KETAATAN KEPADA SELAIN-NYA DAN MENYELISIHI-NYA ADALAH KESYIRIKAN.
TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH.
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ
وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا
أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا
يُشْرِكُونَ
Mereka
menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain
Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka
hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. At Taubah (9) : 31
Tafsir Surat At-Taubah, ayat 30-31
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka
sebagai Tuhan selain-Allah,
Imam Ahmad, Imam Turmuzi, dan
Imam Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui berbagai jalur dari Addi ibnu Hatim
r.a. yang menceritakan:
أَنَّهُ لَمَّا بَلَغَتْهُ دَعْوَةُ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فرَّ إِلَى الشَّامِ، وَكَانَ قَدْ تَنَصَّرَ
فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَأُسِرَتْ أُخْتُهُ وَجَمَاعَةٌ مِنْ قَوْمِهِ، ثمَّ منَّ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أُخْتِهِ وَأَعْطَاهَا، فَرَجَعَتْ
إِلَى أَخِيهَا، ورَغَّبته فِي الْإِسْلَامِ وَفِي الْقُدُومِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَدِمَ عَدِيّ الْمَدِينَةَ، وَكَانَ رَئِيسًا
فِي قَوْمِهِ طَيِّئٍ، وَأَبُوهُ حَاتِمٌ الطَّائِيُّ الْمَشْهُورُ بِالْكَرَمِ، فتحدَّث
النَّاسُ بِقُدُومِهِ، فَدَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَفِي عُنُقِ عَدِيّ صَلِيبٌ مِنْ فِضَّةٍ، فَقَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: {اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا
مِنْ دُونِ اللَّهِ} قَالَ: فَقُلْتُ: إِنَّهُمْ لَمْ يَعْبُدُوهُمْ. فَقَالَ:
"بَلَى، إِنَّهُمْ حَرَّمُوا عَلَيْهِمُ الْحَلَالَ، وَأَحَلُّوا لَهُمُ الْحَرَامَ،
فَاتَّبَعُوهُمْ، فَذَلِكَ عِبَادَتُهُمْ إِيَّاهُمْ". وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا عَدِيُّ، مَا تَقُولُ؟ أيُفرّك أَنْ
يُقَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ؟ فَهَلْ تَعْلَمُ شَيْئًا أَكْبَرَ مِنَ اللَّهِ؟ مَا يُفرك؟
أَيُفِرُّكَ أَنْ يُقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ فَهَلْ تَعْلَمُ مِنْ إِلَهٍ
إِلَّا اللَّهُ"؟ ثُمَّ دَعَاهُ إِلَى الْإِسْلَامِ فَأَسْلَمَ، وَشَهِدَ شَهَادَةَ
الْحَقِّ، قَالَ: فَلَقَدْ رأيتُ وَجْهَهُ اسْتَبْشَرَ ثُمَّ قَالَ: "إِنَّ الْيَهُودَ
مَغْضُوبٌ عَلَيْهِمْ، وَالنَّصَارَى ضَالُّونَ"
Bahwa
ketika sampai kepadanya dakwah dari Rasulullah Saw., ia lari ke negeri Syam.
Sejak zaman Jahiliah ia telah masuk agama Nasrani, kemudian saudara
perempuannya ditahan bersama sejumlah orang dari kaumnya. Lalu Rasulullah Saw.
menganugerahkan kebebasan kepada saudara perempuan Addi ibnu Hatim dan
memberinya hadiah. Saudara perempuan Addi ibnu Hatim kembali kepada saudara
lelakinya dan menganjurkannya untuk masuk Islam dan menghadap kepada Rasulullah
Saw. Akhirnya Addi datang ke Madinah. Dia adalah pemimpin kaumnya, yaitu
kabilah Tayyi'; dan ayahnya (yaitu Hatim At-Tai') terkenal dengan
kedermawanannya. Maka orang-orang Madinah ramai membicarakan kedatangan Addi
ibnu Hatim. Addi masuk menemui Rasulullah Saw., sedangkan pada leher Addi
tergantung salib yang terbuat dari perak. Saat itu Rasulullah Saw. sedang
membacakan firman-Nya: Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib
mereka sebagai Tuhan selain Allah. (At-Taubah: 31) Addi melanjutkan kisahnya,
bahwa ia menjawab, "Sesungguhnya mereka tidak menyembahnya."
Rasulullah Saw. bersabda: Tidak, sesungguhnya mereka mengharamkan hal yang
halal bagi para pengikutnya dan menghalalkan hal yang haram bagi mereka, lalu
mereka mengikutinya; yang demikian itulah ibadah mereka kepada orang-orang alim
dan rahib-rahib mereka. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, "Hai Addi,
bagaimanakah pendapatmu. Apakah membahayakan bila dikatakan Allah Mahabesar?
Apakah kamu mengetahui sesuatu yang lebih besar daripada Allah bila Allah
menimpakan bahaya kepadamu? Apakah membahayakanmu bila dikatakan bahwa tidak
ada Tuhan selain Allah? Apakah kamu mengetahui ada Tuhan selain Allah?"
Rasulullah Saw. mengajaknya masuk Islam. Akhirnya Addi masuk Islam dan
mengucapkan syahadat yang benar. Addi melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu ia
melihat wajah Rasulullah Saw. bersinar ceria, lalu bersabda: Sesungguhnya
orang-orang Yahudi itu dimurkai dan orang-orang Nasrani itu orang-orang yang
sesat.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Huzaifah ibnul Yaman,
Abdullah ibnu Abbas, dan lain-lainnya sehubungan dengan tafsir firman-Nya:
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan
selain Allah. (At-Taubah: 31) Bahwa sesungguhnya mereka mengikuti ulama dan
rahibnya dalam semua yang dihalalkan dan yang diharamkan oleh mereka.
As-Saddi mengatakan, "Mereka meminta saran dari
orang-orang alim mereka, sedangkan Kitabullah mereka lemparkan di belakang
punggungnya."
Karena itulah Allah Swt. berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا
Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa.
(At-Taubah: 31)
Maksudnya, Tuhan yang apabila mengharamkan sesuatu, maka
jadilah sesuatu itu diharamkan, apa yang dihalalkan-Nya menjadi halal, apa yang
disyariatkan-Nya (diperintahkan-Nya) harus diikuti, dan apa yang telah diputuskan-Nya
harus dilaksanakan.
لَا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Tidak ada Tuhan selain Dia, Mahasuci Allah dari apa yang
mereka persekutukan. (At-Taubah: 31)
Yakni Mahatinggi, Mahasuci, dan Mahabersih Allah dari
sekutu-sekutu, tandingan-tandingan, pembantu-pembantu, serta lawan-lawan dan
anak. Tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia.
Ayyuhal ikhwah inilah
pondasi aqidah yang pertama dan
utama dalam tauhid uluhiyyah. Sehingga terkandung hukum wajibnya menafikkan semua
ketaatan kepada selainya dalam menyelisihi ketetapan hukum-hukum aturan
perintah larangan halal dan haram melainkan hak ini hanya ada pada-Nya. Jika
kita berbicara tentang hukum ushul maka hukum-hukumnya mutlak pada sifat
keumumanya sedangkan pada kekhususanya adalah pada perincian dari setiap
permasalahan itu sendiri sebagaimana penjelasanya telah kami sampaikan pada
Rubrik “Hukum Allah” yang tidak semua permasalahan itu adalah merupakan
kekafiran/kesyirikan sebagaimana pada perincian masalah “Hukum-hukum yang tidak
tetap (qath’i) sharih dari allah dan rasulnya dan bab Hukum atau
perudang-udangan buatan manusia yang tidak bertentangan dengan hukum allah
ta’ala dan rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Untuk lebih lengkapnya
dipersilahkan untuk merujuk padanya. Demikian kami sampaikan untuk dapat di
fahami.
Syaikhul
islam berkata dalam menjelaskan makna firman Allah :
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا
مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا
إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Mereka
menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain
Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka
hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. At Taubah (9) : 31

Tidak ada komentar:
Posting Komentar