Rabu, 14 September 2022

MENCINTAI SELAIN-NYA DAN MENDAHULUKAN SELAIN-NYA ADALAH BAGIAN DARI KESYIRIKAN


TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH.

Disarikan dengan penambahan dan pengurangan dari kitab fathul majid syaikh abdurrahman hasan alu syaikh penjelasan kitab tauhid (syaikh muhammad bin abdul wahhab) bab “tafsiran tauhid dan syahadat laa ilaaha illallah” untuk dapat di fahami dengan mudah. Aamiin.

Dan mereka mereka mencintai sesembahan-sesembahan selain allah itu dengan berdo’a kepadanya memuliakan kuburan-kuburan mereka beribadah didalamnya, memuliakan nya dengan meninggikan kubah-kubah diatas kuburan-kuburan itu. Hal itu tidak akan dilakukan tanpa dasar cinta dan menganggapnya dengan pemuliaan yang penuh penghormatan.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). Al Baqarah (2) : 165.

Ibnu jarir meriwayatkan dari mujahid dalam menafsiri ayat ini : “ mereka membanggakan dan menyamakan tuhan-tuhan tandingan itu dengan allah. Maha suci allah dari sekutu-sekutu, “Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada allah.” (Al Baqarah : 165)” daripada cintanya orang-orang kafir kepada berhala-berhala mereka”.

Ayat ini menerangkan, bahwa orang yang menyekutukan Allah dengan yang selain-Nya dalam cinta, maka ia telah menjadikanya sekutu dalam ibadah dan menjadikanya sesembahanselain allah. Hal itu adalah syirik yang tidak diampuni Allah. Sebagaimana allah ta’ala berfirman menjelaskan keadaan mereka “Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.”

Ayat ini juga menjelaskan tentang keadaan mereka yang mencintai sekutu-sekutu mereka seperti cinta mereka kepada Allah. Mereka mencintai Allah dengan cinta yang sangat besar, sementara hal itu tidak menjadikan diri mereka disebut sebagai musliim. Maka bagaimana halnya dengan orang yang mencintai sekutu-sekutunya itu lebih besar daripada cinta kepada Allah? Lalu bagaimana denga orang yang hanya mencintai sekutu-Nya saja ?

Mereka mencintai andaad (tandingan/sekutu) bagi allah itu dengan kecintaan yang melampaui batas, tertuang dalam hukum-hukum yang di ikuti, dalam nyanyian-nyanyian dan puji-pujian, dalam syair-syair mereka, dalam amalan-amalan mereka yaitu dengan melebih-lebihkannya melebihi dari apa yang diperintahkan allah ta’ala. Lebih dahulu menyebut nya dalam keseharianya, membuat patung-patung, membuat gambar, membuat symbol-symbol untuk di gantungkan dileher, didinding, al tar dan sebagainya sehingga apa yang terlihat di hadapan lebih mereka cintai dan terpatri dalam hati mereka daripada yang tidak terlihat itu. Sebagaimana keadaan manusia di zaman ini yang membuat patung atau rupaka, membuat gambar-gambar panutan mereka di rumah-rumah, menjadikan hiasan kota dan di jalan-jalan di mall dan pusat perbelanjaan dengan gambar dan patung dari tokoh atau figur yang mereka bangga-banggakan. Sebagian ahli bid’ah menyimpan photo-photo mereka yang di anggap waliyullah dengan anggapan-anggapan bid’ah. Dengan harapan untuk mendapatkan keberkahan, keselamatan, dijauhkan dari bahaya gangguan jin bahkan sebagianya berkeyakinan agar ruh yang di cintainya itu hadir padanya dan mengangkatnya menjadi wali sebagai sertifikasi yang hadir dalam mimpi-mimpi. Dan apa yang mereka idolakan itu memalingkan dari mengingat allah sehingga allah merasa cemburu (marah) karenanya. Mereka lebih menuruti peribadatan yang diada-adakan (bid’ah) itu dibanding mengamalkan perintah diatas i’tiba dan sunnah. Mereka mengucapkan sanjungan-sanjungan yang melampaui batas sehingga allah murka disebabkan apa yang mereka ucapkan itu. Maka tidak dapat disamakan hukum gambar (foto) yang dipajang dengan alasan dokumentasi dengan memajangnya karena cinta, penghormatan, meng idolakan atau penyanjungan apalagi sampai pada tingkat ghuluw yang menyebabkan terjatuhnya manusia kepada kebid’ahan dan kesyirikan, ini semisal perbuatan kaum terdahulu yang tersesat karenanya. Terjadi pengkultusan terhadap kuburan para nabi, wali, ahlul bayt dan lain-lainya.

Terjadi pengkultusan atas figur-figur (tokoh) yang di anggap mulia. Ini tidaklah terjadi tanpa rasa cinta atasnya. Dibumbui dengan karomah dan fadhilah dari mulut-mulut para pendusta semakin besarlah fitnah dalam syirik yang menafikkan tauhid, karena telah terjadi pengkultusan terhadap orang-orang mati dan mengagungkan mereka dengan ibadah. Maka dengan segala sesuatu yang digeluti kebanyakan orang ini jadilah seolah-olah kebaikan menjadi kemunkaran, dan kemunkaran menjadi kebaikan. Seolah-olah bid’ah menjadi sunnah dan sunnah dianggap manusia sebagai bid’ah. Dan terus berkembang turun temurun.

Syaikhul islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Barang siapa lebih senang kepada selain Allah dalam memenuhi suatu hajat atau dalam menyingkirkan suatu petaka, maka ia pasti mencintainya, dan kecintaannya itulah yang menjadi landasan dalam hal itu.

Firman Allah ta’ala :

وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالأنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami." Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. Al An’aam (6) : 136

Dan diantara mereka membuka do’a-do’a mereka dengan menyebut nama-nama (sesembahan selain allah) yang mereka anggap dapat mendekatkan mereka kepada allah yang hakikatnya inilah penyembahan mereka disisi allah ta’ala terhadap sekutu-sekutu allah yang memalingkan dari tauhid yaitu meng esakan-nya tanpa ada sesuatu apapun bersamanya. Mereka beranggapan bahwa untuk sampainya do’a ke langit ketujuh haruslah dengan membuka pintu langit (alam gha’ib) dengan menyampaikan hadiah di bacakan untuk wali yang mereka anggap dapat membukanya pada setiap tingkatan pintu gha’ib yang hendak dibuka. Mereka terlebih dahulu menyebut nama-nama itu sebelum menyebut nama allah ta’ala sedangkan dia membenci sesuatu itu disebut bersamanya apalagi diakhirkan saat diseru. Dan sering kami dapati dalam do’a-do’a para pengikut hawa nafsu itu dengan diucapkan lafadz padanya “Wa ilaa Arwaahi fulan dst” yang tidak sedikit padanya didapati menjadi sebab syirik akbar. Kami dapati sebagian pengikut hawa nafsu itu dengan kebodohanya di ucapkan lafadz saat penyembelihan “ Bismillahi wa ilaa arwahi dst.... “ ini diucapkan pada ibadah qurban idul adha aqiqah dan selamatan lainya, diantara mereka ada yang mempersembahkan sebagian sembelihanya itu seperti kepala sapi itu untuk jin, jibt dan thaguut dengan membungkusnya dengan kain putih menghiasinya dan membuat acara (seremonial) di hari yang mereka anggap besar (raya/id), dengan bacaan-bacaan bid’ah yang bahkan terkadang didalamnya terkandung kesyirikan berupa pengharapan dan permohonan padanya. Ini adalah kesyirikan yang nyata. Naam, diantaranya mungkin ini dimaksudkan untuk meghadiahkan pahala mereka namun pelafadzan seperti ini adalah salah dalam ucapan dan amal yang dapat menyebabkan tidak diterimanya amalan tersebut bahkan dapat menyebabkan pelakuknya kepada kesyirikan. Ini semua disebabkan kebodohan akan makna tauhid . Diantara kebodohanya tentang maknanya adalah, karena ia menjadikan sekutu untuk allah dalam cinta dan lainya, kebodohan yang menafikan pengetahuan tentang keikhlasan yang ditunjukkanya, dan ia tidak jujur dalam mengucapkanya.

Syaikh berkata : Maka barangsiapa menjadikan sekutu bagi Allah, berarti ia menyeru kepada selain Allah, mencintainya dan berharap sesuatu yang ia cita-citakan darinya untuk memenuhi hajatnya dan menyingkirkan petaka-petakanya seperti perilaku penyembah-penyembah kubur, thagut dan berhala-berhala. Tentu mereka meng agungkanya dan mencintai mereka. Sesungguhnya mereka mencintai sesembahan beserta Allah, meskipun mencintai Allah ta’ala dan mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, mengerjakan shalat dan berpuasa. Mereka telah menyekutukan allah dalam sisi kecintaan dengan mencintai dan menyembah selain-Nya. Karena mereka telah menjadikan sekutu-sekutu. Mereka mencintai sekutu-sekutu tersebut sebagaimana cinta kepada allah. Maka batallah segala apa yang mereka ucapkan dan amalkan. Karena orang musyrik amalnya tidak akan diterima dan tidak sah darinya, meskipun mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Mereka telah meninggalkan segala ikatan, dimana kalimat yang agung ini di ikat denganya, yaitu pengetahuan dan keyakinan, karena orang musyrik itu bodoh terhadap maknanya.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata : “Meng-Esa-kan yang dicintai bukanlah dengan menjadikan dzat yang dicintai berbilang-bilang. Maksudnya, membuat bilangan beserta allah dengan beribadah kepadanya. Tauhid cinta, yaitu hendaklah tidak tersisa dalam hatinya kecintaan kecuali telah mencurahkan kepada-Nya. Inilah cinta. Dan jika disebut kekasih, berarti ia adalah kebaikan tertinggi seorang hamba, kenikmatanya, dan belahan hatinya, dan didalam hatinya tidak ada kebaikan dan kenikmatan kecuali jika Allah dan Rasulnya lebih dia cintai daripada yang lain. Hendaklah cintanya kepada selain Allah ditujukan karena cinta kepada allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih :

ثلاث من كان فيه وجد حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحبّ إليه ممّا سواهما, وأن يحبّ المرء لا يحبه إلّا الله وأن يكره أن يعود إلى الكفر كما يكره أن يلقى في النّار.

Ada tiga perkara, barang siapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, yaitu : Allah dan Rasulnya lebih dicintai-Nya daripada yang lain, mencintai seseorang tiada lain hanya karena allah, dan tidak mau kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah darinya sebagaimana dia tidak mau kalau dicampakan ke dalam api neraka.”

Mencintai Rasul-Nya berarti mencintai-Nya, mencintai seseorang jika karena Allah, maka ia adalah bagian cinta kepada Allah. Jika bukan karena Allah, maka itu termasuk pengurangan dan penggerogotan cinta kepada allah. Kecintaan ini tercermin, jika sesuatu yang dibencinya adalah sesuatu yang dibenci Dzat yang dicintai- yaitu kufur – dengan kebencian kalau ia dilempar kedalam neraka atau lebih besar lagi. Tidak diragukan lagi, bahwa hal ini termasuk cinta yang paling agung, karena orang itu tidak mendahulukan cintanya kepada sesuatu. Jika mendahulukan cinta keimanan kepada allah atas dirinya, dimana dia seandainya disuruh memilih antara kafir dan dilempar ke dalam api, tentu dia memilih dimasukan kedalam api dan tidak berbuat kufur. Berarti dia telah mencintai allah daripada dirinya. Cinta seperti ini berada diatas apa yang didapatkan orang-orang yang bercinta daripada kecintaan mereka kepada kekasih mereka.

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. At Taubah (9) : 24

Ayyuhal ikhwah inilah pondasi aqidah yang pertama dan utama dalam tauhid Asma wa sifat. Yaitu terkandung hukum didalamnya untuk meninggikan allah ta’ala meng agungkanya, mendahulukanya dan memuliakanya. Sehingga bentuk pelecehan atasnya adalah kekafiran. Memuji allah ta’ala dalam setiap kondisi dalam i’tiqad, ucapan (lisan), dan perbuatan. Maha suci allah dengan segala keluhuran dan kemuliaanya. Bahkan cinta seperti ini tidak dapat dibandingkan, sebagaimana tidak ada bandingan bagi orang yang memilikinya, yaitu cinta yang membuahkan pengutamaan sang kekasih daripada jiwa, harta dan anaknya. Juga membuahkan kesempurnaan ketundukan, rendah diri, mengagungkan, membesarkan, mentaati dan takut secara lahir bathin. Ini tidak ada bandinganya dalam mencintai mahluk walau apapun besarnya mahluk itu. Maka dari itu, orang yang membuat sekutu diantara allah dan antara yang lain dalam cinta yang bersifat khusus, maka itu adalah suatu kesyirikan yang Allah tidak mengampuninya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). Al Baqarah (2) : 165

Makna ayat ini, sesungguhnya orang-orang yang beriman lebih mencintai allah daripada kecintaan pemilik-pemilik sekutu kepada sekutu-sekutu mereka, sebagaimana telah diterangkan. Bahwa kecintaan orang-orang mukmin kepada tuhan mereka tidak dapat dibandingkan dengan kecintaan kepada mahluk sama sekali. Dzat yang mereka cintai tidak dapat dibandingkan dengan lain-Nya. Rasa sakit dalam mencintai selain-Nya adalah kenikmatan dalam mencintai-Nya, dan kebencian dalam mencintai selain-Nya adalah suatu kesenangan dalam mencintai-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar