Selasa, 18 Agustus 2009

Bila Al Qur’an telah Ternoda

Dapat kita bayangkan bagaimanakah kekacauan yang akan terjadi bila ada anggapan bahwa al qur’an sudah tercemar oleh orang terbaik pada umat ini yang menjadi utswah bahkan merupakan golongan orang-orang yang pertama kali masuk islam. Sedangkan tatkala berbeda logat dalam tata cara membacapun pernah terjadi kekacauan yang hampir saja tertumpah darah kaum muslimin, dan syukurlah karena penyamaan kedalam logat Quraisy yang dilakukan dengan dibuatnya mushaf Usmani pada pemerintahan Khalifah Usman bin affan berhasil menutup salah satu celah penyebab kehancuran dien ini.
Diantara sebagian umat ini ternyata ada yang mencari-cari celah untuk menghancurkan persatuan umat dengan mengatakan bahwa al qur’an ini telah tercemar dan tidak murni lagi dikarenakan telah dirubah isinya disesuaikan dengan kepentingan politk kekuasaan pada waktu pembukuan yang dilakukan oleh Khalifah Usman RA. Dan tidak segan-segan mereka mengatakan bahwa pembukuan itu tidak pernah terjadi. Diantaranya adalah salah seorang ulama terkemuka kota najef (Iran) Haji Mirza Husain bin Muhammad Taqi An Nuri At Thabrasi, menulis sebuah kitab yang ia beri judul "Fashlul Khithab Fi Itsbati Tahrif Kitab Rabbil Arbab.” Yang berarti “ Keterangan Tuntans Seputar Pembuktian Terjadinya Penyelewengan Pada Kitab Tuhan Para Raja.” Ia mengumpulkan beratus-ratus nukilan dari ulama-ulama dan para mujtahid Syi’ah sepanjang masa. Nukilan-nukilan tersebut memuat penegasan bahwa Al Qur’an Al Karim telah ditambah dan dikurangi. Buku karya At Thabrasi ini telah diterbitkan di Iran pada tahun 1289 H.kendati ada penentangan dari intern pengikut syi’ah sendiri, dikarenakan mereka menolak untuk dipublikasikannya buku tersebut dan mereka menghendaki agar kitab tandingan dari mushaf usmani yang mereka yakini untuk disembunyikan dari khalayak banyak, tetapi At Thabrasi tetap bersikukuh untuk mempublikasikannya bahkan membuat kitab baru di masa akhir hayatnya yang ia beri judul "Raddu Ba’dhis Syubhaat An Fashlil Khitab Fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbab." Yang artinya “ bantahan terhadap sebagian kitab “Keterangan Tuntas seputar Pembuktian Terjadinya Penyelewengan pada Kitab Tuhan Para Raja” Penghargaan umat Syi’ah kepada Beliau “At Thabrasi” amatlah agung bahkan At thabrashi di makamkan di komplek pemakaman Al Murthadhowi di kota Najef di singgasana kamar banu Al Uzma binti Sultan An Nashir Lidinillah. Tempat ini adalah teras kamar yang menghadap ke kiblat.teras terletak disebelah kanan pintu masuk kehalaman al murthadhowi dari arah kiblat. Ini adalah tempat paling suci bagi sekte syi’ah. Yaitu merupakan komplek pemakaman keturunan Ali di kota Najef. Bahkan Imam Khomaini pun memuji-muji at thabrasi dan kitabnya tersebut dalam bukunya yang berjudul "Kasful asrar." Diantara yang menjadi keyakinan mereka adalah bahwa sahnya telah dihapuskannya “Surat Al Wilayah” oleh sohabat RA. Yang sesungguhnya mereka yakini bahwa ayat tersebut adalah mengenai kewalian Ali : Yang artinya : “ Wahai Orang-orang yang beriman, berimanlah kalian kepada seorang nabi dan wali yang telah kami utus guna menunjukan kepadamu jalan yang lurus……..” “Seorang nabi dan wali, sebagian mereka dan sebagian lainnya adalah sama, sedangkan aku adalah yang maha mengetahui dan yang maha mengenal. Sesungguhnya orang-orang yang memenuhi janji allah akan mendapatkan surga yang penuh dengan kenikmatan. Adapun orang-orang yang dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami, mereka mendustakan ayat-ayat kami, sesungguhnya mereka akan mendapatkan kedudukan yang besar dalam neraka jahannam. Bila diseru kepada mereka : manakah orang-orang yang berbuat lalim lagi mendustakan para rasul ? apa yang menjadikan mereka menyelisihi para rasul? Mereka tidak menyelisihi para rasul melainkan dengan kebenaran, dan tidaklah allah akan menampakan mereka hingga waktu yang dekat. Dan bertasbihlah dengan memuji tuhanmu , sedangkan Ali termasuk para saksi.” Inilah “Al Qur’an” yang dimiliki kaum syi’ah yang banyak mengandung kesalahan fatal dari segi ilmu nahwu, gaya bahasa yang buruk, lucu, tidak fasih. Ini membuktikan bahwa surat al wilayah ini adalah surat yang ditulis bukan dengan bahasa arab “Non Arab” dan merupakan hasil rekayasa orang-orang non arab Persia yang dungu sehingga mereka mempermalukan diri sendiri dengan penambahan surat ini. Ustadz Muhammad Ali Su’udi, beliau adalah kepala tim ahli di Depertemen Keadilan di Mesir, dan salah satu murid terdekat Syeikh Muhammad Abduh berhasil menemukan “Mushaf Iran” masih dalam bentuk manuskrip. Mushaf itu merupakan salah satu koleksi orientalis Brin. Beliau berkesempatan umtuk mengabadikan surat tesebut dengan kamera. Di atas teks arabnya terdapat terjemahan dengan bahasa iran (Persia), persis seperti yang dimuat oleh At Thabrasi dalam bukunya “Fashlul Khitab Fi Itsbati Tahrif Kitab Rabbil Arbab.” Surat ini juga dapat ditemukan dalam buku mereka yang berjudul Dabistan Madzahib dengan bahasa Iran (Persia) karya Muhsin Fani Al Kasymiri. Buku ini dicetak di Iran dalam beberapa edisi. Surat palsu (Al wilayah) ini juga di nukil oleh seorang orientalis bernama Noldekh dalam bukunya Tarikh Al Mashahif (Sejarah Mushaf-Mushaf) jilid II, halaman 102, diterbitkan oleh Harian Asia-Prancis apada tahun 1842 M, halaman 431-439. Selain berdalil dengan Surat Al Wilayah atas terjadinya perubahan pada Al Qur’an At Thabrasi juga berdalil dengan riwayat yang termaktub pada kitab “Al Kafi” edisi tahun 1287 H, halaman 289, Iran. Yang berbunyi : “ Sejumlah ulama kita (Syi’ah) meriwayatkan dari Sahl bin Ziyad, dari Muhammad bin Sulaiman, dari sahabatnya, dari Abu Hasan ‘alaihi salam (maksudnya abu hasan kedua, yaitu Ali bin Musa Ar Ridha-wafat tahun 206) ia menuturkan : dan aku berkata kepadanya, “Semoga aku menjadi penebusmu. Kita mendengar ayat-ayat alqur’an yang tidak ada pada al qur’an yang ada, dan kita juga tidak dapat membacanya sebagaimana yang kami dengar dari anda. Apakah kami berdosa ?” beliau menjawab, “Tidak. Bacalah sebagaimana yang pernah kalian pelajari karena suatu saat nanti akan datang orang yang mengajari kalian.” Kitab Al Kafi - Al Kulani ini menurut sekte Syi’ah sama kedudukannya dengab “Shahih Bukhari” menurut kaum muslimin. Tidak diragukan lagi bahwa ucapan ini merupakan hasil rekayasa kaum Syi’ah atas nama imam mereka Ali Bin Musa Ar Ridha. Walaupun demikian ucapan ini merupakan fatwa bahwa penganut syi’ah tidak berdosa bila membaca Al Qur’an sebagaimana yang dipelajari oleh masyarakat umum dari mushaf usmani. Hal ini karena orang-orang tertentu dari kalangan syi’ah akan saling mengajarkan kepada sebagian lainnya hal-hal yang menyelisihi mushaf mereka. Diantaranya berupa beberapa hal yang mereka yakini ada atau pernah ada pada mushaf-mushaf imam mereka dari kalangan ahlul bait. Bukan hanya At Thabrasi, adalah ulama-ulama terkemuka syi’ah lainnya pun memiliki aqidah seperti ath tabrasi yaiti meyakini bahwa Al Qur’an mushaf usmani ini sudah diselewengkan dan tidak asli lagi. Seperti : Al Kulani, Al Kummi, juga syaikh Mufid. Walaupun kaum syi’ah mengesankan bahwa mereka berlepas diri dari buku An Nuri At Thabrasi dalam rangka menerapkan ideology taqiyah, tetapi buku tersebut memuat beratus-ratus nukilan dari ulama mereka yang terdapat dalam kitab-kitab mereka yang terpercaya. Ini adalah salah satu bukti nyata bahwa mereka meyakini dan beriman terhadap adanya penyelewengan. Diantara ayat, yang telah dihapuskan menurut sekte syi’ah adalah : Wa ja’alna ‘aliyyan sohroka Dan kami jadikan Ali sebagai menantumu. Mereka beranggapan bahwa ayat ini telah dihapuskan dari surat “Alam Nashrah. Mereka tidak malu dengan anggapan ini, padahal mereka mengetahui bahwa surat”alam narah” adalah surat makiyah, sedangkan yang menjadi menantu beliau rasulullah saw saat itu adalah Al Ash bin Al Rabi’ Al Umawi. Al Ash ini pernah dipuji oleh rasulullah saw. Diatas mimbar masjid Nabawi As Syarif tatkala sahabat Ali ra berencana menikahi anak wanita abu jahal sebagai madu bagi istrinya (Fatimah ra). Oleh sebab itu, fatimah mengadukan suaminya, ali bin abi thalib, kepada ayahnya. Rasulullah saw. Apabila sahabat nabi adalah menantu nabi saw, karena menikahi salah satu putrid rasulullah saw, maka allah telah menjadikan Usman bin Affan sebagai menantu rasulullah yang menikahi dua putrinya. Rasulullah saw bersabda kepada usman ketika istri keduanya (Ummu Kultsum) meninggal dunia : Lau kaanat lanaa tsaalisatun lajawajna kahaa” “Andai aku memiliki anak wanita ketiga, niscaya akan aku nikahkan engkau dengannya” Bahkan rasulullah menggelari usman bin affan ra dengan sebutan “Dzun Nurain” yaitu seseorang yang dianugrahkan kepadanya dua cahaya. At Thabrasi mengemukakan “Ayat yang sebenarnya adalah apa yang telah aku kemukakan kepadamu bahwa kaum munafiqin telah menghapus sebagian dari perintah dan kisah dari al qur’an yang terletak diantara firman allah tentang anak-anak yatim hingga firman allah tentang menikahi wanita. Mereka menghapus lebih dari sepertiga Al Qur’an” yang dimaksud kaum munafiqin oleh at thabrasi diatas adalah : para sahabat rasulullah saw yang telah mengumpulkan teks-teks al qur’an. Tidak diragukan lagi bahwa kisah tersebut adalah dusta yang diada-adakan oleh mereka atas sahabat Ali ra. Buktinya adalah beliau sendiri (ali ra) sepanjang masa kepemimpinannya menjadi khalifah tidak pernah mengumumkan kepada kaum muslimin bahwa sepertiga Al Qur’an telah dihapus dari mushaf yang sebenarnya. Beliau juga tidak memerintahkan kaum muslimin untuk menulisnya kembali, mempelajari, atau mengamalkan kandungannya. Atau dengan kata lain Khalifa Ali ra pada waktu itu tidak menyempurnakan mushaf al qur’an Yang padahal ali mampu untuk melakukannya dengan kekuasaannya pada waktu itu. yang menurut sangkaan mereka (Syi’ah) telah dihapuskan sepertiganya. Bagaimana Khalifah Ali ra bias membiarkan hal tersebut ? andai Ali ra mempunyai mushaf lain atau menyempurnakan mushaf usmani tentu saja mushaf tersebut akan di sampaikan kepada umat untuk diamalkan dan disebar luaskan. Teks dari abu ja’far yang lebih nyata kedustaanya (berdusta atas namanya) yaitu teks dari anak beliau, Ja’far As Shadiq rahimahullah ta ‘ala. “ Dari Abi Bashir, ia menuturkan : Aku pernah masuk menemui abu abdillah (Ja’far As Shadiq)……Abu abdillah berkata, “dan sesungguhnya kami memiliki mushaf Fatimah itu. Ia menjawab, Mushaf seperti Al Qur’an kalian itu, tiga kali lipat (tebalnya) sungguh, demi allah, tidak ada didalamnya satu huruf pun dari al Qur’an kalian.” Inilah kedustaan lainnya yang diatas namakan imam-imam ahlul bait yang telah ada sejak zaman dahulu. Teks-teks ini telah dibukukan oleh Muhammad bin Ya’kub Al Kulani Ar Razi dalam bukunya, Al Kafi. Lebih dari seribu tahun silam. Bahkan, teks-teks tersebut telah ada jauh hari sebelumnya karena ia menukil dari pendahulunya, para tokoh pendusta, para arsitek paham syi’ah. Semasa Spanyol berada dibawah kekuasaan bangsa arab dan Islam. Imam Abu Muhammad ibnu Hazm beradu argumentasi dengan para pendeta nasrani melalui teks-teks kitabmereka. Beliau berhasil membuktikan kepada mereka bahwa kitab mereka telah mengalami penyelewengan dan bahkan kitab mereka yang aslinya telah hilang. Menyikapi hal itu para pendeta tersebut menghujat balik beliau , bahwa kaum syi’ah telah menetapkan bahwa Al Qur’an juga mengalami penyelewengan. Mendengar jawaban yang demikian, Ibnu Hazm menjawab bahwa anggapan kaum Syi’ah tidak dapat dijadikan sebagai bukti untuk memojokan al qur’an tidak juga umat islam karena kaum syi’ah tidak termasuk umat Islam/. (silahkan baca Al Fishal Fi Al Milal wa An nIhal karya Ibnu Hazm) Adalah fakta yang memang berbahaya bahwa memang baik syi’ah imamiah ataupun syi’ah ja’fariyah atau disebut juga itsna a’sy ariyyah yang katanya aliran syiah yang paling dekat dengan shlu sunnah. Ini tetaplah dengan aqidahnya bahwa mereka berkeyakinan bahwa al qur’an ini telah tercemar. Adakah fitnah yang lebih besar menimpa para sahabat dan kaum mukminin dari pada fitnah ini ? Kesimpulan : Menurut Sekte Syi’ah ada dua al qur’an. Yang pertama adalah al qur’an yang telah tersebar luas dan diketahui oleh setuiap orang, dan yang kedua adalah al qur’an yang khusus yang tersembunyi yang diantara isinya adalah Surat Al Wilayah. Dalam hal ini, mereka mengamalkan pesan rekayasa yang diatas namakan salah seorang imam mereka, yaitu Ali bin Musa Ar Ridha : “Bacalah sebagaimana yang pernah kalian pelajari karena suatu saat nanti akan datang orang yang mengajari kalian. Sumber : Buku “Mungkinkah Syi’ah dan Sunnah bersatu” Syaikh Muhibbudin Al Khatib. Silahkan kunjungi pula : http://www.hakekat.com

Kamis, 30 Juli 2009

Kapankah Islam kan jaya/berkuasa dimuka bumi















Kapankah Islam kan jaya/berkuasa dimuka bumi sebagimana yang telah Allah janjikan Didalam surat An Nur (24) : 55

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Cirri-ciri dari mereka yang akan dimenengkan oleh Allah adalah :

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui Al Maidah (5) : 54

“Para Penegak Kebenaran Ini Akan Terus Allah sebarkan dimuka bumi hingga Akhir Zaman.”

Itulah cirri-ciri mereka, akan tetapi kalau ditanya Kapan ! maka hal ini perlu pembahasan yang rumit dan sangat susah dijawab mengenai kapannya karena hal ini adalah suatu bahasan mengenai Qudrat allah sebagi penentu dan sama sekali tidak bisa kita prediksikan kapankah datangnya waktu itu.

Namun demikian kita bisa melihat tanda-tanda kemenangan itu kan muncul dari beberapa hal berikut :

1. Apabila Jumlah kaum Muslimiin yang berkualitas sudah mencapai 1 : 9

Hai Nabi, Kobarkanlah semangat Para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti[623]. -Al Anfaal (8) : 65-


• Pada peperangan Badar, Jumlah kaum muslimin pada waktu itu lebih sedikit dibandingkan jumlah kaum kafir Quraisy. Akan tetapi dikarenakan kwalitas keimanan mereka sangat baik maka Allah menangkan mereka “Mereka lebih memilih berperang menghadapi musuh mengorbankan nyawa di Badr dibandingkan Harta, yaitu merempas pasukan Abu sufyan yang membawa barang dagangan.

• Pada Peperangan Hunain, Jumlah Kaum Muslimiin pada waktu itu lebih banyak akan tetapi Pada pertempuran pertama, mereka dikalahkan musuh akan tetapi berhasil menang setelah kaum muslimin merapatkan lagi barisan meskipun jumlah mereka sedikit. At taubah (9) : 25)

• Pada perang Uhud, Kaum muslimin dikalahkan musuh dikarenakan ketidak taatan kepada perintah Rasulullah Saw.

Cukuplah dari ketiga contoh tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa kemenangan islam itu bisa diperoleh meskipun jumlah mereka sedikit. Dan tidak tergantung kepada kuantitas. 1 orang mukmin yang berkualitas mampu mengalahkan 10 atau 9 orang kafir dalam peperangan.

Kuantitas mukmin yang berkualitas saat ini belum mencapai 1:9, Hal ini bisa kita riset, dari :

• Solat Berjamaah
• Orang yang Paham Al qur’an
• Muslim yang taat dan yang tidak taat

Sistematisnya, Untuk mengetahu jumlah tersebut pada zaman dulu adalah :

- Hijrah
Dizaman rasulullah Hizrah bukan hanya semata menghindari intimidasi dan tekanan dari pihak Quraisy, akan tetapi hal ini juga dipergunakan untuk membangun dan menyusun kekuatan, dan juga dengan Hijrah ini dapat diketahui jumlah Orang yang mengikuti seruan Rasulullah dan dapat diketahui mana saja diantara mereka yang ada Dzimah, dan yang Memusuhi. dan dengan demikian mereka telah terpisah. Dan dapat diketahui sudah mampukah kita melawan dengan senjata.

SM Kartosuwiryo pun memakai Politik Hijrah ini.

- Bai’at
Dengan adanya Bai’at maka kitapun bisa mengetahui Jumlah pendukung perjuangan kita, hal ini dilakukan oleh Rasulullah maupun oleh sebagian Harokah-harokah islamiyah dipenjuru dunia.

Untuk zaman sekarang ini kedua system tersebut tidak efektif untuk dipergunakan karena zaman sekarang adalah zaman HIZBY. Masing-masing Hizby ada yg memberlakukan Bai’at pun masing-masing Hizby ada yang memberlakukan Hijrah sehingga jumlah mereka masih terpecah dan hasil kuota perhitungan pun masih terpecah, belum lagi Masing-masing Hizby merasa benar dengan Hizbynya dan sulit untuk dipersatukan.

Hizby adalah salah satu penyebab terpecahnya umat, diantaranya ada yang bergerak dibidang dakwah dan ada pula yang masuk ke Politik, karena perpecahan inilah yang menyebabkan kemunduran islam. Terlebih mereka yang ikut dalam dunia politik Demokrasi. Hizby ini menyebabkan setidaknya mereka menganut salah satu paham dibawah ini :

- PLURALISME hal ini disebabkan beberapa kepentingan Partai
- ASHOBIYAH

Hyzbi Lebih bergantung kepada KUANTITAS untuk kemenangan dibandingkan Kualitas.

2. Apabila Para umara Hizbi bersatu dalam satu ikatan Qur’an dan Sunnah.

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
–As Shaf (61) : 1

Dari ayat ini diperintahkan kita dalamberperang itu dalam satu shaf yang rapi maka akan kokoh dia dan allah akan memenangkannya. Perlu kerja keras untuk mempersatukan semua Hizby yang ada , utamanya Umaro mereka hendaklah Bermusyawarah dan meninggalkan Kepentingan Hizby musyawarah di kembalikan kepada Hukum allah dan merupakan jalan terbaik bagi umat dan Hasil musyawarah itu diakui oleh seluruh Umat dari hizby manapun. Maka angkatlah Amirul Mukminiin. Semua itu dalam Rangka menjaga Tali Allah Dan menjaga Tali Silaturahim.

a. Jihad adalah bagian dari Aqidah

Dari ayat diatas pun kita dapat mengambil pelajaran bahwa Jihad itu kunci kemenangan, Yaa akhii klu allah auka akan usaha kita maka kita tidakmungkin akan dikalahkan oleh siapa atau apapun. Ada banyak ayat mengenai wajibnya Perang fii Sabiilillah (JIHAD) Memengalah Jihad bukan hanya dengan mengangkat senjata akan tetapi itulah bagian aqidah kunci kemenangan. Mengenai Jihad Bisa dengan perang, seperti ayat diatas. Pun bisa juga Jihad dalam menegakan Ayat-ayat Allah -Al Furqaan (25) : 51-52- semua itu tergantung Situasi dan kondisi. (Lebih lengkap baca bab Li’an dan Jihad Nailul Author Al imam as syaukani) mengenai Wajibnya Jihad ini Tidak bisa diganggu gugat dan harus diajarkan kepada Umat Agar terhindar dari Wahn dan dalam rangka I’dad.

b. Fiqih Bagian dari Tarbiyah.

Fiqih adalah memiliki peranan terpenting dalam Tarbiyah, karena tidak sedikit kelompok yang lebih menitik beratkan kepada Jihad untuk menegakan daulah Islamiyah dan mengenyampingkan masalah fiqh, padahal bagaimana jadinya kalu Daulah belum tegak sedang umat dibiarkan dalam kesesatan, bagaimana kalau orang tersebut meninggal dunia sedangkan daulah islamiyah belum tegak, dan dia sendiri mati dalam keadaan tidak tahu bagaimana menjalankan agamanya diakibatkan para pemimpin mereka menyembunyikan kebenaran.

3. Di Bai’atnya seorang Imam (Mahdi), dan banyaknya peperangan yang dimenangkan olehnya.


Kesimpulan saya

Tanda-tanda kemenangan itu kan muncul dari beberapa hal berikut :

1. Apabila Jumlah kaum Muslimiin yang berkualitas sudah mencapai 1 : 9
2. Apabila Para umara Hizbi bersatu dalam satu ikatan Qur’an dan Sunnah.
3. Di Bai’atnya seorang Imam (Mahdi), dan banyaknya peperangan yang dimenangkan olehnya.

Jumat, 24 Juli 2009

PASCA BOM MARIOT DAN RITZ CARLTON

















PASCA BOM MARIOT DAN RITZ CARLTON

Apakah anda semakin ngeri dan sangsi akan ISLAM ?
Apakah anda menjadi takut ketika akan mendakwahkan Syari’at ISLAM ?

Sedikitnya ada dua dampak besar dari pasca pengeboman hotel J.W Mariot dan hotel Ritz Carlton yaitu : 1. membuart umat yang awam phobia akan makna Jihad dan phobia terhadap apapun bentuk usaha Dakwah untuk penegakan Syari’at Islam. 2. Membuat Para Da’i khawatir dan engan ketika akan mendakwahkan Islam khususnya bab Jihad dan Penegakan Syari’at Islam.

Bagi orang awam dan umat manusia yang tidak mengenal ilmu dan orang non muslim mungkin akan ketakutan dan berprasangka buruk terhadap orang yang berjanggut lebat bergamis, terlebih lagi terhadap orang-orang yang mendakwahkan Jihad dan mendakwahkan untuk ditegakan Syari’at Islam, dengan hanya catatan seperti diatas saja mereka di cap sebagai Teroris.

Dengan adanya Teror bom di Hotel Mariot dan di Ritz carlton pada tanggal 17 Juli 2009 mengharuskan umat islam seluruhnya waspada terhadap pergerakan politik orang-orang anti islam (Anti syari’at Islam) dikarenakan seperti halnya kasus pengeboman yang sudah lalu adalah bertujuan untuk membuat kambing hitam atas nama Islam. Membuat citra islam buruk dan rusak dimata public adalah salah satu maksud dari di proklamirkannya isu terorisme ini.

Para pelaku Teror bom ini sangatlah pantas dikecam oleh seluruh dunia, akan tetapi dapat kita cermati dan mengambil pelajaran dari latar belakang NII Al – Zaytun maka tidaklah mustahil kelompok pembuat terror ini adalah salah satu bidak catur dari para musuh islam untuk semakin menguatkan opini public mengenai adanya kelompok teroris dan dengan tujuan menjauhkan umat dari hakikat tauhid yang sepenuhnya yaitu menegakan syari’at Islam secara Kaffah. Juga dapat kita cermati dari tata cara mereka melakukan terror pun adalah diluar dari perbuatan seorang muslim dan terlihat jelas ereka tidak mengetahui mengenai adab-adab dalam berjihad dan adab dalam berperang.

Adapun dari setiap aksi tentu saja memiliki maksud. Dan kita harus WASPADA pasca pengeboman ini. Seperti kasus WTC maka hanya untuk mencari satu orang osama satu Negara dihancurkan yang hingga sekarang bumi afganistan dijajah hanya karena isu terorisme ini. Pun iraq yang di bohongkan dengan Senjata Pemusnah Masal diluluh lantakan yang padahal Senjata-senjata tersebut tidak pernah ditemukan. Pada terror sebelumnya tahun 2003 pun banyak ulama yang sama sekali tidak terikat dengan jaringan yang mereka sebutkan, ditangkapi! bahkan lebih ngeri lagi hanya dengan isu dukun santet maka banyak ustad dan kiyai yang di tangkap dan dibunuh. Oleh karena itu saudara-saudaraku maka kita harus WASPADA pasca pengeboman ini, mungkin undang-undang subversive versi baru akan di sepakati dan dijadkan sebagai alasan untuk membungkam para ulama dari dakwah yang Haq. Pun mungkin akan banyak ulama atau ustadz yang benar-benar memperjuangkan haq tersebut ditangkap dan dibunuh. Wallahu A’alam. Kita berlindung kepada allah semoga makar mereka allah balas dengan adzab yang pedih dan kita dimenangkan sebagaimana janji Nya.

Bagaimana seharusnya berbuat ?

Utswah dari Nabiyullah Ibrahim As. Dalam surat All Anaam (6) Ayat 79-83

Adalah berlepas diri dari perbuatan syirik dan ahli syirik tersebut. Menentang mereka dan terus berdakwah menjauhkan umat dari kesyirikan meskipun akan ditimpakan kepada kita oleh orang-orang jahil tersebut Intimidasi, siksaan, bahkan mungkin dibunuh. “Seandainya siksaan itu datang atau diriku ini dibunuhnya maka sesungguhnya itu tidaklah terlepas dari Takdir atau Qada dan Qadarnya Allah SWT” “maka mengapakah aku harus takut” terhadap hal tersebut yang suatu hal tersebut datangnya dari Tuhanku Raab semesta alam yang jiwaku ada ditangannya.


79Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan.
80. dan Dia dibantah oleh kaumnya. Dia (Ibrahim) berkata: "Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, Padahal Sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku". dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka Apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?"
81. bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), Padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?
82. orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
83. dan Itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.

Utswah lain Nya adalah dari Ashabul Kahfi. Merekapun berlepas diri dari kesyirikan dan dari para pelaku syirik dan mereka allah tinggikan derajat mereka sehingga kisah mereka tertera didalamal qur’an.

Demikianlah Ikhwan fi sabiilillah diatas adalah Utswah dari orang-orang yang mentauhidkan allah dengan benar-benar memurnikan ketaatan dalam beribadah kepada Nya. Dan allah tinggikan derajat mereka orang-orang yang beriman, para anbiya, nabi Ibrahim dan keturunannya hingga nabi Muhammad saw.

Berantas Kesyirikan, tunduk atas perintah allah dengan memurnikan ketaatan kepadanya atas syari’at dan Dien.

Berjihad adalah meninggikan ayat-ayat allah untuk ditaati dan ditegakan agar manusia mentauhidkan allah.

Senin, 20 Juli 2009

Sayurhaseum Bukan Teroris

Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris
Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris Sayurhaseum Bukan Teroris