Jumat, 28 Agustus 2009

Harga Sebuah Nyawa.















Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. Al baqarah (2) : 207.

Daiantara manusia ada yang rela mengorbankan nyawanya demi seorang gadis yang dicintainya diatas tali gantungan atau minum baygon bahkan ada yang merelakan semua waktu loyaliti dan hidupnya kepada bosnya diperusahaan tempat dia bekerja dengan anggapan bahwa dia dan keluarganya hidup darinya, pun ada yang rela menyerahkan semuanya termasuk nyawanya demi tanah airnya yang tercinta untuk sebuah kemerdekaan. Akan tetapi adakah orang yang rela mengorbankan hartanya jiwanya untuk menegakan ayat-ayat allah dan menempatkan nyawanya di ujung pedang musuh ditengah pertempuran hanya semata-mata untuk mencari ridha allah swt.

Asbabun nujul ayat

Menurut Ibnu Abbas, Anas, Sa’id ibnul Musayyab, Abu usman An Nahdi, Ikrimah, dan sejumlah ulama lainnya, adalah ayat ini diturunkan berkenaan dengan Suhaib ibnu Sinan Ar Rumi. Demikian itu terjadi ketika suhaib telah masuk islam di mekah dan bermaksud untuk hijrah, lalu ia dihalang-halangi oleh orang-orang kafir mekah. Kemudian suhaib memberikan semua harta bendanya kepada kafir quraisy dengan syarat agar dirinya di biarkan pergi untuk mengikuti jejak rasulullah saw. Hijrah ke madinah. Lalu turunlah ayat ini, dan umar ibnul khatab beserta sejumlah sahabat lainnya menyambut kedatangannya dipinggiran kota madinah, lalu mereka mengatakan kepadannya, “Alangkah beruntungnya perniagaanmu.” Suhaib berkata kepada mereka, “Demikianlah pula kalian, aku tidak akan membiarkan allah merugikan perniagaan kalian dan apa yang kulakukan itu tidak ada apa-apanya.” Kemudian diberitakan kepadanya bahwa allah telah menuurunkan ayat ini berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Menurut suatu riwayat, rasulullah saw. Bersabda kepada Suhaib :
Robihal bai’a Shuhaib” yaitu Suhaib beruntung dalam perniagaannya.

Menurut kebanyakan mufassirin, ayat ini diturunkan berkenaan dengan semua mujahid yang berjuang dijalan allah. Seperti pengertian yang terkandung didalam firman Nya :

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. At Taubah (9) : 111

Ketika Hisyam ibnu Amir maju menerjang kedua sayap barisan musuh, sebagian orang memprotes perbuatannya itu (dan mengatakan bahwa ia menjatuhkan dirinya dalam kebinasaan). Maka umar ibnul khatab dan abu hurairah serta selain keduannya membantah protes tersebut, lalu membaca ayat ini.

dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. Al Baqarah (2) : 206

dengan kata lain ayat ini asalnya bersifat khusus akan tetapi kemudian menjadi bersifat umum.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. Al Baqarah (2) : 214

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. Ali Imran (3) : 142

Abdurahman bin auf adalah sahabat rasulullah yang banyak sekali jasanya baik dengan hartannya ataupun jiwanya yang dia serahkan di ujung pedang untuk berperang melawan kaum musrikin. Diceritakan bahwa abdurahman bin auf ini meskipun telah mengikuti banyak peperangan akan tetapi beliau tidak kunjung jua menemukan cita-citanya yaitu untuk syahid, meskipun bicaranya menjadi kelu dikarenakan lidahnya tertebas pedang pada waktu peperangan bahkan berjaalanpun menjadi sulit dikarenakan berperang fii sabiilillah akan tetapi beliau belum jua menemui syahidnya.

Dari ‘Aisyah ra berkata : Sesungguhnya rasulullah bersabda “Abdullah Ibnu Mas’ud Masuk surga dengan Merangkak”

Mendengar berita tersebut maka Abdurahman bin auf senan tiasa menangis hingga akhir ajalnya yang merindukan syahid.

Maka sesungguhnya apa yang kita korbankan belumlah bisa menandingi apa yang telah dikorbankan oleh Abdullah ibnu mas’ud, dan apakah kita akan sombong dan sudahkah kita yakin bahwa kita akan masuk surga. Sejauh mana kita sudah memperjuangkan ayat-ayat allah ?

AMMAR, IBU BAPAKNYA, DAN SAUDARA LAKI – LAKINYA

Ammar bin Yasir, bapaknya (Yasir), ibunya (Samiyyah), serta saudara laki-lakinya (Abdullah atau Anis) adalah budak Amm bin Hisyam (Abu Jahal). Sesudah diketahui oleh tuannya dan para pemuka musyrik Quraisy bahwa mereka itu sudah mengikuti seruan Nabi saw. maka oleh tuannya mereka dianiaya dengan kejam.

Masing-masing mereka dipanggang di atas api yang menyala-nyala oleh Abu Jahal dan kawan-kawannya. Karena hebat dan panasnya siksaan itu, Nabi saw. datang melihat untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat mereka sedang disiksa. Nabi saw. bersabda,

"Sabarlah wahai keluarga Yasir! Sabarlah wahai keluarga Yasir! Karena se-sungguhnya yang dijanjikan kepada kalian ialah surga."
Kemudian beliau berdoa kepada Allah,
Ya, Allah, berilah ampunan untuk keluarga Yasir!"
Karena mereka terus-menerus dipanggang di atas api yang menyala-nyala, tidak berapa lama kemudian matilah Yasir. Sesudah itu, menyusullah saudara laki-lakinya, Anis, sedang Samiyyah, ibu Ammar, dibebaskan dan diangkat dari siksaan yang amat kejam itu. Sedangkan, Ammar masih terus disiksa di atas api yang menyala-nyala Oleh sebab itu, Nabi saw. berkata,
"Hai api Jadilah kamu dingin lagi selamat, sebagaimana keadaan kamu dahulu atas Nabi Ibrahim."
Akhirnya Ammar, menurut riwayat, tidak merasakan lagi panasnya api itu sedikit pun. Adapun ibunya, Samiyyah, sesudah dilepaskan dari panggangan api tadi, ditanya oleh Abu Jahal, "Maukah kamu kembali kepada agamamu yang lama dan mendustakan Muhammad?"
Pertanyaan itu dijawabnya dengan tegas serta ikhlas, "Aku tetap mengikuti Nabi Muhammad dan aku sungguh-sungguh percaya kepadanya."
Abu Jahal berkata, "Ya, sudah tentu kamu mengikuti Muhammad karena kamu cinta kepadanya serta kepada kebagusan rupanya."
Kemudian Abu Jahal dengan para pemuka Quraisy, mengikat dan menelan-janginya, lalu dibawa ke padang pasir, dan di sana kemaluannya dilukai dengan senjata tajam hingga terbelah. Oleh sebab itu, tewaslah ia ketika itu juga dalam keadaan yang sangat mengerikan bagi tiap-tiap orang yang berperikemanusiaan!
Adapun keadaan Ammar, sesudah dirasakan panggangan api terhadap diri-nya yang tidak menyebabkannya mati, ia pun dianiaya dengan cara lain. Abu Jahal dan kawan-kawannya memaksa Ammar memakai baju besi di waktu hari sedang panas terik. Karena tak tahan lagi, ia pura-pura mau kembali memeluk agamanya dahulu dan menuruti kehendak Abu Jahal. Akan tetapi, di dalam hati sanubarinya ia tetap mengikuti seruan Nabi saw. dan sungguh beriman kepadanya. Maka, sesudah ia kelihatan mau kembali mengikuti agamanya yang dahulu, dilepaskan-lah ia dari penganiayaan yang sangat berat oleh Abu Jahal.
Para sahabat Nabi saw. sangat terperanjat mendengar keadaan Ammar. Se-bagian dari mereka menyangka bahwa ia telah kembali memeluk agamanya yang lama, menjadi musyrik dan menyembah berhala. Sebab itu, di antara mereka ada yang menyampaikan hal itu kepada Nabi saw. karena mereka mengira bahwa Nabi saw. belum mendengar tentang hal Ammar tersebut Padahal sesungguhnya, Nabi saw. telah mendengarnya lebih dulu. Karena itu, kepada orang yang mengatakan bahwa Ammar telah murtad, kembali menjadi musyrik atau kafir, beliau bersabda,

"Ammar! Allah telah mencampur imannya di antara ujung tulang kepalanya (ujung rambutnyaj sampai ujung telapak kakinya dan Allah telah mencampur imannya dengan dagingnya dan darahnya."

Jadi, sekalipun banyak dari orang-orang Islam pada waktu itu menyatakan dan menyangka bahwa Ammar sudah musyrik lagi, ia telah murtad, menjadi kafir
lagi dan sebagainya, tetapi Nabi saw. menetapkan dengan tegas bahwa ia adalah seorang yang tetap beriman kepada seruannya. Ammar tetap beriman kepada Allah SWT sebab Nabi sudah menerima wahyu dari Allah, yang berbunyi,

"Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat ke-murkaan Allah) kecuali orangyang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azabyang besar. " (an-Nahl: 106)

Selanjutnya, Ammar tetap menjadi seorang yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah dan Utusan-Nya, sampai datang ajalnya!


Mushab bin Umair
Beliau adalah sahabat yang mulia, bernama Mush’ab bin ‘Umair –semoga Allah meridloinya-, atau biasa dipanggil dengan Mush’ab Al-Khair, saat mudanya dan sebelum masuk Islam merupakan seorang pemuda yang ganteng, gagah dan kaya raya, selalu memakai pakaian yang mewah dan dikenal oleh masyarakat Mekkah dengan penampilannya yang selalu necis dan style, sedangkan bapak dan ibunya merupakan orang terpandang yang terkaya dari penduduk Mekkah yang kaya raya, dan keduanya sangat mencintainya, karena itu setiap keinginannya selalu dipenuhi dan permintaannya selalu dituruti.

Mush’ab mendengar apa yang telah didengar oleh penduduk Mekkah dari seruan (dakwah) Nabi Muhammad saw untuk beribadah kepada Allah SWT saja dan meninggalkan penyembahan berhala yang tidak bisa memberikan manfaat dan mudhorat, memberikan persamaan antara manusia dan menyeru untuk berbuat dengan akhlak yang mulia, hingga jiwanya pun tergerak dan batinnya bergolak ingin mengetahui lebih jauh agama yang baru didengarnya ini, hingga, tidak beberapa lama beliau segera menemui Rasulullah saw di tempat Darul Arqom bin Abi Al-Arqom dan mengiklankan diri untuk masuk Islam.

Adapun ibunya Khonnas binti Malik memiliki kewibawaan yang tinggi dan Mush’ab pun sangat menghormatinya, setelah masuk Islam beliau merasa khawatir berita ini tersebar dan sampai kepada ibunya, sehingga beliau merasa perlu menyembunyikan perihal dirinya telah masuk Islam hingga datang waktu yang tepat seperti yang telah Allah tetapkan ketentuannya.

Beliau selalu datang kepada Nabi saw di dar el-arqom untuk menunaikan sholat dan mendengarkan ayat-ayat Allah, namun pada suatu hari Utsman bin Tolhah melihat dirinya sedang menunaikan sholat bersama Rasulullah saw, akhirnya diapun pergi kepada ibunya dan mengabarkan apa yang disaksikannya, maka terbanglah jiwanya hingga diri sang bunda dan kaumnya sangat marah terhadapnya, namun pemuda yang beriman dan teguh keimanannya tetap tenang berdiri dihadapan mereka sambil membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dengan harapan Allah SWT membukakan hati mereka dengannya, namun Allah SWT berkehendak lain, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menahan dan mengurung beliau serta menyiksanya, namun beliau tetap bersabar dan menganggapnya semua ini merupakan perjuangan di jalan Allah.

Suatu hari ibunya tidak memberikan kepadanya makanan dan melarang memakan makanan miliknya bagi siapa yang mengecam dan mengejek tuhan-tuhannya walaupun dia anaknya sendiri, bahkan dia mengusirnya dari rumahnya sambil berkata : “Pergilah engkau menuruti urusanmu dan jangan anggap lagi saya sebagai ibumu”. Walaupun dengan tindakan yang sedemikian keras dan kejamnya Mush’ab tetap berusaha mendekati ibunya dan berkata kepadanya : “Wahai ibuku, saya punya nasehat untuk engkau, dan atasmulah kasih sayang, maka bersaksilah bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan bahwasannya Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya”. Maka beliaupun menjawab dengan kemarahan :”saya bersumpah untuk tuhan-tuhan, saya tidak akan masuk ke dalam agamamu hingga saya menjadi hina dan akal saya menjadi lemah”.

Saat Mush’ab mendengar sebagian kaum muslimin keluar melakukan hijrah ke Habsyah, beliaupun ikut melakukannya, kemudian kembali ke Mekkah bersama mereka yang kembali kesana, dan saat itupun kaumnya melihat keadaan beliau setelah kembali hingga hati mereka menjadi trenyuh dan merasa kasihan dan tidak melakukan penyiksaan kembali.

Dan setelah berlangsungnya bai’at pertama dan kedua, seseorang dari kaum Anshor datang kepada Nabi saw meminta untuk diutus salah seorang dari sahabat yang pandai membaca Al-Qur’an untuk mengajarkan kepada mereka tentang Al-Qur’an dan perkara agama. Maka Rasulullah saw memilih Mush’ab untuk menjadi duta pertama keluar Mekkah, dan orang yang pertama kali hijrah ke Madinah Al-Munawwaroh, dan Mush’ab pun akhirnya meninggalkan kota Mekkah untuk yang kedua kalinya mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya, dan mengemban amanat da’wah kepada Allah, dan memohon pertolongan dari Allah akan ni’mat yang dikaruniakan kepadanya berupa akal yang jernih, akhlak yang mulia, hingga penduduk Madinah merasa takjub dengan kezuhudannya dan keikhlasannya sampai mereka mau masuk kepada agama Allah.

Mush’ab menyeru manusia kepada agama Allah dengan penuh hikmah dan mau’idzah hasanah (pelajaran yang baik), sehingga banyak dari para pemuka penduduk Madinah yang masuk Islam karenanya, seperti : Asid bin Khadir dan Sa’ad bin Mu’adz.

Hari-hari pun berlalu hingga berganti minggu, bulan dan tahun, dan akhirnya Rasulullah saw dan sahabatnya melakukan hijrah ke Madinah, sedangkan orang-orang suku Quraisy naik pitam hingga mereka menyiapkan bala tentara mereka untuk menyerang kaum muslimin, dan peperanganpun terjadi, pasukan muslim bertemu dengan orang-orang kafir dalam perang Badr, hingga akhirnya kaum muslimin memenangkan perang tersebut. Kemudian datang perang Uhud dan Rasulullah saw memilih Mush’ab untuk membawa bendera, kemudian perangpun berkecamuk dengan dahsyatnya, dan pada mulanya kaum muslimin memenangkan perang tersebut namun seketika menjadi suatu kekalahan saat para pemanah melanggar instruksi Rasulullah saw, mereka turun dari gunung dan berebut mengambil harta rampasan, hingga orang-orang musyrik berbalik menyerang kaum muslimin sehingga barisan muslimin bercerai berai, sedangkan pada saat itu para musuh berkonsentrasi ingin membunuh Rasulullah saw hingga mereka selalu mencari dan mengintai beliau, namun Mush’ab mengetahui kejadian tersebut hingga secepat kilat beliau berteriak dan melakukan putaran dan menyerang guna mengalihkan musuh kepada rencana busuk mereka untuk membunuh Rasulullah saw, beliau masuk ke tengah-tengah barisan musuh, lalu salah seorang dari mereka menebas tangan kanannya hingga putus, kemudian Mush’ab memegang bandera dengan tangan kirinya dan ditebas lagi hingga putus, akhirnya beliau berusaha meraih bendera tersebut dengan dadanya sambil berkata : “Tidaklah Muhammad itu orang lain kecuali Utusan Allah dan telah berlalu sebelumnya para Rasul”. Akhirnya musuh yang sedang kesetanan saat itu memukulnya dan membunuhnya hingga Mush’abpun syahid.

Setelah perang Uhud berakhir Rasulullah saw dan para sahabatnya melakukan pemeriksaan tempat kejadian perang, guna mencari dan mengubur para syuhada, dan disisi mayat Mush’ab mengalir air mata yang deras, mereka tidak mendapatkan kain yang dapat dijadikan penutup terhadapnya kecuali pakaiannya yang pendek, jika kepalanya ditutup maka kakinya akan terbuka dan jika kakinya ditutup maka kepalanya akan terbuka, maka Nabipun bersabda : “Tutuplah kepalanya dengan kain itu dan letakkanlah diatas kakinya Idzhir (tanaman yang memiliki wangi yang harum)!!”.

Mush’ab kembali keharibaan Allah dan benarlah firman Allah SWT : “Di antara orang-orang Mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya”. (QS. Al-Ahzab : 23). Sambil melihat para syuhada Uhud Rasulullah saw bersabda : “Saya bersaksi bahwa mereka adalah para syuhada disisi Allah pada hari kiamat kelak, dan demi yang jiwaku berada pada genggaman-Nya tidaklah seseorang memberikan salam kepada mereka hingga hari kiamat kecuali akan kembali kebaikannya kepadanya”. (Al-Hakim dan Al-Baihaqi).


Banyak Contoh dari Para Sahabat ra yang telah dijanjikan oleh allah surga, mereka berjuang dijalan allah dengan harta jiwa “Bahkan merelakan dirinya untuk dimusuhi para penguasa dzalim”

-Jihad yang paling besar adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang dzalim.
(Bukhari dan Muslim)

Mengatakan kebenaran dihadapan penguasa yang dzalim dengan kata lain menentang kedzaliman mereka adalah banyak terdapat utswah dari para sahabat, seperti Abu bakar ra dan ibnu mas’ud ketika masa-masa awal islam, bahkan imam syafi’i, Imam Ahmad hingga Syaikh ibn taimiyah pun mereka dimusuhi penguasa bahkan ada yang dipenjarakan hingga di asingkan.


ABDULLAH BIN MAS'UD R.A.

Setelah Abu baker assidiq maka tibalah giliran Abdullah ibnu mas’ud
Pada suatu waktu, para sahabat Nabi saw. mengadakan pertemuan untuk membicarakan siapakah di antara mereka (pengikut Nabi saw., yang sanggup membaca ayat-ayat Al-Qur an yang sudah diajarkan oleh Nabi saw. di dalam masjid, untuk diperdengarkan kepada kaum musyrikin Quraisy Pada waktu itu Abdullah bin Mas'ud dengan ikhlas had menyanggupinya. Di antara sahabat, ada yang tidak menyetujuinya karena Abdullah ddak mempunyai pelindung dari orang yang berpengaruh untuk menjamin dirinya. Karena kesanggupannya itu tentu ia akan dianiaya oleh kaum musyrikin Quraisy. Kaum musyrikin pasti akan merintangi siapa saja yang berani membaca ayat-ayat Al-Qur'an di masjid. Abdullah bin Mas'ud menjawab, "Allah sendirilah yang melindungi diriku!"
Oleh sebab itu, diputuskanlah dengan suara bulat bahwa Abdullah bin Mas'ud akan membacakan beberapa ayat dari Al-Qur'an di dalam masjid dengan suara lantang, untuk diperdengarkan kepada kaum musyrikin Quraisy.
Pada hari berikutnya Abdullah datang ke masjid dan duduk di Maqam (se-buah tempat di dekat KaTjah). Dengan suara keras lagi lantang serta dengan lantunan yang merdu ia membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Pada waktu itu, para pemuka dan pembesar musyrikin Quraisy tengah berkumpul di Nadinya, yaitu balai per¬temuan resmi bagi mereka, untuk merundingkan cara merintangi seruan dan gerakan Muhammad.
Ketika mereka mendengar suara Abdullah yang demikian keras dan lantang, seseorang di antara mereka berkata kepada yang lainnya, "Itu adalah suara Ibnu Ummi Abdin!"

Seorang lainnya berkata, "Mengapa ia bersuara demikian?"
Seketika itu juga pertemuan mereka menjadi ramai, lalu dihentikan oleh pimpinan pertemuan. Mereka lalu mendengar suara yang sedang diucapkan (di-baca) oleh Abdullah bin Mas'ud.
Setelah sudah terang kepada mereka bahwa suara itu berisi apa-apa yang didatangkan oleh pribadi Nabi saw. maka pimpinan berkata, "Itu Ibnu Ummi Abdin sedang membaca ayat-ayat Al-Qur an. Sebaiknya pertemuan ini kita tutup dahulu dan marilah kita datang bersama-sama ke masjid. Kalau nanti ternyata ia benar anak Ummi Abdin maka lebih baik kita pukul bersama-sama!"
Mereka serentak menyetujui usul dari pimpinan dan pertemuan mereka dibubarkan. Lalu mereka semua bersama-sama pergi ke masjid. Ternyata benar bahwa yang bersuara itu adalah Ibnu Ummi Abdin (Abdullah bin Mas'ud), dengan segera mereka mengeroyok dan memukulinya dengan sehebat-hebatnya!
Abdullah bin Mas'ud berlumuran darah dan napasnya terengah-engah, lantas mereka tinggalkan. Kemudian ia pulang ke rumah dengan badan yang payah dan berlumuran darah, terutama di bagian kepala.
Sesampai di rumahnya maka datanglah para sahabat Nabi saw. kepadanya, hendak mengetahui hasil dari pekerjaannya. Setelah mereka melihat keadaan dirinya yang begitu menyedihkan, maka di antara mereka ada yang berkata, "Inilah yang aku khawatirkan. Itulah sebabnya aku kurang setuju dengan kesanggup-anmu!"
Walaupun sedang dalam kesakitan yang amat sangat, Abdullah menjawab dengan tegas, "Seandainya kamu hari ini menetapkan kembali supaya aku besok pagi membaca ayat-ayat Al-Quran di masjid, niscaya akan aku kerjakan sebagai-mana mestinya!"
"Jangan! Jangan! Jangan, wahai Ibnu Ummi Abdin! Jangan! Karena mereka sekarang telah mendengar ayat-ayat Al-Qur1 an yang didatangkan oleh Muhammad, yang menjadi seteru mereka.'" Demikianlah kata para sahabat Nabi kepadanya
Jadi, keputusan yang telah dikerjakan oleh Abdullah bin Mas'ud itu hanya sekali saja, karena pada waktu itu belum masanya putusan itu dikerjakan lagi.
Demikianlah di antara riwayat Abdulah bin Mas'ud ketika dianiaya oleh kaum musyrikin Quraisy.

1 komentar:

  1. Wynn Casino & Hotel - Mapyro
    Find Wynn Casino 전라북도 출장마사지 & Hotel in Las 순천 출장마사지 Vegas, NV, United States and other places to stay 창원 출장안마 in and play, compare reviews and book 천안 출장샵 your stay in Las Vegas,  Rating: 2.3 · ‎1,073 reviews 정읍 출장안마

    BalasHapus