sama yaitu mereka menjadikan mahluk sebagai tuhan. Mereka menyembah malaikat, nabi pendeta (waliyullah) atau orang-orang shalih diantara mereka itu. Sebagian dari mereka berdalil bahwa ia adalah anak allah, dan mariam itu ibunya. Itulah keutamaanya sehingga pantas untuk dipertuhankan. Begitupun sebagaian kaum muslimiin yang mengaku sebagai umatnya nabi muhammad mengikuti jalan mereka itu dengan alasan karena orang-orang shalih itu memiliki keutamaan, karomah atau apapun namanya sehingga yang mereka anggap sebagai waliyullah itu dianggap memiliki sifat-sifat “Rubbubiyah (Ketuhanan)” sehingga mereka berdo’a di kuburan-kuburan mereka itu dan beribadah atau memberikan persembahan-persembahan di tempat-tempat yang dianggap keramat (memiliki keutamaan) itu. Diantara mereka ada yang berdalil dengan syafaat nabi, dan syafaat orang-orang shaleh. Namun antara dalil dan maksud perbuatan tidaklah seiringan tidak lebih mereka hanya meng ada-ada di dalamnya sebagaimana yahudi dan kristen itu mengada-ada. Mereka memasang lukisan, photo, simbol dan lain sebagainya, tidak hanya di tempatkan di tempat-tempat yang dianggap mulia, mereka menggantungnya di dinding rumah, mereka membuatnya dalam bentuk rupaka-rupaka kecil baik dalam tulisan, photo atau benda lainya untuk memudahkan mereka membawanya di dompet, di kalung, sabuk gelang cincin dan lain sebagainya.

Begitu juga agama-agama “pagan” atau paganisme, mereka menyembah mahluk. Diantaranya agama shinto, mereka menyembah matahari. Agama majusi, mereka menyembah Api. Yang juga termasuk didalamnya adalah Animisme dan dinamisme para penyembah roh dan benda mati. Paganisme adalah istilah yang dipakai oleh orang-orang yahudi dan kristen untuk agama-agama selain agama ibrahimik (islam). Kaum pagan, mereka meyembah mahluk  lalu fakta sejarah menjadi bukti bahwa akhirnya anak adam berulang disesatkan oleh syetan sehingga menyembah mahluk dan allah ta’ala pun mengutus kembali nabi dan rasul sebagai pemberi peringatan bahwa apa-apa yang mereka persekutukan selain daripada allah itu adalah lemah, mereka tidak dapat memberikan pertolongan, bahkan mereka itu diciptakan dan sesungguhnya mereka tidak dapat menolong diri mereka sendiri. Tidak dapat menghidupkan dan mematikan dan sesungguhnya mereka itu mati.

Mereka menyeru atau berdo’a kepada mahluk-mahluk itu dengan berbagai macam bentuk persembahan, dengan cara-cara tertentu baik yang bentuknya sesuatu bid’ah yang hakikiyah maupun yang idhafiyah. Mempersembahkan jamuan, makanan dan sembelihan, berpesta dan makan-makan. Sedang mereka dalam keyakinan bahwa perbuatanya itu adalah suatu ikhtiyar dalam pengharapanya untuk suatu hajat agar dapat tercapai. Na’am seperti itulah hakikat keadaan orang-orang yang mempersekutukan allah ta’ala dari kalangan paganisme, hindu, budha, yahudi, kristen dan umat islam saat ini. “Mereka menyeru Mahluk, Mereka Diciptakan tidak dapat menciptakan”.

*Sukabumi*D2n*05/10/2023.

YANG MEREKA SERU SELAIN ALLAH TA’ALA TIDAK MEMILIKI SESUATU APAPUN WALAU SETIPIS KULIT ARI

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ .إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. Faathir (35) : 13-14.

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ شَيْئًا وَلا يَسْتَطِيعُونَ

Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun). An Nahl (16) : 73

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ .وَلا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Katakanlah: " Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafa'at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa'at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?" Mereka menjawab: (Perkataan) yang benar", dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.  Saba (34) : 22-23

Sesungguhnya apa-apa yang disembah selain allah dari kalangan malaikat, nabi, waliyullah, orang-orang shaleh, arwah benda-benda yang dijadikan berhala itu tidak mempunyai sesuatu apapun dari kekuatan, dari dzat bahkan atas sesuatu apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri bahkan diri mereka itu dimiliki sedang apa-apa yang diseru selain allah ta’ala itu tidaklah memiliki. Allah ta’ala menegaskan dalam ayat diatas itu bahwa mereka itu lemah selemah-lemahnya mereka tidak berkuasa atas diri mereka sendiri, lantas bagaimana orang-orang musyrik itu menyagka bahwa apa-apa yang disembah selian allah ta’ala itu memiliki sifat-sifat kerubbubiyahan ? diantara sifat-sifat rubbubiyah itu adalah :

1.       Mengabulkan do’a atau memenuhi permohonan.

2.       Mendengarkan seruan setiap mahluk.

3.       Menciptakan segala sesuatu.

4.       Mengatur segala sesuatu.

5.       Memberi Rizki.

6.       Menghilangkan keburukan dan mendatangkan manfaat

7.       Dan lain-lain sebagainya yang hanya dapat dilakukan oleh Rab sekalian alam.

Allah ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ.

Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Faathir (35) : 13.

Jaringan kulit manusia terdiri dari tiga lapis ; 1. Epidermis 2. Dermis 3. Jaringan Subkutan. Kulita ari adalah Epidermis yaitu lapisan kulit terluar dan tertipis yang tidak memiliki pembuluh-pembuluh syaraf dan darah. Maha besar allah ta’ala yang telah memberikan perumpamaan ini. Allah ta’ala maha luas ilmu dan pengetahuanya mengabarkan dengan detail dan spesifik penyebutanya sehingga manusia mengetahui dan menjadi pelajaran bukan hanya dalam ilmu ketuhanan akan tetapi juga pelajaran untuk sains dan medis.

Imam Qurthubi menyebutkan dalam tafsirnya, Kata قطمير adalah kulit tipis yang putih (kulit ari). Demikian pendapat yang dikemukakan sebagian besar ahli tafsir. Lihat tafsir Ath Thabari(22/82), Tafsir lbnu Katsir (13/164. ) dan tafsir ibnu athiyah (13/164). Ini juga adalah pendapat sebagian besar para ahli bahasa.

Menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Atha, al hasan dan Qatadah, Lafadz Qithmiir dalam ayat ini adalah Kulit Tipis pada Biji Kurma.  

Lantas bagaimana bisa orang-orang musyrik itu menisbatkan sifat-sifat rubbubiyah kepada mahluk sedang kulit yang tipis yang melindungi diri-diri merekapun tidak mereka miliki ? Allah ta’ala yang menciptakanya dan allah ta’ala yang melindungi diri-diri mereka dengan memberikan nya kulit yang sempurna. Pohon-pohon itu di berikan kulit untuk melindungi batang kayu didalamnya sebagaimana patung-patung berhala itu dilapisi dan dibentuk oleh pembuatnya. Bagaimana mereka melindungi sedang mereka pun dilindungi dan memerlukan perlindungan ? sebagian dari penyembah kubur beralasan bahwa mayit-mayit itu bisa mendengar sehingga mereka membolehkan menyeru/berdo’a kepadanya dengan alasan tersebut, ketahuilah kesyirikanya adalah karena mereka meyakini mendengarnya mayit-mayit ini dengan keyakinan mampunya mahluk-mahluk ini menjawab seruan dan mengabulkan, menghilangkan keburukan dan mendatangkan kebaikan. Sedangkan menjadikan selain Allah ta’ala sebagai perantara antara dirinya adalah menafikan allah ta’ala as sami’ (Maha Mendengar) dan Allah ta’ala Al Aliim (Maha mengetahui). Allah ta’ala maha mendengar setiap seruan dari semua hamba tidak ada satupun mahluk memiliki kemampuan ini, diantara syubhat mereka adalah mayit bisa mendengar maka tanyakanlah kepada mereka itu apakah mayit-mayit itu memiliki kemampuan mendengar segala seruan yang di serukan kepada mereka itu dari semua orang-orang yang menyeru kepada mereka ? tentunya ini adalah perkara yang mustahil, ada trilyunan manusia di muka bumi ini yang seandainya satu juta dari penduduknya menyeru kepada satu mayit itu bagaimana ia mendengarkan seruan-seruan itu ? jika mereka mengatakan ya, mayit itu mendengar jutaan seruan itu, maka ini kesyirikan karena hanya allah ta’ala yang memiliki kemampuan ini. Jika dalam hal mendengarkan seruan saja mereka lemah, maka, bagaimana mereka dapat menjawabnya, mengabulkanya atau menyampaikan jutaan seruan yang dipanjatkan melalui perantaraanya itu. Maha suci Allah Ta’ala. Apakah mereka menyangka bahwa ada yang luput dari pengetahuan allah ta’ala ? apakah orang-orang musyrik itu menyangka Allah ta’ala tidak mengetahui sesuatu yang di panjatkan melalui perantara-perantara itu ? (Yunus(10) : 18).

Inilah hakikat kesyirikan itu dan tidak ada keraguan padanya.

وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ.

Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. Faathir (35) :14.

Sukabumi*D2n*09/10/2023.

BAHKAN MALAIKAT TIDAK MEMILIKI SESUATU APAPUN WALAU SETIPIS KULIT ARI

Firman Allah ta’ala :

وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ .قَالُوا سُبْحَانَكَ لا عِلْمَ لَنَا إِلا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ .قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!". Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" Al Baqarah (2) : 31-33

Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada yang maha mengetahui, maha mendengar, mengetahui segala rahasia yang ada dilangit dan dibumi, kecuali allah ta’ala. Allah ta’ala mengetahui dan mendengar setiap do’a yang dipanjatkan dengan suara keras, bisikan maupun di sembunyikan dalam bathin setiap hamba. Allah ta’ala menegaskan bahwa malaikat-malaikat itu tidak memiliki kemampuan ini. Lantas bagaimana orang-orang musyrik itu menisbatkan sifat – sifat robbaniyah itu kepada mahluk lainya selain malaikat ?

Ayyuhal ikhwah, masih berkaitan dengan pembahasan bab sebelumnya. Bahwa menyeru /berdo’a kepada selain Allah ta’ala hakikatnya adalah Menyeru/berdo’a kepada sesuatu yang tidak dapat menciptakan. Imam Qurthubi dalam tafsir Qur’an Surat Faathir (35) : 13 menyebutkan makna : 

مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ.

“Tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis Kulit Ari” Maksudnya adalah, berhala-berhala itu tidak mampu untuk mencipta.

            Malaikat-malaikat itu tidak dapat mendengar segala permohonan mahluk-mahluk lainya kecuali apa-apa yang di idzinkan allah ta’ala. Pendengaran mereka terbatas tidak melingkupi seluruh alam ini. Mereka tidak mengetahui segala sesuatu melainkan hanya apa-apa yang di idzinkan allah ta’ala untuk mengetahuinya. Manusia mendengar dan melihat tapi ada batasan pendengaran dan penglihatan itu, manusia hanya dapat melihat dan mendengar sebatas apa yang di idzinkan oleh allah ta’ala begitupun malaikat demikianlah keadaanya walaupun tingkat kemampuan antara masing-masing manusia, Jin dan malaikat memiliki tingkat batasan yang berbeda-beda.

Inti dari pembahasan ini adalah, bahwa malaikat tidak mempunyai sifat robbaniyah sehingga ia adalah kesyirikan padanya jika manusia menyangka bahwa malaikat mempunyai kemampuan untuk mendengar semua seruan-seruan dari banyaknya mahluk yang ada dimuka bumi. Ini baru dalam hal mendengarnya yang hanya allah ta’ala yang memiliki asma dan sifat “Maha mendengar” itu. Belum lagi jika diyakini bahwa malaikat-malaikat itu mampu mengabulkan permohonan atau menjawab seruan/doa yang di sampaikan kepadanya itu.

Jika saja berdo’a itu boleh dilakukan dengan melalui perantara, maka malaikat-malaikat ini tentunya lebih berhak untuk dijadikan perantara daripada penghuni kubur. Kedudukan malaikat lebih tinggi diatas orang-orang yang mereka anggap wali itu. Namun kita lihat dalam syari’at tidak ada tuntunan untuk berdo’a melalui perantaraan jibril, mikail, Rokib dan Atid. Tidak ada satupun hadits menerangkan bahwa rasulullah pernah berdo’a “Wahai Jibril sampaikanlah hajatku (Keinginanku) kepada allah ta’ala .....” juga tidak para sahabat melakukanya padahal keadaanya mereka lebih butuh dan lebih mendukung untuk melakukan itu daripada kita saat ini. Maka hukum menjadikan perantara antara allah ta’ala minimalnya adalah bid’ah sedang kecelakaan yang besar jika padanya terjatuh kepada kesyirikan. Jika saja menyeru/berdo’a kepada malaikat itu adalah kesyirikan, lantas bagaimana kiranya jika menyeru/berdo’a itu kepada Jin, arwah, Roh halus, dan lain sebagainya ? Bagaimana orang-orang musyrik itu dpat mempersekutukan allah ta’ala yang maha mendengar dengan mahluknya yang tidak maha mendengar. Mempersekutukan allah ta’ala yang menciptakan segala sesuatu dengan mahluk yang diciptakan dan tidak mampu menciptakan.

Sukabumi*D2n*10/10/2023.

BAHKAN NABI DAN RASUL TIDAK MEMILIKI SESUATU APAPUN WALAU SETIPIS KULIT ARI

Ayyuhal ikhwah, masih berkaitan dengan pembahasan bab sebelumnya. Bahwa menyeru /berdo’a kepada selain Allah ta’ala hakikatnya adalah Menyeru/berdo’a kepada sesuatu yang tidak dapat menciptakan. Imam Qurthubi dalam tafsir Qur’an Surat Faathir (35) : 13 menyebutkan makna : 

مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ.

“Tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis Kulit Ari” Maksudnya adalah, berhala-berhala itu tidak mampu untuk mencipta.

Bab ini adalah beberapa hujjah atas kekeliruan orang-orang musyrik yang menjadikan nabi-nabi dan rasul-rasul sebagai sekutu bagi Allah ta’ala. Perbuatan syirik mereka itu dibantah oleh kalamullah juga kalam nabinya. Nabi bersabda “Laa Agni ‘anka minallahi syai’a” (Aku tidak berguna bagi dirimu dihadapan Allah sedikitpun”.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حين أنزل عليه (وأنذرعشيرتك الأقربين) فقال : يا معشر قريش –أو كلمة نحوها- إشتروا أنفسكم-. لا أغني عنكم من الله شيئا. يا عبّاس بن عبد المطلب لا أغني عنك من الله شيئا. يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ، لا أغني عنك من الله شيئا. وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ محمّد سليني مِنْ مَالِي مَا شِئْت". لَا أُغني عَنْككِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا،

Dalam Shahih Bukhari. Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “ketika diturunkan kepada Rasulullah ayat “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat (Qs. Asy Syu’araa (26) : 214) beliau berdiri dan bersabda, “Wahai segenap kaum Quraisy, tebuslah diri kalian dari (siksa allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya) sedikitpun aku tidak berguna bagi dirimu dihadapan allah. Wahai abbas bin Abdul Muthallib!, sedikitpun aku tidak berguna bagi dirimu dihadapan allah.  Hai Safiyyah bibi Rasulullah, sedikitpun aku tidak berguna bagi dirimu dihadapan allah. Hai Fatimah binti Muhammad, mintalah olehmu dari hartaku sesukamu, sedikitpun aku tidak berguna bagi dirimu dihadapan allah.”

Dalam hadits ini terkandung beberapa pelajaran diantaranya yaitu :

1.       Hanya dengan memurnikan ketaatan kepada allah ta’ala yang dapat menebus keluarga nabi dari siksa/adzab neraka. Hal ini akan erat kaitanya dengan syarat-syarat memperoleh syafa’at. Jika demikian halnya dengan ahli baithnya bagaimana kiranya dengan yang bukan kerabat/keluarga beliau shallallahu alaihi wassalam...?

2.       Nabi dan Rasul adalah manusia biasa, tidak ada padanya sifat-sifat rubbubiyah (ketuhanan) ia adalah hamba/mahluk bukanlah khaliq/pencipta. Setiap hamba, hanya dapat tunduk dengan ketetapan Rab-Nya.

3.       Mintalah kepada nabi selagi sesuatu itu ada padanya.

4.       Nabi shallallahu alaihi wassalam bersabda “Mintalah dariku harta yang ada padaku sesukamu” rasulullah tidak bersabda : mintalah kepadaku aku akan memohonkanya kepada Allah ta’ala. Disini mengandung pelajaran bahwa bertawasul itu bukan suatu kebiasaan. Ia bukan sesuatu yang dianjurkan. Karena yang diperintahkan dan diajarkan rasulullah shallallahu alaihi wassalam adalah beliau bersabda “Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah”

 

Selanjutnya, bahwa tidaklah nabi dan rasul itu mengetahui hal-hal yang gha’ib kecuali sesuatu itu di bukakan oleh allah ta’ala dengan idzinya.

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

Dan di sisi Allah-lah kunci-kunci yang ghaib. Al-An’am (6) : 59.

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak kuasa mendatangkan kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula kuasa menolak kemadharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan andaikata aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemadharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Al A’raaf (7) : 188.

                Sebagian kaum musyrikiin ada yang berdalil dengan beberapa hadits yang shahih namun disalah fahami maksud dan penempatanya seperti diantara syubhat mereka itu adalah bahwa, diperdengarkan kepada nabi shallallahu ‘alaihi wassalam nikmat dan adzab kubur. Ini tidak menunjukkan adanya pertentangan dengan ayat diatas karena yang dimaksud padanya tentu saja dalam lingkup apa-apa yang di izinkan llah ta’ala untuk diketahu nabi pada waktu itu untuk menjadi pelajaran sebagaimana wahyu itu menjadi pelajaran. Keadaanya adalah tidak terus menerus sebagaimana mukjizat dan wahyu disampaikan melainkan disaat adanya kebutuhan syari’at untuk disampaikan kepada nabi shallallahu alaihi wasalam dan kepada manusia seluruhnya. Juga dapat dipastikan bahwa nabi tidak mendengar keseluruhan dari para penghuni kubur itu melainkan hanya beberapa saja yang disingkap/diperdengarkan allah ta’ala kepadanya.

                Selanjutnya, bahwa rasulullah adalah manusia biasa yang memerlukan perlindungan rasulullah terluka dan merasakan payah, maka, bagaimana kamu dapat mempersekutukan Allah ta’ala dengan nabi yang merasakan kepayahan, sedangkan para nabi itu tidak mampu memberikan pertolongan untuk keluarga kerabat bahkan untuk dirinya sendiri, melainkan semua itu hanya atas rahmat allah ta’ala. Bagaimana mereka kaum musyrikin itu menyeru/berdo’a kepada nabinya yang telah diciptakan-Nya? Sebagaimana allah ta’ala firmankan :

أَيُشْرِكُونَ مَا لا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ .وَلا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. Al A’raaf (7) : 191-192.

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظالِمُونَ

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim. Ali Imran (3) : 128.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsir ayat ini (3:128) :

قَالَ الْبُخَارِيُّ: قَالَ حُمَيْد وَثَابِتٌ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: شُجّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أحُد، فَقَالَ: "كَيْفَ يُفْلِحُ قُوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ؟ ". فَنَزَلَتْ: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ{

Imam Bukhari mengatakan bahwa Humaid ibnu Sabit meriwayatkan dari Anas ibnu Malik, bahwa Nabi Saw. terluka pada wajahnya dalam Perang Uhud, lalu beliau bersabda: Bagaimana memperoleh keberuntungan suatu kaum yang berani melukai wajah nabi mereka? Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman-Nya: Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (Ali Imran: 128) Hadis ini sanadnya mu’alaq dalam shahih Al Bukhari.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا هُشَيم، حَدَّثَنَا حُمَيد، عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُسرَتْ رَبَاعيتُهُ يومَ أُحدُ، وشُجَّ فِي جَبْهَتِهِ حَتَّى سَالَ الدَّمُ عَلَى وَجْهِهِ، فَقَالَ: "كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ فَعَلُوا هَذَا بِنَبِيِّهِمْ، وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ، عَزَّ وَجَلَّ". فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ{

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas r.a., bahwa gigi seri Nabi Saw. pernah rontok dalam Perang Uhud dan wajahnya terluka, hingga darah membasahi wajah beliau. Maka beliau bersabda: Bagaimana mendapai keberuntungan suatu kaum yang berani melakukan perbuatan ini kepada nabi mereka, padahal nabi mereka menyeru mereka untuk menyembah Tuhan mereka. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim. (Ali Imran: 128). Riwayat ini hanya diketengahkan oleh Imam Muslim sendiri. Dia meriwayatkannya dari Al-Qa'nabi, dari Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Anas, lalu ia menuturkan hadis ini.

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا ابْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ وَاضِحٍ، حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ، عَنْ مَطَرٍ، عَنْ قَتَادَةَ قَالَ: أُصِيبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أُحُدٍ وكُسرت رَبَاعيته، وَفُرِقَ حَاجِبُهُ، فَوَقَعَ وَعَلَيْهِ دِرْعَانِ وَالدَّمُ يَسِيلُ، فَمَرَّ بِهِ سَالِمٌ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ، فَأَجْلَسَهُ وَمَسَحَ عَنْ وَجْهِهِ، فَأَفَاقَ وَهُوَ يَقُولُ: "كَيْفَ بِقَوْمٍ فَعَلُوا هَذَا بِنَبِيِّهِمْ، وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللهِ؟ " فَأَنْزَلَ اللَّهُ: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ{

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Wadih, telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu Waqid, dari Matar, dari Qatadah yang mengatakan bahwa Nabi Saw. pernah mengalami luka dalam Perang Uhud hingga gigi serinya rontok dan alisnya terluka, lalu beliau terjatuh yang saat itu beliau memakai baju besi dua lapis, sedangkan darah mengalir dari lukanya. Maka Salim maula Abu Huzaifah menghampirinya dan mendudukkannya serta mengusap wajahnya. Lalu Nabi Saw. sadar dan bangkit seraya mengucapkan: Bagaimana akan memperoleh keberuntungan suatu kaum yang berani melakukan ini terhadap nabi mereka? Nabi Saw. mengucapkan demikian seraya mendoakan untuk kebinasaan mereka kepada Allah Swt. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu. (Ali Imran: 128), hingga akhir ayat.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari Ma'mar, dari Qatadah dengan lafaz yang semisal. Akan tetapi, di dalam riwayatnya tidak disebutkan fa'afaqa (lalu beliau sadar).

Dan ada banyak kisah nabi dan rasul yang diuji dengan kepayahan untuk diambil pelajaran bahwa hanya allah ta’ala yang memiliki semua kekuatan dan kehendak.

Sukabumi*D2n*11/10/2023.

 

syubhat. BENARKAH RASULULLAH DAN KAUM MUSLIMIIN SHALAT DAN SUJUD KEPADA BERHALA SEBELUM FUTUH MEKKAH ?

 

BENARKAH RASULULLAH DAN KAUM MUSLIMIIN SHALAT DAN SUJUD KEPADA BERHALA SEBELUM FUTUH MEKKAH ?

Orang-orang jahil itu berkata : Bahwa sebelum futuh makkah terdapat dikabah baik didalamnya ataupun diluarnya patung-patung. Ini adalah hujjah bahwa bersujud kepada berhala bukanlah kekafiran karena diketahui rasulullah dan kaum muslimiin berhaji dan shalat kepadanya sebelum makkah ditaklukkan. Syubhat ini di lontarkan oleh sebagian kaum muslimiin ketika terjadi perusakkan sesembahan dan sesaji oleh seorang dari kaum muslimiin yang membenci kesyirikan. Juga hal tersebut menjadi dalil sebagian dhu’at murji’ah yang tidak mengkafirkan para pelaku kesyirikan sehinga mereka masih memberi udzur kepada mereka itu. Bahwa sujud kepada berhala bukanlah kekafiran. Ia harus dipastikan dulu i’tiqadiyahnya.

Jawab :

1.       Futuh mekkah pada tahun ke 8 H perpindahan kiblat pada tahun ke 12H. Maka rasulullah dan kaum muslimiin tidak bersujud atau shalat menghadap nya. Baik di dalam mekah maupun diluar mekah.

2.       Haji adalah wuquf bukan thawaf. Maka wuquf bukanlah di ka’bah tapi di arafah.

3.       Tidak ada satupun rukun haji berbentuk rukuk dan sujud.

4.       Rasulullah dan kaum muslimiin tetap memerangi kafir quraisy sebelum futuhnya, menunjukkan bahwa statusnya sebagai darrul kuffar walaupun ditegakkan padanya beberapa syari’at dan tinggal didalamnya beberapa kaum muslimiin.

5.       Tidak boleh ridha terhadap kesyirikan sampai kesyirikan itu dibumi hanguskan dan harus terus berusaha meneggakan kalimatullah (tauhid) sampai benar-benar tidak ada sama sekali kesyirikan itu, tidak melakukan pembelaan atau bahkan ridha dengan keyirikan dengan memusuhi orang-orang yang berusaha menegakkanya sebagaimana telah terjadi mencela penegaknya dengan celaan tidak tahu waqi atau tidak berilmu atau tidak hikmah dan lain sebagainya.

6.       Menghancurkan patung sudah menjadi ibadah yang muthlak, dilakukan oleh Ibrahim Alaihi salam, Muhammad Shollallahu Alaihi wassalam, juga oleh sahabatnya Radiyallahu anhum. Bahkan sampai akhir zaman hal ini akan dilakukan oleh al mahdi dan Isa Alaihissalam. Kami tidak mendapati celaan atas orang-orang yang berani melakukan hal ini baik keadaanya lemah ataupun dalam keadaanya kuat. Naam, ibrahiim alaihi salam melakukanya dalam keadaan lemah pada waktu itu.

7.       Telah ada Ijma kafirnya orang-orang yang sujud kepada berhala.

8.       Kalaupun benar pada masa itu rasulullah dan kaum muslimiin pada waktu itu melakukanya (rukuk dan sujud) menghadap berhala, walaupun pada kenyataanya kita lihat fakta sejarah membuktikan tidak adanya dalil yang mendukung bahwa rasulullah dan kaum muslimiin pernah melakukanya. Juga dikarenakan thawaf adalah ibadah sehingga tridak merubah esesnsi haramnya ibadah yang ditujukan kepada berhala-berhala itu. Maka keadaanya sudah dihapuskan karena keadaan yang sudah tidak lagi mendesaknya untuk melakukan hal tersebut. Diwajibkan bagi kita untuk menjauhi sejauh-jauhnya dari perbuatan yang sedemikian itu kecuali keadaan terpaksa dalam keadaan darurat. Tapi kami melihat tidak adanya keadaan mendesak itu pada masa ini, bumi allah dijadikan seluas-luasnya untuk dijadikan masjid (tempat shalat) sehingga kaum muslimiin dapat mencari tempat shalat yang tidak ada patung padanya.

9.       Naam, dari ini ada satu sisi i’tiqadi yang menjadi persyaratan apakah ruku, sujud dan thawaf nya ditujukan untuk menghormati berhala atau tidak tapi dengan tidak memutlakkan padanya sebagai syarat mutlak kafirnya sebagaimana murji’ah menggeneralisir permasalahan ini bahwa i’tiqadiyah sebagai satu-satunya syarat kekafiranya. Tidak akhi... dzahir dari perbuatan ini (rukuk, sujud, dan thawaf) adalah ibadah sehingga wajib padanya  sebagaimana taklif dan tauqif-nya.  Hukum ter ringan pada masalah ini adalah haram atau dosa sehingga pelakunya wajib taubat. Keadaan ini bisa dilihat dari dua sisi :

a.       Ruku, sujud, thawaf kepada sesuatu yang diketahui sebagai berhala atau sesembahan seperti : patung yesus, lukisan maria, patung budha, kuburan yang orang-orang meminta kepadanya, kepada pohon, batu, laut gunung  dan lain-lainnya, beserta orang-orang yang melakukan ritual penyembahan itu dan sebagaimana orang-orang yang melakukan penyembahan itu.  Maka ia dzahirnya adalah kekafiran walaupun tanpa i’tiqadiyah. Maka ini adalah amal kekafiran. Pelakunya disuruh taubat.

b.      Rukuk, sujud, dan thawaf kepada sesuatu yang diketahui bukan sesembahan seperti, lapangan sepak bola, upacara bendera, membungkuk kebiasaan orang sunda saat permisi lewat didepan seseorang atau kumpulan,  mengangguk untuk menyapa dan lain sebagainya, maka perlu adanya kepastian i’tiqadiyah padanya tidak ada penghormatan yang berlebih sehingga melebihi hormat/cintanya kepada allah ta’ala. Naam, diketahui ini bukanlah rukuk,sujud thawaf ibadah tapi bisa jadi suatu peribadatan bagi sebaian lainya bisa jadi penghormatan dan kecintaan bagi sebagian lainya sehingga ini menjadi andad disisi allah ta’ala.

10.   Seseorang yang membungkuk kepada berhala semata untuk tujuan politik sebagaimana orang-orang lakukan dimasa Pemilu semata untuk mencari dukungan suara adalah kekafiran. Baik i’tiqadiyahnya maupun amaliyahnya. Haram kaum muslimiin memilih calon-calon pemimpin semacam ini.

*D2n*Sukabumi*10*08*2023.