Kamis, 15 September 2022

TIDAK ADA YANG HAQ UNTUK DITAKUTI KECUALI HANYA ALLAH TA’ALA

 TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH  

وَقَالَ اللَّهُ لا تَتَّخِذُوا إِلَهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Allah berfirman: "Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut."  An Nahl (16) : 51

فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ

sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. An Nisaa (4) : 77

إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Al Maidah (5) : 44

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu."  Fushilat (41) : 30

أَلا تُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّوا بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ وَهُمْ بَدَءُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ أَتَخْشَوْنَهُمْ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَوْهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. At Taubah (9) : 13

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. At Taubah (9) : 18

وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِي وَلا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلا تَتَذَكَّرُونَ

Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku." Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?" Al An’aam (6) : 80

وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالأمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui? Al An’aam (6) : 81

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Ali Imran (3) : 175

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولا

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. Al Ahzab (33) : 37

Motto : “Dan tidak ada alasan untuk takut kepada selain-Nya jika berada diatas Haq (kebenaran). Takutlah saat berada diatas kesalahan/kebathilan.”

 

TAKUT KEPADA ALLAH ADALAH IBADAH. SEMUA PERIBADATAN HANYA DI PERSEMBAHKAN KEPADA ALLAH TA’ALA

TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH. 

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Al fatihah (1) : 5

وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى

Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?" An Nazi’aat (79) : 19

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan. As Sajdah (32) : 16

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). An Nahl (16) : 50

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالأزْلامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al maidah (5) : 3

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلأتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.  Al Baqarah (2) : 150

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).  Al Baqarah (2) : 40

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُولَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.  Al Baqarah (2) : 114

جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (Al bayyinah (98) : 8

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى .فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).  An Nazi’aat (79) : 40-41.

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. Al Mulk (67) : 12

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga Ar Rahmaan (55) : 46

Rabu, 14 September 2022

TAKUT KEPADA SELAIN-NYA ADALAH BAGIAN DARI KESYIRIKAN.

 

TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH.

Oleh : Deden Abu abdurrozaq Salman. Sukabumi*19-08-2022

Ayyuhal ikhwah, rasa cinta dan takut adalah bagian dari fitrah manusia yang allah ta’ala berikan pada diri setiap insan. Namun dari itu dengan cinta dan takut bisa menjadi sebab baginya masuk surga tetapi juga dengan cinta dan takutnya bisa juga menjadi sebab dirinya masuk ke neraka-Nya. Oleh karena itu wajib bagi hamba allah yang mukhlis, muslim, hanif itu menyerahkan cinta dan takutnya hanya kepada Allah ta’ala. Wajib bagi setiap mu’miin untuk mempelajari masalah ini dan mengendalikan rasa cinta dan takutnya. Tidak dibenarkan bagi mereka bersembunyi dibalik kata “Wajar” bahwa cinta dan takut ini adalah fitrah manusia sehingga tidak ada dosa padanya.

Sebagaimana cinta kepada wanita, harta, tahta, anak-anak, hewan tunggangan, kendaraan, perhiasan dan seluruh isi dunia ini dengan segala keindahanya didalamnya terdapat hukum yang jelas haramnya cinta yang menyebabkan hambah terjatuh kedalam kesyirikan dan kekafiran. Didalam rasa cinta ada diantaranya menjadi sebab-sebab pembangkangan, dosa dan maksiat seperti zina. Dalam rasa cinta padanya ada sebab-sebab manusia menjadi lalai dari mengingat allah ta’ala sebagaimana sulaiman alaihi salam yang memotong kuda-kudanya, sebagaimana umar radiyallahu anhu yang menyedekahkan kebun dan ladangnya dikarenakan terlalai dari shalatnya. Begitu juga dalam masalah takut didalamnya terdapat hal yang dapat menyebabkan manusia terseret pada kekafiran dan kesyirikan, dalam rasa takut padanya menjadi sebab-sebab manusia menjadi lalai sehinga ia berbuat dosa dan maksiat. Takut atas kekuatan Jin, Sihir, Dukun, Jibt dan Thaguut. Karena takut gangguan jin maka mereka berbuat bid’ah memberikan persembahan (sesajen) dan lain sebagainya, Karena takut dengan ancaman dari musuh-musuh tauhid banyak manusia menyembunyikan kebenaran dan diam dari dakwah, karena takut dengan ancaman dari musuh-musuh allah mereka menutup masjid meninggalkan dari peribadatan, karena takut dengan celaan dan hinaan menyebabkan manusia mendustakan apa-apa yang datangnya dari allah dan rasul-Nya.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلا تُظْلَمُونَ فَتِيلا

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. An Nisaa (4) : 77

Semisal al baqarah (2) : 165 :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). Al Baqarah (2) : 165.

Kaitan keduanya adalah terletak pada lafadz :

فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ

sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. An Nisaa (4) : 77

يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah Al Baqarah (2) : 165

Maka padanya memiliki konsekuensi hukum yang sama yaitu bagian dari kesyirikan adalah manakala seorang hamba mempersembahkan cinta dan takutnya kepada selain-Nya.

Bersambung..............


TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH

 

BERDO’A  MELALUI PERANTARAAN ORANG SHOLEH DI KUBUR-KUBUR MEREKA ADALAH KESYIRIKAN

TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH 

Deden Abu Abdurrozaq Salman *Sukabumi, 31 Juli 2022

Disarikan dengan penambahan dan pengurangan dari kitab fathul majid syaikh abdurrahman hasan alu syaikh penjelasan kitab tauhid (syaikh muhammad bin abdul wahhab) bab “tafsiran tauhid dan syahadat laa ilaaha illallah” untuk dapat di fahami dengan mudah. Aamiin.

Ayyuhal ikhwah kaitan antara ini adalah bahwa tauhid adalah mengesakan allah ta’ala dalam peribadatan dan haramnya syirik (mempersekutukan) dalam peribadatan. Sebagaimana allah ta’ala berfirman :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ

Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia. Al Israa (17) : 23

Maka terkandung dalam ayat ini pengertian kalimat ikhlas dan apa yang ditunjukkanya yang berupa tauhid ibadah. Tiada yang di ibadahi melainkan hanya allah ta’ala Tiada yang di seru melainkan hanya Dia dengan demikian itulah hakikat keikhlasan (kemurnian) dari penghambaan dengan menafikan segala sesuatu y ang dapat tmengotorinya.

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلا تَحْوِيلا

Katakanlah: "Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya." Al Israa (17) : 56.

الَّذِينَ yaitu orang-orang yang diseru selain daripada allah, didalamnya ada hujjah atas orang-orang yang bergantung kepada para nabi dan orang-orang shaleh. Mereka berdo’a dan meminta kepadanya. Kebanyakan ulama tafsir mengatakan, bahwa ayat ini turun tentang orang yang menyembah nabi isa dan ibunya, uzair dan malaikat. Mereka berdo’a kepadanya dan menjadikanya sebagai washilah (perantara) untuk mendekatkan mereka kepada allah ta’ala sebagaimana disebutkan dalam ayat selanjutnya.

Ayat ini adalah bantahan terhadap kaum musyrikiin yang berdo’a (meminta) kepada orang-orang shalih. Ayat ini mengandung penjelasan bahwa perbuatan mereka itu adalah syirik yang besar (akbar). Sebagian manusia ada yang berdalih bahwa ini karena mereka menyembahnya dan mengatakan bahwa isa dan maryam adalah tuhan sehingga mereka melakukan penyembahan yang sebenarnya dalam do’a mereka dan bukan dengan menjadikan mereka itu perantara, maka dengan alasan itu mereka mengatakan bahwa bertawassul kepada penghuni kubur-kubur dari orang shalih itu bukanlah syirik besar. Ayyuhal ikhwah hal ini dibantah dengan ayat selanjutnya sebagaimana dzahirnya allah ta’ala berfirman :

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. Al Israa (17) : 57

Ayat diatas mengandung hukum bahwa menjadikan perantara dari orang-orang yang mereka seru itulah yang dimaksudkan dalam ayat ini. Dan Ini menunjukkan bahwa do’a mereka kepada selain allah adalah syirik dan berdo’a dengan menjadikan mereka (orang-orang yang mereka seru) sebagai perantara antara dirinya dengan allah ta’ala adalah kesyirikan. Do’a mereka yang ditujukan tidak kepada allah ta’ala adalah kesyirikan kepada allah yang menafikan tauhid dan menafikan syahadat Laa Ilaaha Illallah. Karena tauhid itu untuk tidak mengakui kecuali allah saja. Kalimat Ikhlas menafikan ini. Karena berdo’a kepada selain allah ta’ala adalah tunduk dan beribadah kepadanya sedangkan “Do’a adalah otak (intisari) ibadah” Hr. Tirmidzi dari anas bin malik. Tidaklah mereka (orang-orang musyrik) itu berdo’a kepada isa melainkan setelah wafatnya (dianggap matinya) dan disefakati bersama haramnya meminta kepada ahli kubur dan disefakati haramnya menjadikan ahli kubur itu sebagai washilah untuk mendekatkan diri kepada allah ta’ala khususnya dalam menjadikannya perantara (washilah) dalam do’a.

“Dan mereka mengharapkan rahmatnya serta takut akan siksa-Nya”.

“Orang-orang yang mereka seru oleh kaum musyrikiin itu, mereka sendiri senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka, siapa diantara mereka yang lebih dekat kepadanya”.

Maka mereka tidak berharap dari selainya dan tidak takut kepada selain-Nya. Mengharap rahmat hanya kepadanya Itulah mentauhidkanya. Sedangkan mereka yang menyeru atau menjadikan perantara antara dirinya dengan allah ta’ala adalah sebaliknya dari itu. Keadaan mereka yaitu mengadakan seruan-seruan yang lain di samping seruan mereka kepada allah ta’ala. Dan mereka (yang mereka seru selain allah ta’ala dari kalangan jin, nabi, malaikat) akan mengingkari kemusyrikan mereka itu. Ada banyak yang semakna dengan ayat diatas yaitu diantaranya :

إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui. Faathir (35) : 14

وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ

Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. Al Ahqaap (46) : 6

Terkandung makna didalamnya bahwa agama mereka tidak terlepas dari agama yang disembah nya. Yaitu jika mereka yang disembah itu seorang musliim yang menyembah allah ta’ala maka begitupun mereka yang mengagungkan atau menjadikan orang-orang shalih itu sebagai sesembahan selain dari allah ta’ala. Mereka mengetahui keshalihan atau keutamaan orang-orang yang diseru itu sehingga mereka ghuluw terhadapnya ini menunjukan adanya keyakinan yang menjadi sebab atas hakikat ibadah dan ketuhanan namun mereka jahil dan mengotorinya. Dan kami perjelas masalah ini yaitu terkandung penjelasan dalam ini bahwa mereka menyembah allah ta’ala namun mempersekutukanya. Mereka menyeru (berdo’a) kepada allah ta’ala namun disaat yang sama mereka menyeru pula kepada selain-Nya. Dan mereka yang diseru selain allah itu akan mengingkari kemusyrikan mereka ini.

Imam Bukhari telah meriwayatkan melalui hadis Sulaiman ibnu Mahran Al-A'masy, dari Ibrahim, dari Abu Ma'mar, dari Abdullah sehubungan dengan makna firman-Nya: Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka. (Al-Isra: 57) Bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah sejumlah makhluk jin yang disembah oleh orang-orang kafir, lalu jin itu masuk Islam.

Menurut riwayat lain, dahulu ada segolongan manusia menyembah segolongan makhluk jin, kemudian jin itu masuk Islam, sedangkan manusia yang menyembahnya tetap berpegang pada keyakinannya.

Qatadah telah meriwayatkan dari Ma'bad ibnu Abdullah Ar-Rumma-ni, dari Abdullah ibnu Atabah ibnu Mas'ud, dari Ibnu Mas'ud sehubungan dengan firman-Nya: Orang-orang yang mereka seru itu. (Al-Isra: 57), hingga akhir ayat. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan segolongan orang-orang Arab yang menyembah sejumlah makhluk jin, lalu jin-jin itu masuk Islam bersa­maan dengan sejumlah manusia, sedangkan orang-orang yang tadinya menyembah jin-jin itu tidak mengetahui bahwa yang mereka sembah telah masuk Islam. Lalu turunlah ayat ini.

Syaikh berkata : ini tidaklah bertentangan dengan apa yang telah diterangkan karena ayat ini merupakan dalil atas setiap orang yang menyeru (berdo’a terhadap) seorang wali dari kaum dahulu dan kaum sekarang bersamaan dengan Allah. Sebagaimana syaikhul islam ibnu taimiyah rahimahullah berkata dalam menafsiri ayat ini, “Dan Perkataan-perkataan ini semuanya adalah benar, karena ayat itu mencakup orang yang sesembahanya adalah penyembah allah baik malaikat, jin atau manusia,

Sehingga dengan penjelasan ini terdapat kejelasan bahwa mereka itu menyembah allah ta’ala akan tetapi mereka pun menyembah/menyeru selain allah ta’ala sebagai sarana atau washilah al qurbah untuk mendekatkan diri kepada allah ta’ala dalam artian agar harapan, keinginan atau seruan (do’a) mereka di kabulkan/menjadi nyata.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركته وشركه

Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang didalamnya dia mempersekutukan Aku dengan selainKu, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya” [Hadits Riwayat Muslim]

Sangat nampak disini yang dimaksudkan adalah “beramal atau melakukan suatu peribadatan” yang nisbatnya kepada kaum muslimiin yang menyembah allah ta’ala beramal sholeh namun didalamnya terdapat kesyirikan.

Ayyuhal ikhwah, dalam ayat ini ada bantahan terhadap orang yang menyangka, bahwa syiriknya orang-orang musyrik hanya dengan menyembah berhala-berhala. Sama sekali tidak demikian bahwa kita sefakati dan kita ketahui bersama bahwa latta adalah seorang shalih yang bukan seorang nabi namun mereka menjadikannya sebagai sarana atau washilah agar mereka dekat kepada allah ta’ala disini nampak jelas mereka tidak mengatakan bahwa latta adalah anak allah atau tuhan anak. Dan juga bahwa dengan ayat ini allah ta’ala mengingkari orang yang menyeru (berdo’a) kepada selainya baik para nabi, orang-orang shalih, malaikat-malaikat dan lain sebagainya. Juga bahwa menyeru kepada orang-orang mati dan sesuatu yang gha’ib untuk mendatangkan manfaat atau menghilangkan bahaya adalah termasuk syirik akbar yang tidak akan mendapat ampunan dari allah ta’ala dan hal itu menafikan dari apa yang ditunjukan oleh kalimat ikhlas.

Sebagaimana juga allah ta’ala berfirman :

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. Az Zumaar (39) : 3

Juga firman allah ta’ala

فَإِنَّكَ لا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ

Maka Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang. Ar Ruum (30) : 52.

Al qur’an menegaskan mayit tidak bisa mendengar maka harus ada jawaban dari perbedaan diantara dua hal yang seolah berseberangan itu yaitu sebagaimana yang didalilkan oleh orang-orang yang telah menyimpang (ahli bid’ah) yang meyakini bahwa penghuni kubur itu bisa mendengar seruan. Dan jika dikembalikan kepada pondasi aqidah utama yaitu tauhid, dimanakah letak mengesakan allah ta’ala yang maha mendengar dan maha mengabulkan segala permohonan itu jika diantara allah dan mereka itu ada perantara?.

Ayat ini, Q.S Az Zumaar (39) : 3 menjadi pembeda antara orang-orang yang menyimpang dengan orang-orang yang berada diatas petunjuk. Pendapat yang menyatakan bahwa bertawassul ke kubur (mayit) adalah syirik akbar lebih lurus jalanya dan lebih murni aqidahnya dan ini adalah sesuai dengan persaksian mereka (orang-orang musyrik) itu dari lisan mereka yang termaktub dalam kalamullah yang tidak ada keraguan didalamnya. Dalam ayat ini menunjukan bahwa menjadikan orang-orang shalih sebagai perantara itu adalah syirik akbar karena dzahirnya ayat menerangkan bahwa mereka tidaklah menyembah (menjadikan illah) latta dan berhala-berhala selainya itu melainkan hanya untuk dijadikan sebagai washilah atau perantara untuk mendekatkan diri mereka dengan allah ta’ala.

Orang-orang yang diseru selain allah ta’ala itu tidak dapat mendengarkan seruan, mereka tidak dapat menghilangkan bahaya dan tidak juga dapat memindahkanya sehingga ada ketegasan hukum atas segala do’a itu hanya di serukan kepada allah ta’ala karena tidak ada yang dapat mengabulkanya melainkan hanya allah ta’ala, segala ketetapan ada pada qudrat dan iradahnya. Sehingga dengan adanya perantara atau pun tidak maka tidak merubah hakikat ketetapan atas jawaban dari setiap do’a yang dipanjatkan. Terkandung hukum Haramnya memanjatkan suatu permintaan kepada siapa yang tidak mampu untuk menjawabnya. Manakah yang lebih baik antara orang-orang yang berdo’a langsung kepada allah ta’ala dengan orang-orang yang mengadakan perantara padanya ? Maka, Tauhid menuntut kemurnian dalam hal ini yaitu memanjatkan do’a hanya kepadanya yaitu dengan tanpa melaui perantara-perantara tersebut karena sesekali mereka tidak dapat menjadikan mereka (orang-orang musyrik) itu menjadi dekat kepada allah ta’ala hanya karena disebabkan do’a mereka di tujukan melalui orang-orang shaleh. Karena kedekatan itu dituntut padanya ketaatan dan ketundukan dalam menjalankan syari’at yaitu dalam menyembah atau beribadah kepada-Nya. Dan orang-orang yang mereka seru itu “Mereka sendiri senantiasa mendekatkan diri kepada tuhan mereka, siapakah diantara mereka  yang lebih dekat (Kepada-Nya).” Mereka (Isa, Maryam, Uzair, Malaikat) mencari kedekatan kepada allah itu dengan ikhlas kepadaNya dan mentaati yang diperintahkan-Nya dan Meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya dan Taqarrub (mencari kedekatan) yang paling besar adalah Tauhid. Inilah yang menjadikan mereka dekat.

Tawassul kepada allah adalah dengan apa yang Dia cintai dan ridhai, tidak denga apa yang dibenci dan ditolak yaitu syirik yang dia membersihkan diri-Nya dari syirik tersebut. “katakanlah, “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik dilangit dan tidak pula dibumi?” Maha suci allah dan maha tinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu). Yunus (10) : 18

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). Yunus (10) : 18

                Dan mereka membantah ayat ini dengan perkataan-perkataan bathil, hadits-hadits maudhu dan perkataan ahli bid’ah dari kalangan ahli kalam suffiyyuun. Sesungguhnya diwajibkan bagi setiap musliim jika didatangkan kepada mereka satu ayat yang menjadi penjelasan atas setiap perkara yang mereka perselisihkan itu wajib bagi mereka untuk tunduk dan menetapi kebenaran. Ayat ini adalah bantahan yang sangat jelas dan tegas dari allah subhaanahu wata’ala yang maha suci yang tidak ada sesembahan yang pantas diseru selain dari-Nya bahkan tidak dibenarkan menjadikan seruan-seruan selainya bersama dengan-Nya. Allah ta’ala tidak memerlukan perantaraan apapun untuk dapat mengetahui setiap harapan yang diserukan oleh mahluk-mahluknya baik yang ada didaratan maupun yang ada di langit di gunung dilaut, dimasjid ataupun dikuburan. Tidak ada padanya keperluan syariat untuk menjadikan perantara-perantara itu sebagai penyebab maqbulnya do’a tidak ada dalil syar’i yang menyebutkan bahwa kuburan nabi dan auliyaa itu adalah tempat yang utama untuk berdo’a dan menjadi sebab di ijabahnya pengharapan. Bentuk kesyirikan yang nampak adalah mereka menyangka dengan sangkaan yang tidak benar terhadap allah ta’ala bahwa di ijabahnya do’a adalah dikarenakan harapan-harapan itu di sampaikan melalui wali-walinya. Dan menjadikan perantaraan antara allah dengan diri mereka itu adalah satu bentuk kesyirikan karena allah ta’ala yang maha mendengar lagi maha mengetahui sama sekali tidak memerlukan itu. Manakah yang lebih baik, petunjuk Allah ataukah selainya....?

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. Al Israa (17) : 57

Firman allah ta’ala : “Siapa diantara mereka yang lebih dekat kepadanya” mengandung pelajaran :

1.       Allah mengingkari kecurangan perbuatan hamba yang hanya ingin dekat dengan tanpa haq yaitu berusaha mendekatkan diri dengan melalui perantaraan (tawassul).

2.       Perbuatan mereka itu sama sekali tidak dapat menjadikan mereka dekat kepada allah.

3.       Masing-masing mereka memiliki tugas/kewajiban yang sama dalam menyembah kepada allah, menyeru dan berdo’a hanya kepada allah ta’ala

4.       Akan dibalas sesuai dengan amalnya masing-masing dan mempertanggung jawabkan amalanya sendiri sebagaimana ayat-ayat lainnya.

Allah menerangkan, bahwa ini adalah jalan para nabi dan rasul serta orang-orang mukmin yang mengikuti mereka. Qatadah berkata, “Mereka bertaqarrub kepada Nya dengan mentaatinya dan menjalankan apa yang diridhai-Nya”. Ibnu katsir berkata :, “Dalam hal ini tidak ada perbedaan diantara ulama tafsir.

Ibnu Zaid membaca firman allah, “Orang-orang yang diseru oleh kaum musyrikiin itu mereka sendiri sentiasa berusaha mendekatkan diri kepada tuhan mereka, siapa yang lebih dekat (kepadanya).

Syaikh berkata, maksudnya, karena semua orang-orang shalih yang diseru dan dimintai pertolongan oleh orang-orang musyrik, bisa jadi sebagai perantara kepada Allah untuk menyampaikan hajat mereka, dan bisa jadi murni bahwa orang-orang musyrik itu meminta mereka supaya memenuhi hajat mereka seraya meyakini, bahwa allah telah memberi kekuasaan kepada mereka. Orang-orang shalih menyibukan diri mereka berdo’a kepada allah untuk hajat itu dan bertawassul kepadanya dengan beribadah kepadanya dengan memurnikan agama pada-Nya, takut siksa-Nya, dan mengharap rahmat-Nya. Ternyata mereka  tidak mendatangkan manfaat dan menolak bahaya untuk dirinya (selain dengan amalnya). Maka bagaimana mungkin mereka dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya untuk orang lain.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini, Allah menyebutkan tiga hal : Cinta, yaitu berusaha taqarrub kepada-Nya, Tawassul kepada-Nya dengan amal shalih, dan takut serta berharap. Inilah hakikat tauhid dan hakikat ad dienul islam, sebagaimana dalam al musnad dari Bahz bin hakim dari ayahnya dari kakeknya bahwa dia berkata kepada nabi sholallahu ‘alaihi wasalam,

والله يا رسول الله ما أتيتك إلّا بعدما حلفت عدد أصبي هذه: أن لا آتيك. فبالّذي بعثك بالحق ما بعثك به؟ قال: وما لإسلامز قال: أن تسلم قلبك وأن توجّه وجهك إلى الله, وأن تصلّي الصلوات المكتوبة, وتؤدّي الزّكاة المفروضة.

“Demi Allah wahai rasulullah, aku tidak dating kepada engkau kecuali aku telah bersumpah sejumlah jari-jari ku ini, bahwa aku tidak akan datang kepada engkau. Maka demi dzat yang mengutusmu dengan hak, untuk membawa apa allah mengutusmu? Beliau menjawab, “Islam” dia berkata, “Dan apa itu islam”? beliau menjawab, “Hendaklah engkau menyerahkan hatimu dan mengarahkan wajahmu kepada Allah, dan hendaklah kamu menjalankan shalat-shalat yang diwajibkan dan membayar zakat yang diwajibkan”.

إنّ للإسلام صوّى ومنارا كمنار الطّريق. من ذلك أن تعبد الله ولا تشرك به شيئا وتقيم الصّلاة وتؤتي الزكاة وتصوم الرّمضان والأمر بالمعروف و النّهي عن المنكر.

Sesungguhnya islam memiliki tanda-tanda dan rambu-rambu seperti rambu-rambu jalan. Diantaranya hendaklah kamu menyembah Allah dan tidak berbuat syirik sama sekali,  menjalankan shalat, membayarkan zakat, dan puasa ramadhan, menyuruh berbuat ma’ruf dan melarang kemungkaran.  

 

KETAATAN KEPADA SELAIN-NYA  DAN  MENYELISIHI-NYA ADALAH KESYIRIKAN.

TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH. 

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.  At Taubah (9) : 31

Tafsir Surat At-Taubah, ayat 30-31

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain-Allah,

Imam Ahmad, Imam Turmuzi, dan Imam Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui berbagai jalur dari Addi ibnu Hatim r.a. yang menceritakan:

أَنَّهُ لَمَّا بَلَغَتْهُ دَعْوَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فرَّ إِلَى الشَّامِ، وَكَانَ قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَأُسِرَتْ أُخْتُهُ وَجَمَاعَةٌ مِنْ قَوْمِهِ، ثمَّ منَّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أُخْتِهِ وَأَعْطَاهَا، فَرَجَعَتْ إِلَى أَخِيهَا، ورَغَّبته فِي الْإِسْلَامِ وَفِي الْقُدُومِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَدِمَ عَدِيّ الْمَدِينَةَ، وَكَانَ رَئِيسًا فِي قَوْمِهِ طَيِّئٍ، وَأَبُوهُ حَاتِمٌ الطَّائِيُّ الْمَشْهُورُ بِالْكَرَمِ، فتحدَّث النَّاسُ بِقُدُومِهِ، فَدَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي عُنُقِ عَدِيّ صَلِيبٌ مِنْ فِضَّةٍ، فَقَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: {اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ} قَالَ: فَقُلْتُ: إِنَّهُمْ لَمْ يَعْبُدُوهُمْ. فَقَالَ: "بَلَى، إِنَّهُمْ حَرَّمُوا عَلَيْهِمُ الْحَلَالَ، وَأَحَلُّوا لَهُمُ الْحَرَامَ، فَاتَّبَعُوهُمْ، فَذَلِكَ عِبَادَتُهُمْ إِيَّاهُمْ". وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا عَدِيُّ، مَا تَقُولُ؟ أيُفرّك أَنْ يُقَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ؟ فَهَلْ تَعْلَمُ شَيْئًا أَكْبَرَ مِنَ اللَّهِ؟ مَا يُفرك؟ أَيُفِرُّكَ أَنْ يُقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ فَهَلْ تَعْلَمُ مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللَّهُ"؟ ثُمَّ دَعَاهُ إِلَى الْإِسْلَامِ فَأَسْلَمَ، وَشَهِدَ شَهَادَةَ الْحَقِّ، قَالَ: فَلَقَدْ رأيتُ وَجْهَهُ اسْتَبْشَرَ ثُمَّ قَالَ: "إِنَّ الْيَهُودَ مَغْضُوبٌ عَلَيْهِمْ، وَالنَّصَارَى ضَالُّونَ"

Bahwa ketika sampai kepadanya dakwah dari Rasulullah Saw., ia lari ke negeri Syam. Sejak zaman Jahiliah ia telah masuk agama Nasrani, kemudian saudara perempuannya ditahan bersama sejumlah orang dari kaumnya. Lalu Rasulullah Saw. menganugerahkan kebebasan kepada saudara perempuan Addi ibnu Hatim dan memberinya hadiah. Saudara perempuan Addi ibnu Hatim kembali kepada saudara lelakinya dan menganjurkannya untuk masuk Islam dan menghadap kepada Rasulullah Saw. Akhirnya Addi datang ke Madinah. Dia adalah pemimpin kaumnya, yaitu kabilah Tayyi'; dan ayahnya (yaitu Hatim At-Tai') terkenal dengan kedermawanannya. Maka orang-orang Madinah ramai membicarakan kedatangan Addi ibnu Hatim. Addi masuk menemui Rasulullah Saw., sedangkan pada leher Addi tergantung salib yang terbuat dari perak. Saat itu Rasulullah Saw. sedang membacakan firman-Nya: Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah. (At-Taubah: 31) Addi melanjutkan kisahnya, bahwa ia menjawab, "Sesungguhnya mereka tidak menyembahnya." Rasulullah Saw. bersabda: Tidak, sesungguhnya mereka mengharamkan hal yang halal bagi para pengikutnya dan menghalalkan hal yang haram bagi mereka, lalu mereka mengikutinya; yang demikian itulah ibadah mereka kepada orang-orang alim dan rahib-rahib mereka. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, "Hai Addi, bagaimanakah pendapatmu. Apakah membahayakan bila dikatakan Allah Mahabesar? Apakah kamu mengetahui sesuatu yang lebih besar daripada Allah bila Allah menimpakan bahaya kepadamu? Apakah membahayakanmu bila dikatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah? Apakah kamu mengetahui ada Tuhan selain Allah?" Rasulullah Saw. mengajaknya masuk Islam. Akhirnya Addi masuk Islam dan mengucapkan syahadat yang benar. Addi melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu ia melihat wajah Rasulullah Saw. bersinar ceria, lalu bersabda: Sesungguhnya orang-orang Yahudi itu dimurkai dan orang-orang Nasrani itu orang-orang yang sesat.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Huzaifah ibnul Yaman, Abdullah ibnu Abbas, dan lain-lainnya sehubungan dengan tafsir firman-Nya: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah. (At-Taubah: 31) Bahwa sesungguhnya mereka mengikuti ulama dan rahibnya dalam semua yang dihalalkan dan yang diharamkan oleh mereka.

As-Saddi mengatakan, "Mereka meminta saran dari orang-orang alim mereka, sedangkan Kitabullah mereka lemparkan di belakang punggungnya."

Karena itulah Allah Swt. berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا

Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa. (At-Taubah: 31)

Maksudnya, Tuhan yang apabila mengharamkan sesuatu, maka jadilah sesuatu itu diharamkan, apa yang dihalalkan-Nya menjadi halal, apa yang disyariatkan-Nya (diperintahkan-Nya) harus diikuti, dan apa yang telah diputuskan-Nya harus dilaksanakan.

لَا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Tidak ada Tuhan selain Dia, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At-Taubah: 31)

Yakni Mahatinggi, Mahasuci, dan Mahabersih Allah dari sekutu-sekutu, tandingan-tandingan, pembantu-pembantu, serta lawan-lawan dan anak. Tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia.

Ayyuhal  ikhwah  inilah  pondasi  aqidah yang pertama dan utama dalam tauhid uluhiyyah. Sehingga terkandung hukum wajibnya menafikkan semua ketaatan kepada selainya dalam menyelisihi ketetapan hukum-hukum aturan perintah larangan halal dan haram melainkan hak ini hanya ada pada-Nya. Jika kita berbicara tentang hukum ushul maka hukum-hukumnya mutlak pada sifat keumumanya sedangkan pada kekhususanya adalah pada perincian dari setiap permasalahan itu sendiri sebagaimana penjelasanya telah kami sampaikan pada Rubrik “Hukum Allah” yang tidak semua permasalahan itu adalah merupakan kekafiran/kesyirikan sebagaimana pada perincian masalah “Hukum-hukum yang tidak tetap (qath’i) sharih dari allah dan rasulnya dan bab Hukum atau perudang-udangan buatan manusia yang tidak bertentangan dengan hukum allah ta’ala dan rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Untuk lebih lengkapnya dipersilahkan untuk merujuk padanya. Demikian kami sampaikan untuk dapat di fahami.

Syaikhul islam berkata dalam menjelaskan makna firman Allah :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.  At Taubah (9) : 31

MENCINTAI SELAIN-NYA DAN MENDAHULUKAN SELAIN-NYA ADALAH BAGIAN DARI KESYIRIKAN


TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH.

Disarikan dengan penambahan dan pengurangan dari kitab fathul majid syaikh abdurrahman hasan alu syaikh penjelasan kitab tauhid (syaikh muhammad bin abdul wahhab) bab “tafsiran tauhid dan syahadat laa ilaaha illallah” untuk dapat di fahami dengan mudah. Aamiin.

Dan mereka mereka mencintai sesembahan-sesembahan selain allah itu dengan berdo’a kepadanya memuliakan kuburan-kuburan mereka beribadah didalamnya, memuliakan nya dengan meninggikan kubah-kubah diatas kuburan-kuburan itu. Hal itu tidak akan dilakukan tanpa dasar cinta dan menganggapnya dengan pemuliaan yang penuh penghormatan.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). Al Baqarah (2) : 165.

Ibnu jarir meriwayatkan dari mujahid dalam menafsiri ayat ini : “ mereka membanggakan dan menyamakan tuhan-tuhan tandingan itu dengan allah. Maha suci allah dari sekutu-sekutu, “Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada allah.” (Al Baqarah : 165)” daripada cintanya orang-orang kafir kepada berhala-berhala mereka”.

Ayat ini menerangkan, bahwa orang yang menyekutukan Allah dengan yang selain-Nya dalam cinta, maka ia telah menjadikanya sekutu dalam ibadah dan menjadikanya sesembahanselain allah. Hal itu adalah syirik yang tidak diampuni Allah. Sebagaimana allah ta’ala berfirman menjelaskan keadaan mereka “Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.”

Ayat ini juga menjelaskan tentang keadaan mereka yang mencintai sekutu-sekutu mereka seperti cinta mereka kepada Allah. Mereka mencintai Allah dengan cinta yang sangat besar, sementara hal itu tidak menjadikan diri mereka disebut sebagai musliim. Maka bagaimana halnya dengan orang yang mencintai sekutu-sekutunya itu lebih besar daripada cinta kepada Allah? Lalu bagaimana denga orang yang hanya mencintai sekutu-Nya saja ?

Mereka mencintai andaad (tandingan/sekutu) bagi allah itu dengan kecintaan yang melampaui batas, tertuang dalam hukum-hukum yang di ikuti, dalam nyanyian-nyanyian dan puji-pujian, dalam syair-syair mereka, dalam amalan-amalan mereka yaitu dengan melebih-lebihkannya melebihi dari apa yang diperintahkan allah ta’ala. Lebih dahulu menyebut nya dalam keseharianya, membuat patung-patung, membuat gambar, membuat symbol-symbol untuk di gantungkan dileher, didinding, al tar dan sebagainya sehingga apa yang terlihat di hadapan lebih mereka cintai dan terpatri dalam hati mereka daripada yang tidak terlihat itu. Sebagaimana keadaan manusia di zaman ini yang membuat patung atau rupaka, membuat gambar-gambar panutan mereka di rumah-rumah, menjadikan hiasan kota dan di jalan-jalan di mall dan pusat perbelanjaan dengan gambar dan patung dari tokoh atau figur yang mereka bangga-banggakan. Sebagian ahli bid’ah menyimpan photo-photo mereka yang di anggap waliyullah dengan anggapan-anggapan bid’ah. Dengan harapan untuk mendapatkan keberkahan, keselamatan, dijauhkan dari bahaya gangguan jin bahkan sebagianya berkeyakinan agar ruh yang di cintainya itu hadir padanya dan mengangkatnya menjadi wali sebagai sertifikasi yang hadir dalam mimpi-mimpi. Dan apa yang mereka idolakan itu memalingkan dari mengingat allah sehingga allah merasa cemburu (marah) karenanya. Mereka lebih menuruti peribadatan yang diada-adakan (bid’ah) itu dibanding mengamalkan perintah diatas i’tiba dan sunnah. Mereka mengucapkan sanjungan-sanjungan yang melampaui batas sehingga allah murka disebabkan apa yang mereka ucapkan itu. Maka tidak dapat disamakan hukum gambar (foto) yang dipajang dengan alasan dokumentasi dengan memajangnya karena cinta, penghormatan, meng idolakan atau penyanjungan apalagi sampai pada tingkat ghuluw yang menyebabkan terjatuhnya manusia kepada kebid’ahan dan kesyirikan, ini semisal perbuatan kaum terdahulu yang tersesat karenanya. Terjadi pengkultusan terhadap kuburan para nabi, wali, ahlul bayt dan lain-lainya.

Terjadi pengkultusan atas figur-figur (tokoh) yang di anggap mulia. Ini tidaklah terjadi tanpa rasa cinta atasnya. Dibumbui dengan karomah dan fadhilah dari mulut-mulut para pendusta semakin besarlah fitnah dalam syirik yang menafikkan tauhid, karena telah terjadi pengkultusan terhadap orang-orang mati dan mengagungkan mereka dengan ibadah. Maka dengan segala sesuatu yang digeluti kebanyakan orang ini jadilah seolah-olah kebaikan menjadi kemunkaran, dan kemunkaran menjadi kebaikan. Seolah-olah bid’ah menjadi sunnah dan sunnah dianggap manusia sebagai bid’ah. Dan terus berkembang turun temurun.

Syaikhul islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Barang siapa lebih senang kepada selain Allah dalam memenuhi suatu hajat atau dalam menyingkirkan suatu petaka, maka ia pasti mencintainya, dan kecintaannya itulah yang menjadi landasan dalam hal itu.

Firman Allah ta’ala :

وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالأنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami." Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. Al An’aam (6) : 136

Dan diantara mereka membuka do’a-do’a mereka dengan menyebut nama-nama (sesembahan selain allah) yang mereka anggap dapat mendekatkan mereka kepada allah yang hakikatnya inilah penyembahan mereka disisi allah ta’ala terhadap sekutu-sekutu allah yang memalingkan dari tauhid yaitu meng esakan-nya tanpa ada sesuatu apapun bersamanya. Mereka beranggapan bahwa untuk sampainya do’a ke langit ketujuh haruslah dengan membuka pintu langit (alam gha’ib) dengan menyampaikan hadiah di bacakan untuk wali yang mereka anggap dapat membukanya pada setiap tingkatan pintu gha’ib yang hendak dibuka. Mereka terlebih dahulu menyebut nama-nama itu sebelum menyebut nama allah ta’ala sedangkan dia membenci sesuatu itu disebut bersamanya apalagi diakhirkan saat diseru. Dan sering kami dapati dalam do’a-do’a para pengikut hawa nafsu itu dengan diucapkan lafadz padanya “Wa ilaa Arwaahi fulan dst” yang tidak sedikit padanya didapati menjadi sebab syirik akbar. Kami dapati sebagian pengikut hawa nafsu itu dengan kebodohanya di ucapkan lafadz saat penyembelihan “ Bismillahi wa ilaa arwahi dst.... “ ini diucapkan pada ibadah qurban idul adha aqiqah dan selamatan lainya, diantara mereka ada yang mempersembahkan sebagian sembelihanya itu seperti kepala sapi itu untuk jin, jibt dan thaguut dengan membungkusnya dengan kain putih menghiasinya dan membuat acara (seremonial) di hari yang mereka anggap besar (raya/id), dengan bacaan-bacaan bid’ah yang bahkan terkadang didalamnya terkandung kesyirikan berupa pengharapan dan permohonan padanya. Ini adalah kesyirikan yang nyata. Naam, diantaranya mungkin ini dimaksudkan untuk meghadiahkan pahala mereka namun pelafadzan seperti ini adalah salah dalam ucapan dan amal yang dapat menyebabkan tidak diterimanya amalan tersebut bahkan dapat menyebabkan pelakuknya kepada kesyirikan. Ini semua disebabkan kebodohan akan makna tauhid . Diantara kebodohanya tentang maknanya adalah, karena ia menjadikan sekutu untuk allah dalam cinta dan lainya, kebodohan yang menafikan pengetahuan tentang keikhlasan yang ditunjukkanya, dan ia tidak jujur dalam mengucapkanya.

Syaikh berkata : Maka barangsiapa menjadikan sekutu bagi Allah, berarti ia menyeru kepada selain Allah, mencintainya dan berharap sesuatu yang ia cita-citakan darinya untuk memenuhi hajatnya dan menyingkirkan petaka-petakanya seperti perilaku penyembah-penyembah kubur, thagut dan berhala-berhala. Tentu mereka meng agungkanya dan mencintai mereka. Sesungguhnya mereka mencintai sesembahan beserta Allah, meskipun mencintai Allah ta’ala dan mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, mengerjakan shalat dan berpuasa. Mereka telah menyekutukan allah dalam sisi kecintaan dengan mencintai dan menyembah selain-Nya. Karena mereka telah menjadikan sekutu-sekutu. Mereka mencintai sekutu-sekutu tersebut sebagaimana cinta kepada allah. Maka batallah segala apa yang mereka ucapkan dan amalkan. Karena orang musyrik amalnya tidak akan diterima dan tidak sah darinya, meskipun mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Mereka telah meninggalkan segala ikatan, dimana kalimat yang agung ini di ikat denganya, yaitu pengetahuan dan keyakinan, karena orang musyrik itu bodoh terhadap maknanya.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata : “Meng-Esa-kan yang dicintai bukanlah dengan menjadikan dzat yang dicintai berbilang-bilang. Maksudnya, membuat bilangan beserta allah dengan beribadah kepadanya. Tauhid cinta, yaitu hendaklah tidak tersisa dalam hatinya kecintaan kecuali telah mencurahkan kepada-Nya. Inilah cinta. Dan jika disebut kekasih, berarti ia adalah kebaikan tertinggi seorang hamba, kenikmatanya, dan belahan hatinya, dan didalam hatinya tidak ada kebaikan dan kenikmatan kecuali jika Allah dan Rasulnya lebih dia cintai daripada yang lain. Hendaklah cintanya kepada selain Allah ditujukan karena cinta kepada allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih :

ثلاث من كان فيه وجد حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحبّ إليه ممّا سواهما, وأن يحبّ المرء لا يحبه إلّا الله وأن يكره أن يعود إلى الكفر كما يكره أن يلقى في النّار.

Ada tiga perkara, barang siapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, yaitu : Allah dan Rasulnya lebih dicintai-Nya daripada yang lain, mencintai seseorang tiada lain hanya karena allah, dan tidak mau kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah darinya sebagaimana dia tidak mau kalau dicampakan ke dalam api neraka.”

Mencintai Rasul-Nya berarti mencintai-Nya, mencintai seseorang jika karena Allah, maka ia adalah bagian cinta kepada Allah. Jika bukan karena Allah, maka itu termasuk pengurangan dan penggerogotan cinta kepada allah. Kecintaan ini tercermin, jika sesuatu yang dibencinya adalah sesuatu yang dibenci Dzat yang dicintai- yaitu kufur – dengan kebencian kalau ia dilempar kedalam neraka atau lebih besar lagi. Tidak diragukan lagi, bahwa hal ini termasuk cinta yang paling agung, karena orang itu tidak mendahulukan cintanya kepada sesuatu. Jika mendahulukan cinta keimanan kepada allah atas dirinya, dimana dia seandainya disuruh memilih antara kafir dan dilempar ke dalam api, tentu dia memilih dimasukan kedalam api dan tidak berbuat kufur. Berarti dia telah mencintai allah daripada dirinya. Cinta seperti ini berada diatas apa yang didapatkan orang-orang yang bercinta daripada kecintaan mereka kepada kekasih mereka.

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. At Taubah (9) : 24

Ayyuhal ikhwah inilah pondasi aqidah yang pertama dan utama dalam tauhid Asma wa sifat. Yaitu terkandung hukum didalamnya untuk meninggikan allah ta’ala meng agungkanya, mendahulukanya dan memuliakanya. Sehingga bentuk pelecehan atasnya adalah kekafiran. Memuji allah ta’ala dalam setiap kondisi dalam i’tiqad, ucapan (lisan), dan perbuatan. Maha suci allah dengan segala keluhuran dan kemuliaanya. Bahkan cinta seperti ini tidak dapat dibandingkan, sebagaimana tidak ada bandingan bagi orang yang memilikinya, yaitu cinta yang membuahkan pengutamaan sang kekasih daripada jiwa, harta dan anaknya. Juga membuahkan kesempurnaan ketundukan, rendah diri, mengagungkan, membesarkan, mentaati dan takut secara lahir bathin. Ini tidak ada bandinganya dalam mencintai mahluk walau apapun besarnya mahluk itu. Maka dari itu, orang yang membuat sekutu diantara allah dan antara yang lain dalam cinta yang bersifat khusus, maka itu adalah suatu kesyirikan yang Allah tidak mengampuninya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). Al Baqarah (2) : 165

Makna ayat ini, sesungguhnya orang-orang yang beriman lebih mencintai allah daripada kecintaan pemilik-pemilik sekutu kepada sekutu-sekutu mereka, sebagaimana telah diterangkan. Bahwa kecintaan orang-orang mukmin kepada tuhan mereka tidak dapat dibandingkan dengan kecintaan kepada mahluk sama sekali. Dzat yang mereka cintai tidak dapat dibandingkan dengan lain-Nya. Rasa sakit dalam mencintai selain-Nya adalah kenikmatan dalam mencintai-Nya, dan kebencian dalam mencintai selain-Nya adalah suatu kesenangan dalam mencintai-Nya.