Diantara sebagian umat ini ternyata ada yang mencari-cari celah untuk menghancurkan persatuan umat dengan mengatakan bahwa al qur’an ini telah tercemar dan tidak murni lagi dikarenakan telah dirubah isinya disesuaikan dengan kepentingan politk kekuasaan pada waktu pembukuan yang dilakukan oleh Khalifah Usman RA. Dan tidak segan-segan mereka mengatakan bahwa pembukuan itu tidak pernah terjadi.
Diantaranya adalah salah seorang ulama terkemuka kota najef (Iran) Haji Mirza Husain bin Muhammad Taqi An Nuri At Thabrasi, menulis sebuah kitab yang ia beri judul "Fashlul Khithab Fi Itsbati Tahrif Kitab Rabbil Arbab.” Yang berarti “ Keterangan Tuntans Seputar Pembuktian Terjadinya Penyelewengan Pada Kitab Tuhan Para Raja.” Ia mengumpulkan beratus-ratus nukilan dari ulama-ulama dan para mujtahid Syi’ah sepanjang masa. Nukilan-nukilan tersebut memuat penegasan bahwa Al Qur’an Al Karim telah ditambah dan dikurangi.
Buku karya At Thabrasi ini telah diterbitkan di Iran pada tahun 1289 H.kendati ada penentangan dari intern pengikut syi’ah sendiri, dikarenakan mereka menolak untuk dipublikasikannya buku tersebut dan mereka menghendaki agar kitab tandingan dari mushaf usmani yang mereka yakini untuk disembunyikan dari khalayak banyak, tetapi At Thabrasi tetap bersikukuh untuk mempublikasikannya bahkan membuat kitab baru di masa akhir hayatnya yang ia beri judul "Raddu Ba’dhis Syubhaat An Fashlil Khitab Fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbab." Yang artinya “ bantahan terhadap sebagian kitab “Keterangan Tuntas seputar Pembuktian Terjadinya Penyelewengan pada Kitab Tuhan Para Raja”
Penghargaan umat Syi’ah kepada Beliau “At Thabrasi” amatlah agung bahkan At thabrashi di makamkan di komplek pemakaman Al Murthadhowi di kota Najef di singgasana kamar banu Al Uzma binti Sultan An Nashir Lidinillah. Tempat ini adalah teras kamar yang menghadap ke kiblat.teras terletak disebelah kanan pintu masuk kehalaman al murthadhowi dari arah kiblat. Ini adalah tempat paling suci bagi sekte syi’ah. Yaitu merupakan komplek pemakaman keturunan Ali di kota Najef. Bahkan Imam Khomaini pun memuji-muji at thabrasi dan kitabnya tersebut dalam bukunya yang berjudul "Kasful asrar."
Diantara yang menjadi keyakinan mereka adalah bahwa sahnya telah dihapuskannya “Surat Al Wilayah” oleh sohabat RA. Yang sesungguhnya mereka yakini bahwa ayat tersebut adalah mengenai kewalian Ali :
Yang artinya : “ Wahai Orang-orang yang beriman, berimanlah kalian kepada seorang nabi dan wali yang telah kami utus guna menunjukan kepadamu jalan yang lurus……..” “Seorang nabi dan wali, sebagian mereka dan sebagian lainnya adalah sama, sedangkan aku adalah yang maha mengetahui dan yang maha mengenal. Sesungguhnya orang-orang yang memenuhi janji allah akan mendapatkan surga yang penuh dengan kenikmatan. Adapun orang-orang yang dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami, mereka mendustakan ayat-ayat kami, sesungguhnya mereka akan mendapatkan kedudukan yang besar dalam neraka jahannam. Bila diseru kepada mereka : manakah orang-orang yang berbuat lalim lagi mendustakan para rasul ? apa yang menjadikan mereka menyelisihi para rasul? Mereka tidak menyelisihi para rasul melainkan dengan kebenaran, dan tidaklah allah akan menampakan mereka hingga waktu yang dekat. Dan bertasbihlah dengan memuji tuhanmu , sedangkan Ali termasuk para saksi.”
Inilah “Al Qur’an” yang dimiliki kaum syi’ah yang banyak mengandung kesalahan fatal dari segi ilmu nahwu, gaya bahasa yang buruk, lucu, tidak fasih. Ini membuktikan bahwa surat al wilayah ini adalah surat yang ditulis bukan dengan bahasa arab “Non Arab” dan merupakan hasil rekayasa orang-orang non arab Persia yang dungu sehingga mereka mempermalukan diri sendiri dengan penambahan surat ini.
Ustadz Muhammad Ali Su’udi, beliau adalah kepala tim ahli di Depertemen Keadilan di Mesir, dan salah satu murid terdekat Syeikh Muhammad Abduh berhasil menemukan “Mushaf Iran” masih dalam bentuk manuskrip. Mushaf itu merupakan salah satu koleksi orientalis Brin. Beliau berkesempatan umtuk mengabadikan surat tesebut dengan kamera. Di atas teks arabnya terdapat terjemahan dengan bahasa iran (Persia), persis seperti yang dimuat oleh At Thabrasi dalam bukunya “Fashlul Khitab Fi Itsbati Tahrif Kitab Rabbil Arbab.”
Surat ini juga dapat ditemukan dalam buku mereka yang berjudul Dabistan Madzahib dengan bahasa Iran (Persia) karya Muhsin Fani Al Kasymiri. Buku ini dicetak di Iran dalam beberapa edisi.
Surat palsu (Al wilayah) ini juga di nukil oleh seorang orientalis bernama Noldekh dalam bukunya Tarikh Al Mashahif (Sejarah Mushaf-Mushaf) jilid II, halaman 102, diterbitkan oleh Harian Asia-Prancis apada tahun 1842 M, halaman 431-439.
Selain berdalil dengan Surat Al Wilayah atas terjadinya perubahan pada Al Qur’an At Thabrasi juga berdalil dengan riwayat yang termaktub pada kitab “Al Kafi” edisi tahun 1287 H, halaman 289, Iran. Yang berbunyi :
“ Sejumlah ulama kita (Syi’ah) meriwayatkan dari Sahl bin Ziyad, dari Muhammad bin Sulaiman, dari sahabatnya, dari Abu Hasan ‘alaihi salam (maksudnya abu hasan kedua, yaitu Ali bin Musa Ar Ridha-wafat tahun 206) ia menuturkan : dan aku berkata kepadanya, “Semoga aku menjadi penebusmu. Kita mendengar ayat-ayat alqur’an yang tidak ada pada al qur’an yang ada, dan kita juga tidak dapat membacanya sebagaimana yang kami dengar dari anda. Apakah kami berdosa ?” beliau menjawab, “Tidak. Bacalah sebagaimana yang pernah kalian pelajari karena suatu saat nanti akan datang orang yang mengajari kalian.”
Kitab Al Kafi - Al Kulani ini menurut sekte Syi’ah sama kedudukannya dengab “Shahih Bukhari” menurut kaum muslimin.
Tidak diragukan lagi bahwa ucapan ini merupakan hasil rekayasa kaum Syi’ah atas nama imam mereka Ali Bin Musa Ar Ridha. Walaupun demikian ucapan ini merupakan fatwa bahwa penganut syi’ah tidak berdosa bila membaca Al Qur’an sebagaimana yang dipelajari oleh masyarakat umum dari mushaf usmani. Hal ini karena orang-orang tertentu dari kalangan syi’ah akan saling mengajarkan kepada sebagian lainnya hal-hal yang menyelisihi mushaf mereka. Diantaranya berupa beberapa hal yang mereka yakini ada atau pernah ada pada mushaf-mushaf imam mereka dari kalangan ahlul bait.
Bukan hanya At Thabrasi, adalah ulama-ulama terkemuka syi’ah lainnya pun memiliki aqidah seperti ath tabrasi yaiti meyakini bahwa Al Qur’an mushaf usmani ini sudah diselewengkan dan tidak asli lagi. Seperti : Al Kulani, Al Kummi, juga syaikh Mufid.
Walaupun kaum syi’ah mengesankan bahwa mereka berlepas diri dari buku An Nuri At Thabrasi dalam rangka menerapkan ideology taqiyah, tetapi buku tersebut memuat beratus-ratus nukilan dari ulama mereka yang terdapat dalam kitab-kitab mereka yang terpercaya. Ini adalah salah satu bukti nyata bahwa mereka meyakini dan beriman terhadap adanya penyelewengan.
Diantara ayat, yang telah dihapuskan menurut sekte syi’ah adalah :
Wa ja’alna ‘aliyyan sohroka
Dan kami jadikan Ali sebagai menantumu.
Mereka beranggapan bahwa ayat ini telah dihapuskan dari surat “Alam Nashrah.
Mereka tidak malu dengan anggapan ini, padahal mereka mengetahui bahwa surat”alam narah” adalah surat makiyah, sedangkan yang menjadi menantu beliau rasulullah saw saat itu adalah Al Ash bin Al Rabi’ Al Umawi. Al Ash ini pernah dipuji oleh rasulullah saw. Diatas mimbar masjid Nabawi As Syarif tatkala sahabat Ali ra berencana menikahi anak wanita abu jahal sebagai madu bagi istrinya (Fatimah ra). Oleh sebab itu, fatimah mengadukan suaminya, ali bin abi thalib, kepada ayahnya. Rasulullah saw.
Apabila sahabat nabi adalah menantu nabi saw, karena menikahi salah satu putrid rasulullah saw, maka allah telah menjadikan Usman bin Affan sebagai menantu rasulullah yang menikahi dua putrinya. Rasulullah saw bersabda kepada usman ketika istri keduanya (Ummu Kultsum) meninggal dunia :
Lau kaanat lanaa tsaalisatun lajawajna kahaa”
“Andai aku memiliki anak wanita ketiga, niscaya akan aku nikahkan engkau dengannya”
Bahkan rasulullah menggelari usman bin affan ra dengan sebutan “Dzun Nurain” yaitu seseorang yang dianugrahkan kepadanya dua cahaya.
At Thabrasi mengemukakan “Ayat yang sebenarnya adalah apa yang telah aku kemukakan kepadamu bahwa kaum munafiqin telah menghapus sebagian dari perintah dan kisah dari al qur’an yang terletak diantara firman allah tentang anak-anak yatim hingga firman allah tentang menikahi wanita. Mereka menghapus lebih dari sepertiga Al Qur’an” yang dimaksud kaum munafiqin oleh at thabrasi diatas adalah : para sahabat rasulullah saw yang telah mengumpulkan teks-teks al qur’an.
Tidak diragukan lagi bahwa kisah tersebut adalah dusta yang diada-adakan oleh mereka atas sahabat Ali ra. Buktinya adalah beliau sendiri (ali ra) sepanjang masa kepemimpinannya menjadi khalifah tidak pernah mengumumkan kepada kaum muslimin bahwa sepertiga Al Qur’an telah dihapus dari mushaf yang sebenarnya. Beliau juga tidak memerintahkan kaum muslimin untuk menulisnya kembali, mempelajari, atau mengamalkan kandungannya. Atau dengan kata lain Khalifa Ali ra pada waktu itu tidak menyempurnakan mushaf al qur’an Yang padahal ali mampu untuk melakukannya dengan kekuasaannya pada waktu itu. yang menurut sangkaan mereka (Syi’ah) telah dihapuskan sepertiganya.
Bagaimana Khalifah Ali ra bias membiarkan hal tersebut ?
andai Ali ra mempunyai mushaf lain atau menyempurnakan mushaf usmani tentu saja mushaf tersebut akan di sampaikan kepada umat untuk diamalkan dan disebar luaskan.
Teks dari abu ja’far yang lebih nyata kedustaanya (berdusta atas namanya) yaitu teks dari anak beliau, Ja’far As Shadiq rahimahullah ta ‘ala.
“ Dari Abi Bashir, ia menuturkan : Aku pernah masuk menemui abu abdillah (Ja’far As Shadiq)……Abu abdillah berkata, “dan sesungguhnya kami memiliki mushaf Fatimah itu. Ia menjawab, Mushaf seperti Al Qur’an kalian itu, tiga kali lipat (tebalnya) sungguh, demi allah, tidak ada didalamnya satu huruf pun dari al Qur’an kalian.”
Inilah kedustaan lainnya yang diatas namakan imam-imam ahlul bait yang telah ada sejak zaman dahulu. Teks-teks ini telah dibukukan oleh Muhammad bin Ya’kub Al Kulani Ar Razi dalam bukunya, Al Kafi. Lebih dari seribu tahun silam. Bahkan, teks-teks tersebut telah ada jauh hari sebelumnya karena ia menukil dari pendahulunya, para tokoh pendusta, para arsitek paham syi’ah.
Semasa Spanyol berada dibawah kekuasaan bangsa arab dan Islam. Imam Abu Muhammad ibnu Hazm beradu argumentasi dengan para pendeta nasrani melalui teks-teks kitabmereka. Beliau berhasil membuktikan kepada mereka bahwa kitab mereka telah mengalami penyelewengan dan bahkan kitab mereka yang aslinya telah hilang. Menyikapi hal itu para pendeta tersebut menghujat balik beliau , bahwa kaum syi’ah telah menetapkan bahwa Al Qur’an juga mengalami penyelewengan. Mendengar jawaban yang demikian, Ibnu Hazm menjawab bahwa anggapan kaum Syi’ah tidak dapat dijadikan sebagai bukti untuk memojokan al qur’an tidak juga umat islam karena kaum syi’ah tidak termasuk umat Islam/. (silahkan baca Al Fishal Fi Al Milal wa An nIhal karya Ibnu Hazm)
Adalah fakta yang memang berbahaya bahwa memang baik syi’ah imamiah ataupun syi’ah ja’fariyah atau disebut juga itsna a’sy ariyyah yang katanya aliran syiah yang paling dekat dengan shlu sunnah. Ini tetaplah dengan aqidahnya bahwa mereka berkeyakinan bahwa al qur’an ini telah tercemar.
Adakah fitnah yang lebih besar menimpa para sahabat dan kaum mukminin dari pada fitnah ini ?
Kesimpulan :
Menurut Sekte Syi’ah ada dua al qur’an. Yang pertama adalah al qur’an yang telah tersebar luas dan diketahui oleh setuiap orang, dan yang kedua adalah al qur’an yang khusus yang tersembunyi yang diantara isinya adalah Surat Al Wilayah. Dalam hal ini, mereka mengamalkan pesan rekayasa yang diatas namakan salah seorang imam mereka, yaitu Ali bin Musa Ar Ridha : “Bacalah sebagaimana yang pernah kalian pelajari karena suatu saat nanti akan datang orang yang mengajari kalian.
Sumber : Buku “Mungkinkah Syi’ah dan Sunnah bersatu” Syaikh Muhibbudin Al Khatib.
Silahkan kunjungi pula : http://www.hakekat.com
Yang artinya : “ Wahai Orang-orang yang beriman, berimanlah kalian kepada seorang nabi dan wali yang telah kami utus guna menunjukan kepadamu jalan yang lurus……..” “Seorang nabi dan wali, sebagian mereka dan sebagian lainnya adalah sama, sedangkan aku adalah yang maha mengetahui dan yang maha mengenal. Sesungguhnya orang-orang yang memenuhi janji allah akan mendapatkan surga yang penuh dengan kenikmatan. Adapun orang-orang yang dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami, mereka mendustakan ayat-ayat kami, sesungguhnya mereka akan mendapatkan kedudukan yang besar dalam neraka jahannam. Bila diseru kepada mereka : manakah orang-orang yang berbuat lalim lagi mendustakan para rasul ? apa yang menjadikan mereka menyelisihi para rasul? Mereka tidak menyelisihi para rasul melainkan dengan kebenaran, dan tidaklah allah akan menampakan mereka hingga waktu yang dekat. Dan bertasbihlah dengan memuji tuhanmu , sedangkan Ali termasuk para saksi.”
Inilah “Al Qur’an” yang dimiliki kaum syi’ah yang banyak mengandung kesalahan fatal dari segi ilmu nahwu, gaya bahasa yang buruk, lucu, tidak fasih. Ini membuktikan bahwa surat al wilayah ini adalah surat yang ditulis bukan dengan bahasa arab “Non Arab” dan merupakan hasil rekayasa orang-orang non arab Persia yang dungu sehingga mereka mempermalukan diri sendiri dengan penambahan surat ini.
Ustadz Muhammad Ali Su’udi, beliau adalah kepala tim ahli di Depertemen Keadilan di Mesir, dan salah satu murid terdekat Syeikh Muhammad Abduh berhasil menemukan “Mushaf Iran” masih dalam bentuk manuskrip. Mushaf itu merupakan salah satu koleksi orientalis Brin. Beliau berkesempatan umtuk mengabadikan surat tesebut dengan kamera. Di atas teks arabnya terdapat terjemahan dengan bahasa iran (Persia), persis seperti yang dimuat oleh At Thabrasi dalam bukunya “Fashlul Khitab Fi Itsbati Tahrif Kitab Rabbil Arbab.”
Surat ini juga dapat ditemukan dalam buku mereka yang berjudul Dabistan Madzahib dengan bahasa Iran (Persia) karya Muhsin Fani Al Kasymiri. Buku ini dicetak di Iran dalam beberapa edisi.
Surat palsu (Al wilayah) ini juga di nukil oleh seorang orientalis bernama Noldekh dalam bukunya Tarikh Al Mashahif (Sejarah Mushaf-Mushaf) jilid II, halaman 102, diterbitkan oleh Harian Asia-Prancis apada tahun 1842 M, halaman 431-439.
Selain berdalil dengan Surat Al Wilayah atas terjadinya perubahan pada Al Qur’an At Thabrasi juga berdalil dengan riwayat yang termaktub pada kitab “Al Kafi” edisi tahun 1287 H, halaman 289, Iran. Yang berbunyi :
“ Sejumlah ulama kita (Syi’ah) meriwayatkan dari Sahl bin Ziyad, dari Muhammad bin Sulaiman, dari sahabatnya, dari Abu Hasan ‘alaihi salam (maksudnya abu hasan kedua, yaitu Ali bin Musa Ar Ridha-wafat tahun 206) ia menuturkan : dan aku berkata kepadanya, “Semoga aku menjadi penebusmu. Kita mendengar ayat-ayat alqur’an yang tidak ada pada al qur’an yang ada, dan kita juga tidak dapat membacanya sebagaimana yang kami dengar dari anda. Apakah kami berdosa ?” beliau menjawab, “Tidak. Bacalah sebagaimana yang pernah kalian pelajari karena suatu saat nanti akan datang orang yang mengajari kalian.”
Kitab Al Kafi - Al Kulani ini menurut sekte Syi’ah sama kedudukannya dengab “Shahih Bukhari” menurut kaum muslimin.
Tidak diragukan lagi bahwa ucapan ini merupakan hasil rekayasa kaum Syi’ah atas nama imam mereka Ali Bin Musa Ar Ridha. Walaupun demikian ucapan ini merupakan fatwa bahwa penganut syi’ah tidak berdosa bila membaca Al Qur’an sebagaimana yang dipelajari oleh masyarakat umum dari mushaf usmani. Hal ini karena orang-orang tertentu dari kalangan syi’ah akan saling mengajarkan kepada sebagian lainnya hal-hal yang menyelisihi mushaf mereka. Diantaranya berupa beberapa hal yang mereka yakini ada atau pernah ada pada mushaf-mushaf imam mereka dari kalangan ahlul bait.
Bukan hanya At Thabrasi, adalah ulama-ulama terkemuka syi’ah lainnya pun memiliki aqidah seperti ath tabrasi yaiti meyakini bahwa Al Qur’an mushaf usmani ini sudah diselewengkan dan tidak asli lagi. Seperti : Al Kulani, Al Kummi, juga syaikh Mufid.
Walaupun kaum syi’ah mengesankan bahwa mereka berlepas diri dari buku An Nuri At Thabrasi dalam rangka menerapkan ideology taqiyah, tetapi buku tersebut memuat beratus-ratus nukilan dari ulama mereka yang terdapat dalam kitab-kitab mereka yang terpercaya. Ini adalah salah satu bukti nyata bahwa mereka meyakini dan beriman terhadap adanya penyelewengan.
Diantara ayat, yang telah dihapuskan menurut sekte syi’ah adalah :
Wa ja’alna ‘aliyyan sohroka
Dan kami jadikan Ali sebagai menantumu.
Mereka beranggapan bahwa ayat ini telah dihapuskan dari surat “Alam Nashrah.
Mereka tidak malu dengan anggapan ini, padahal mereka mengetahui bahwa surat”alam narah” adalah surat makiyah, sedangkan yang menjadi menantu beliau rasulullah saw saat itu adalah Al Ash bin Al Rabi’ Al Umawi. Al Ash ini pernah dipuji oleh rasulullah saw. Diatas mimbar masjid Nabawi As Syarif tatkala sahabat Ali ra berencana menikahi anak wanita abu jahal sebagai madu bagi istrinya (Fatimah ra). Oleh sebab itu, fatimah mengadukan suaminya, ali bin abi thalib, kepada ayahnya. Rasulullah saw.
Apabila sahabat nabi adalah menantu nabi saw, karena menikahi salah satu putrid rasulullah saw, maka allah telah menjadikan Usman bin Affan sebagai menantu rasulullah yang menikahi dua putrinya. Rasulullah saw bersabda kepada usman ketika istri keduanya (Ummu Kultsum) meninggal dunia :
Lau kaanat lanaa tsaalisatun lajawajna kahaa”
“Andai aku memiliki anak wanita ketiga, niscaya akan aku nikahkan engkau dengannya”
Bahkan rasulullah menggelari usman bin affan ra dengan sebutan “Dzun Nurain” yaitu seseorang yang dianugrahkan kepadanya dua cahaya.
At Thabrasi mengemukakan “Ayat yang sebenarnya adalah apa yang telah aku kemukakan kepadamu bahwa kaum munafiqin telah menghapus sebagian dari perintah dan kisah dari al qur’an yang terletak diantara firman allah tentang anak-anak yatim hingga firman allah tentang menikahi wanita. Mereka menghapus lebih dari sepertiga Al Qur’an” yang dimaksud kaum munafiqin oleh at thabrasi diatas adalah : para sahabat rasulullah saw yang telah mengumpulkan teks-teks al qur’an.
Tidak diragukan lagi bahwa kisah tersebut adalah dusta yang diada-adakan oleh mereka atas sahabat Ali ra. Buktinya adalah beliau sendiri (ali ra) sepanjang masa kepemimpinannya menjadi khalifah tidak pernah mengumumkan kepada kaum muslimin bahwa sepertiga Al Qur’an telah dihapus dari mushaf yang sebenarnya. Beliau juga tidak memerintahkan kaum muslimin untuk menulisnya kembali, mempelajari, atau mengamalkan kandungannya. Atau dengan kata lain Khalifa Ali ra pada waktu itu tidak menyempurnakan mushaf al qur’an Yang padahal ali mampu untuk melakukannya dengan kekuasaannya pada waktu itu. yang menurut sangkaan mereka (Syi’ah) telah dihapuskan sepertiganya.
Bagaimana Khalifah Ali ra bias membiarkan hal tersebut ?
andai Ali ra mempunyai mushaf lain atau menyempurnakan mushaf usmani tentu saja mushaf tersebut akan di sampaikan kepada umat untuk diamalkan dan disebar luaskan.
Teks dari abu ja’far yang lebih nyata kedustaanya (berdusta atas namanya) yaitu teks dari anak beliau, Ja’far As Shadiq rahimahullah ta ‘ala.
“ Dari Abi Bashir, ia menuturkan : Aku pernah masuk menemui abu abdillah (Ja’far As Shadiq)……Abu abdillah berkata, “dan sesungguhnya kami memiliki mushaf Fatimah itu. Ia menjawab, Mushaf seperti Al Qur’an kalian itu, tiga kali lipat (tebalnya) sungguh, demi allah, tidak ada didalamnya satu huruf pun dari al Qur’an kalian.”
Inilah kedustaan lainnya yang diatas namakan imam-imam ahlul bait yang telah ada sejak zaman dahulu. Teks-teks ini telah dibukukan oleh Muhammad bin Ya’kub Al Kulani Ar Razi dalam bukunya, Al Kafi. Lebih dari seribu tahun silam. Bahkan, teks-teks tersebut telah ada jauh hari sebelumnya karena ia menukil dari pendahulunya, para tokoh pendusta, para arsitek paham syi’ah.
Semasa Spanyol berada dibawah kekuasaan bangsa arab dan Islam. Imam Abu Muhammad ibnu Hazm beradu argumentasi dengan para pendeta nasrani melalui teks-teks kitabmereka. Beliau berhasil membuktikan kepada mereka bahwa kitab mereka telah mengalami penyelewengan dan bahkan kitab mereka yang aslinya telah hilang. Menyikapi hal itu para pendeta tersebut menghujat balik beliau , bahwa kaum syi’ah telah menetapkan bahwa Al Qur’an juga mengalami penyelewengan. Mendengar jawaban yang demikian, Ibnu Hazm menjawab bahwa anggapan kaum Syi’ah tidak dapat dijadikan sebagai bukti untuk memojokan al qur’an tidak juga umat islam karena kaum syi’ah tidak termasuk umat Islam/. (silahkan baca Al Fishal Fi Al Milal wa An nIhal karya Ibnu Hazm)
Adalah fakta yang memang berbahaya bahwa memang baik syi’ah imamiah ataupun syi’ah ja’fariyah atau disebut juga itsna a’sy ariyyah yang katanya aliran syiah yang paling dekat dengan shlu sunnah. Ini tetaplah dengan aqidahnya bahwa mereka berkeyakinan bahwa al qur’an ini telah tercemar.
Adakah fitnah yang lebih besar menimpa para sahabat dan kaum mukminin dari pada fitnah ini ?
Kesimpulan :
Menurut Sekte Syi’ah ada dua al qur’an. Yang pertama adalah al qur’an yang telah tersebar luas dan diketahui oleh setuiap orang, dan yang kedua adalah al qur’an yang khusus yang tersembunyi yang diantara isinya adalah Surat Al Wilayah. Dalam hal ini, mereka mengamalkan pesan rekayasa yang diatas namakan salah seorang imam mereka, yaitu Ali bin Musa Ar Ridha : “Bacalah sebagaimana yang pernah kalian pelajari karena suatu saat nanti akan datang orang yang mengajari kalian.
Sumber : Buku “Mungkinkah Syi’ah dan Sunnah bersatu” Syaikh Muhibbudin Al Khatib.
Silahkan kunjungi pula : http://www.hakekat.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar