TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH.
Disarikan dengan penambahan dan pengurangan dari kitab fathul majid syaikh abdurrahman hasan alu syaikh penjelasan kitab tauhid (syaikh muhammad bin abdul wahhab) bab “tafsiran tauhid dan syahadat laa ilaaha illallah” untuk dapat di fahami dengan mudah. Aamiin.
Dan mereka mereka mencintai sesembahan-sesembahan selain
allah itu dengan berdo’a kepadanya memuliakan kuburan-kuburan mereka beribadah
didalamnya, memuliakan nya dengan meninggikan kubah-kubah diatas
kuburan-kuburan itu. Hal itu tidak akan dilakukan tanpa dasar cinta dan
menganggapnya dengan pemuliaan yang penuh penghormatan.
وَمِنَ النَّاسِ
مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ
آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ
أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Dan
diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain
Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun
orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya
orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada
hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat
berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). Al Baqarah (2) : 165.
Ibnu jarir meriwayatkan dari mujahid dalam menafsiri ayat
ini : “ mereka membanggakan dan menyamakan tuhan-tuhan tandingan itu dengan
allah. Maha suci allah dari sekutu-sekutu, “Adapun orang-orang yang beriman
amat sangat cintanya kepada allah.” (Al Baqarah : 165)” daripada cintanya
orang-orang kafir kepada berhala-berhala mereka”.
Ayat ini menerangkan, bahwa orang yang menyekutukan Allah
dengan yang selain-Nya dalam cinta, maka ia telah menjadikanya sekutu dalam
ibadah dan menjadikanya sesembahanselain allah. Hal itu adalah syirik yang
tidak diampuni Allah. Sebagaimana allah ta’ala berfirman menjelaskan keadaan
mereka “Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.”
Ayat ini juga menjelaskan tentang keadaan mereka yang
mencintai sekutu-sekutu mereka seperti cinta mereka kepada Allah. Mereka
mencintai Allah dengan cinta yang sangat besar, sementara hal itu tidak
menjadikan diri mereka disebut sebagai musliim. Maka bagaimana halnya dengan
orang yang mencintai sekutu-sekutunya itu lebih besar daripada cinta kepada
Allah? Lalu bagaimana denga orang yang hanya mencintai sekutu-Nya saja ?
Mereka mencintai andaad (tandingan/sekutu) bagi allah itu
dengan kecintaan yang melampaui batas, tertuang dalam hukum-hukum yang di
ikuti, dalam nyanyian-nyanyian dan puji-pujian, dalam syair-syair mereka, dalam
amalan-amalan mereka yaitu dengan melebih-lebihkannya melebihi dari apa yang
diperintahkan allah ta’ala. Lebih dahulu menyebut nya dalam keseharianya,
membuat patung-patung, membuat gambar, membuat symbol-symbol untuk di
gantungkan dileher, didinding, al tar dan sebagainya sehingga apa yang terlihat
di hadapan lebih mereka cintai dan terpatri dalam hati mereka daripada yang
tidak terlihat itu. Sebagaimana keadaan manusia di zaman ini yang membuat
patung atau rupaka, membuat gambar-gambar panutan mereka di rumah-rumah,
menjadikan hiasan kota dan di jalan-jalan di mall dan pusat perbelanjaan dengan
gambar dan patung dari tokoh atau figur yang mereka bangga-banggakan. Sebagian
ahli bid’ah menyimpan photo-photo mereka yang di anggap waliyullah dengan
anggapan-anggapan bid’ah. Dengan harapan untuk mendapatkan keberkahan,
keselamatan, dijauhkan dari bahaya gangguan jin bahkan sebagianya berkeyakinan
agar ruh yang di cintainya itu hadir padanya dan mengangkatnya menjadi wali
sebagai sertifikasi yang hadir dalam mimpi-mimpi. Dan apa yang mereka idolakan
itu memalingkan dari mengingat allah sehingga allah merasa cemburu (marah)
karenanya. Mereka lebih menuruti peribadatan yang diada-adakan (bid’ah) itu
dibanding mengamalkan perintah diatas i’tiba dan sunnah. Mereka mengucapkan
sanjungan-sanjungan yang melampaui batas sehingga allah murka disebabkan apa
yang mereka ucapkan itu. Maka tidak dapat disamakan hukum gambar (foto) yang
dipajang dengan alasan dokumentasi dengan memajangnya karena cinta,
penghormatan, meng idolakan atau penyanjungan apalagi sampai pada tingkat
ghuluw yang menyebabkan terjatuhnya manusia kepada kebid’ahan dan kesyirikan,
ini semisal perbuatan kaum terdahulu yang tersesat karenanya. Terjadi
pengkultusan terhadap kuburan para nabi, wali, ahlul bayt dan lain-lainya.
Terjadi pengkultusan atas figur-figur (tokoh) yang di
anggap mulia. Ini tidaklah terjadi tanpa rasa cinta atasnya. Dibumbui dengan
karomah dan fadhilah dari mulut-mulut para pendusta semakin besarlah fitnah
dalam syirik yang menafikkan tauhid, karena telah terjadi pengkultusan terhadap
orang-orang mati dan mengagungkan mereka dengan ibadah. Maka dengan segala
sesuatu yang digeluti kebanyakan orang ini jadilah seolah-olah kebaikan menjadi
kemunkaran, dan kemunkaran menjadi kebaikan. Seolah-olah bid’ah menjadi sunnah
dan sunnah dianggap manusia sebagai bid’ah. Dan terus berkembang turun temurun.
Syaikhul islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Barang
siapa lebih senang kepada selain Allah dalam memenuhi suatu hajat atau dalam
menyingkirkan suatu petaka, maka ia pasti mencintainya, dan kecintaannya itulah
yang menjadi landasan dalam hal itu.
Firman Allah ta’ala :
وَجَعَلُوا لِلَّهِ
مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالأنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ
وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا
كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
Dan
mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah
diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka:
"Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami." Maka
saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada
Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai
kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. Al An’aam
(6) : 136
Dan diantara mereka membuka do’a-do’a mereka dengan
menyebut nama-nama (sesembahan selain allah) yang mereka anggap dapat
mendekatkan mereka kepada allah yang hakikatnya inilah penyembahan mereka
disisi allah ta’ala terhadap sekutu-sekutu allah yang memalingkan dari tauhid
yaitu meng esakan-nya tanpa ada sesuatu apapun bersamanya. Mereka beranggapan bahwa
untuk sampainya do’a ke langit ketujuh haruslah dengan membuka pintu langit
(alam gha’ib) dengan menyampaikan hadiah di bacakan untuk wali yang mereka
anggap dapat membukanya pada setiap tingkatan pintu gha’ib yang hendak dibuka.
Mereka terlebih dahulu menyebut nama-nama itu sebelum menyebut nama allah
ta’ala sedangkan dia membenci sesuatu itu disebut bersamanya apalagi diakhirkan
saat diseru. Dan sering kami dapati dalam do’a-do’a para pengikut hawa nafsu
itu dengan diucapkan lafadz padanya “Wa ilaa Arwaahi fulan dst” yang tidak
sedikit padanya didapati menjadi sebab syirik akbar. Kami dapati sebagian
pengikut hawa nafsu itu dengan kebodohanya di ucapkan lafadz saat penyembelihan
“ Bismillahi wa ilaa arwahi dst.... “ ini diucapkan pada ibadah qurban idul
adha aqiqah dan selamatan lainya, diantara mereka ada yang mempersembahkan
sebagian sembelihanya itu seperti kepala sapi itu untuk jin, jibt dan thaguut
dengan membungkusnya dengan kain putih menghiasinya dan membuat acara
(seremonial) di hari yang mereka anggap besar (raya/id), dengan bacaan-bacaan
bid’ah yang bahkan terkadang didalamnya terkandung kesyirikan berupa
pengharapan dan permohonan padanya. Ini adalah kesyirikan yang nyata. Naam,
diantaranya mungkin ini dimaksudkan untuk meghadiahkan pahala mereka namun
pelafadzan seperti ini adalah salah dalam ucapan dan amal yang dapat
menyebabkan tidak diterimanya amalan tersebut bahkan dapat menyebabkan
pelakuknya kepada kesyirikan. Ini semua disebabkan kebodohan akan makna tauhid
. Diantara kebodohanya tentang maknanya adalah, karena ia menjadikan sekutu
untuk allah dalam cinta dan lainya, kebodohan yang menafikan pengetahuan
tentang keikhlasan yang ditunjukkanya, dan ia tidak jujur dalam mengucapkanya.
Syaikh berkata : Maka barangsiapa menjadikan sekutu bagi
Allah, berarti ia menyeru kepada selain Allah, mencintainya dan berharap
sesuatu yang ia cita-citakan darinya untuk memenuhi hajatnya dan menyingkirkan
petaka-petakanya seperti perilaku penyembah-penyembah kubur, thagut dan
berhala-berhala. Tentu mereka meng agungkanya dan mencintai mereka.
Sesungguhnya mereka mencintai sesembahan beserta Allah, meskipun mencintai
Allah ta’ala dan mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, mengerjakan shalat dan
berpuasa. Mereka telah menyekutukan allah dalam sisi kecintaan dengan mencintai
dan menyembah selain-Nya. Karena mereka telah menjadikan sekutu-sekutu. Mereka
mencintai sekutu-sekutu tersebut sebagaimana cinta kepada allah. Maka batallah
segala apa yang mereka ucapkan dan amalkan. Karena orang musyrik amalnya tidak
akan diterima dan tidak sah darinya, meskipun mereka mengucapkan Laa Ilaaha
Illallah. Mereka telah meninggalkan segala ikatan, dimana kalimat yang agung
ini di ikat denganya, yaitu pengetahuan dan keyakinan, karena orang musyrik itu
bodoh terhadap maknanya.
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata : “Meng-Esa-kan yang
dicintai bukanlah dengan menjadikan dzat yang dicintai berbilang-bilang.
Maksudnya, membuat bilangan beserta allah dengan beribadah kepadanya. Tauhid
cinta, yaitu hendaklah tidak tersisa dalam hatinya kecintaan kecuali telah
mencurahkan kepada-Nya. Inilah cinta. Dan jika disebut kekasih, berarti ia
adalah kebaikan tertinggi seorang hamba, kenikmatanya, dan belahan hatinya, dan
didalam hatinya tidak ada kebaikan dan kenikmatan kecuali jika Allah dan Rasulnya
lebih dia cintai daripada yang lain. Hendaklah cintanya kepada selain Allah
ditujukan karena cinta kepada allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih
:
ثلاث من كان فيه
وجد حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحبّ إليه ممّا سواهما, وأن يحبّ المرء لا
يحبه إلّا الله وأن يكره أن يعود إلى الكفر كما يكره أن يلقى في النّار.
“Ada tiga perkara, barang siapa terdapat dalam dirinya
ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, yaitu : Allah dan
Rasulnya lebih dicintai-Nya daripada yang lain, mencintai seseorang tiada lain
hanya karena allah, dan tidak mau kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan
oleh Allah darinya sebagaimana dia tidak mau kalau dicampakan ke dalam api
neraka.”
Mencintai Rasul-Nya berarti mencintai-Nya, mencintai
seseorang jika karena Allah, maka ia adalah bagian cinta kepada Allah. Jika
bukan karena Allah, maka itu termasuk pengurangan dan penggerogotan cinta
kepada allah. Kecintaan ini tercermin, jika sesuatu yang dibencinya adalah
sesuatu yang dibenci Dzat yang dicintai- yaitu kufur – dengan kebencian kalau
ia dilempar kedalam neraka atau lebih besar lagi. Tidak diragukan lagi, bahwa
hal ini termasuk cinta yang paling agung, karena orang itu tidak mendahulukan
cintanya kepada sesuatu. Jika mendahulukan cinta keimanan kepada allah atas
dirinya, dimana dia seandainya disuruh memilih antara kafir dan dilempar ke
dalam api, tentu dia memilih dimasukan kedalam api dan tidak berbuat kufur.
Berarti dia telah mencintai allah daripada dirinya. Cinta seperti ini berada
diatas apa yang didapatkan orang-orang yang bercinta daripada kecintaan mereka
kepada kekasih mereka.
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ
وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا
وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ
فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي
الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah:
"jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari
Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang fasik. At Taubah (9) : 24
Ayyuhal ikhwah inilah pondasi aqidah yang pertama dan utama
dalam tauhid Asma wa sifat. Yaitu terkandung hukum didalamnya untuk meninggikan
allah ta’ala meng agungkanya, mendahulukanya dan memuliakanya. Sehingga bentuk
pelecehan atasnya adalah kekafiran. Memuji allah ta’ala dalam setiap kondisi
dalam i’tiqad, ucapan (lisan), dan perbuatan. Maha suci allah dengan segala
keluhuran dan kemuliaanya. Bahkan cinta seperti ini tidak dapat dibandingkan,
sebagaimana tidak ada bandingan bagi orang yang memilikinya, yaitu cinta yang
membuahkan pengutamaan sang kekasih daripada jiwa, harta dan anaknya. Juga
membuahkan kesempurnaan ketundukan, rendah diri, mengagungkan, membesarkan,
mentaati dan takut secara lahir bathin. Ini tidak ada bandinganya dalam
mencintai mahluk walau apapun besarnya mahluk itu. Maka dari itu, orang yang
membuat sekutu diantara allah dan antara yang lain dalam cinta yang bersifat
khusus, maka itu adalah suatu kesyirikan yang Allah tidak mengampuninya.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
وَالَّذِينَ آمَنُوا
أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ
أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Adapun
orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya
orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada
hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat
berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). Al Baqarah (2) : 165
Makna ayat ini, sesungguhnya orang-orang yang beriman lebih
mencintai allah daripada kecintaan pemilik-pemilik sekutu kepada sekutu-sekutu
mereka, sebagaimana telah diterangkan. Bahwa kecintaan orang-orang mukmin
kepada tuhan mereka tidak dapat dibandingkan dengan kecintaan kepada mahluk
sama sekali. Dzat yang mereka cintai tidak dapat dibandingkan dengan lain-Nya.
Rasa sakit dalam mencintai selain-Nya adalah kenikmatan dalam mencintai-Nya,
dan kebencian dalam mencintai selain-Nya adalah suatu kesenangan dalam
mencintai-Nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar