TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH.
Oleh : Deden Abu abdurrozaq Salman.
Sukabumi*19-08-2022
Ayyuhal ikhwah, rasa cinta dan takut adalah bagian dari
fitrah manusia yang allah ta’ala berikan pada diri setiap insan. Namun dari itu
dengan cinta dan takut bisa menjadi sebab baginya masuk surga tetapi juga
dengan cinta dan takutnya bisa juga menjadi sebab dirinya masuk ke neraka-Nya.
Oleh karena itu wajib bagi hamba allah yang mukhlis, muslim, hanif itu
menyerahkan cinta dan takutnya hanya kepada Allah ta’ala. Wajib bagi setiap
mu’miin untuk mempelajari masalah ini dan mengendalikan rasa cinta dan
takutnya. Tidak dibenarkan bagi mereka bersembunyi dibalik kata “Wajar” bahwa
cinta dan takut ini adalah fitrah manusia sehingga tidak ada dosa padanya.
Sebagaimana cinta kepada wanita, harta, tahta, anak-anak,
hewan tunggangan, kendaraan, perhiasan dan seluruh isi dunia ini dengan segala
keindahanya didalamnya terdapat hukum yang jelas haramnya cinta yang
menyebabkan hambah terjatuh kedalam kesyirikan dan kekafiran. Didalam rasa
cinta ada diantaranya menjadi sebab-sebab pembangkangan, dosa dan maksiat
seperti zina. Dalam rasa cinta padanya ada sebab-sebab manusia menjadi lalai
dari mengingat allah ta’ala sebagaimana sulaiman alaihi salam yang memotong
kuda-kudanya, sebagaimana umar radiyallahu anhu yang menyedekahkan kebun dan
ladangnya dikarenakan terlalai dari shalatnya. Begitu juga dalam masalah takut
didalamnya terdapat hal yang dapat menyebabkan manusia terseret pada kekafiran
dan kesyirikan, dalam rasa takut padanya menjadi sebab-sebab manusia menjadi
lalai sehinga ia berbuat dosa dan maksiat. Takut atas kekuatan Jin, Sihir,
Dukun, Jibt dan Thaguut. Karena takut gangguan jin maka mereka berbuat bid’ah
memberikan persembahan (sesajen) dan lain sebagainya, Karena takut dengan
ancaman dari musuh-musuh tauhid banyak manusia menyembunyikan kebenaran dan
diam dari dakwah, karena takut dengan ancaman dari musuh-musuh allah mereka
menutup masjid meninggalkan dari peribadatan, karena takut dengan celaan dan
hinaan menyebabkan manusia mendustakan apa-apa yang datangnya dari allah dan
rasul-Nya.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا
الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ
مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُوا
رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ
قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلا تُظْلَمُونَ
فَتِيلا
Tidakkah
kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah
tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!"
Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka
(golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah,
bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami,
mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan
(kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?"
Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih
baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.
An Nisaa (4) : 77
Semisal
al baqarah (2) : 165 :
وَمِنَ النَّاسِ
مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ
آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ
أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Dan
diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain
Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun
orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya
orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada
hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat
berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). Al Baqarah (2) : 165.
Kaitan
keduanya adalah terletak pada lafadz :
فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ
sebahagian
dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya
kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. An Nisaa (4) : 77
يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
beriman amat sangat cintanya kepada Allah Al Baqarah (2) : 165
Maka padanya memiliki konsekuensi hukum yang sama yaitu bagian dari kesyirikan adalah manakala seorang hamba mempersembahkan cinta dan takutnya kepada selain-Nya.
Bersambung..............

Tidak ada komentar:
Posting Komentar