Rabu, 14 September 2022

TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH

 

BERDO’A  MELALUI PERANTARAAN ORANG SHOLEH DI KUBUR-KUBUR MEREKA ADALAH KESYIRIKAN

TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH 

Deden Abu Abdurrozaq Salman *Sukabumi, 31 Juli 2022

Disarikan dengan penambahan dan pengurangan dari kitab fathul majid syaikh abdurrahman hasan alu syaikh penjelasan kitab tauhid (syaikh muhammad bin abdul wahhab) bab “tafsiran tauhid dan syahadat laa ilaaha illallah” untuk dapat di fahami dengan mudah. Aamiin.

Ayyuhal ikhwah kaitan antara ini adalah bahwa tauhid adalah mengesakan allah ta’ala dalam peribadatan dan haramnya syirik (mempersekutukan) dalam peribadatan. Sebagaimana allah ta’ala berfirman :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ

Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia. Al Israa (17) : 23

Maka terkandung dalam ayat ini pengertian kalimat ikhlas dan apa yang ditunjukkanya yang berupa tauhid ibadah. Tiada yang di ibadahi melainkan hanya allah ta’ala Tiada yang di seru melainkan hanya Dia dengan demikian itulah hakikat keikhlasan (kemurnian) dari penghambaan dengan menafikan segala sesuatu y ang dapat tmengotorinya.

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلا تَحْوِيلا

Katakanlah: "Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya." Al Israa (17) : 56.

الَّذِينَ yaitu orang-orang yang diseru selain daripada allah, didalamnya ada hujjah atas orang-orang yang bergantung kepada para nabi dan orang-orang shaleh. Mereka berdo’a dan meminta kepadanya. Kebanyakan ulama tafsir mengatakan, bahwa ayat ini turun tentang orang yang menyembah nabi isa dan ibunya, uzair dan malaikat. Mereka berdo’a kepadanya dan menjadikanya sebagai washilah (perantara) untuk mendekatkan mereka kepada allah ta’ala sebagaimana disebutkan dalam ayat selanjutnya.

Ayat ini adalah bantahan terhadap kaum musyrikiin yang berdo’a (meminta) kepada orang-orang shalih. Ayat ini mengandung penjelasan bahwa perbuatan mereka itu adalah syirik yang besar (akbar). Sebagian manusia ada yang berdalih bahwa ini karena mereka menyembahnya dan mengatakan bahwa isa dan maryam adalah tuhan sehingga mereka melakukan penyembahan yang sebenarnya dalam do’a mereka dan bukan dengan menjadikan mereka itu perantara, maka dengan alasan itu mereka mengatakan bahwa bertawassul kepada penghuni kubur-kubur dari orang shalih itu bukanlah syirik besar. Ayyuhal ikhwah hal ini dibantah dengan ayat selanjutnya sebagaimana dzahirnya allah ta’ala berfirman :

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. Al Israa (17) : 57

Ayat diatas mengandung hukum bahwa menjadikan perantara dari orang-orang yang mereka seru itulah yang dimaksudkan dalam ayat ini. Dan Ini menunjukkan bahwa do’a mereka kepada selain allah adalah syirik dan berdo’a dengan menjadikan mereka (orang-orang yang mereka seru) sebagai perantara antara dirinya dengan allah ta’ala adalah kesyirikan. Do’a mereka yang ditujukan tidak kepada allah ta’ala adalah kesyirikan kepada allah yang menafikan tauhid dan menafikan syahadat Laa Ilaaha Illallah. Karena tauhid itu untuk tidak mengakui kecuali allah saja. Kalimat Ikhlas menafikan ini. Karena berdo’a kepada selain allah ta’ala adalah tunduk dan beribadah kepadanya sedangkan “Do’a adalah otak (intisari) ibadah” Hr. Tirmidzi dari anas bin malik. Tidaklah mereka (orang-orang musyrik) itu berdo’a kepada isa melainkan setelah wafatnya (dianggap matinya) dan disefakati bersama haramnya meminta kepada ahli kubur dan disefakati haramnya menjadikan ahli kubur itu sebagai washilah untuk mendekatkan diri kepada allah ta’ala khususnya dalam menjadikannya perantara (washilah) dalam do’a.

“Dan mereka mengharapkan rahmatnya serta takut akan siksa-Nya”.

“Orang-orang yang mereka seru oleh kaum musyrikiin itu, mereka sendiri senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka, siapa diantara mereka yang lebih dekat kepadanya”.

Maka mereka tidak berharap dari selainya dan tidak takut kepada selain-Nya. Mengharap rahmat hanya kepadanya Itulah mentauhidkanya. Sedangkan mereka yang menyeru atau menjadikan perantara antara dirinya dengan allah ta’ala adalah sebaliknya dari itu. Keadaan mereka yaitu mengadakan seruan-seruan yang lain di samping seruan mereka kepada allah ta’ala. Dan mereka (yang mereka seru selain allah ta’ala dari kalangan jin, nabi, malaikat) akan mengingkari kemusyrikan mereka itu. Ada banyak yang semakna dengan ayat diatas yaitu diantaranya :

إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui. Faathir (35) : 14

وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ

Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. Al Ahqaap (46) : 6

Terkandung makna didalamnya bahwa agama mereka tidak terlepas dari agama yang disembah nya. Yaitu jika mereka yang disembah itu seorang musliim yang menyembah allah ta’ala maka begitupun mereka yang mengagungkan atau menjadikan orang-orang shalih itu sebagai sesembahan selain dari allah ta’ala. Mereka mengetahui keshalihan atau keutamaan orang-orang yang diseru itu sehingga mereka ghuluw terhadapnya ini menunjukan adanya keyakinan yang menjadi sebab atas hakikat ibadah dan ketuhanan namun mereka jahil dan mengotorinya. Dan kami perjelas masalah ini yaitu terkandung penjelasan dalam ini bahwa mereka menyembah allah ta’ala namun mempersekutukanya. Mereka menyeru (berdo’a) kepada allah ta’ala namun disaat yang sama mereka menyeru pula kepada selain-Nya. Dan mereka yang diseru selain allah itu akan mengingkari kemusyrikan mereka ini.

Imam Bukhari telah meriwayatkan melalui hadis Sulaiman ibnu Mahran Al-A'masy, dari Ibrahim, dari Abu Ma'mar, dari Abdullah sehubungan dengan makna firman-Nya: Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka. (Al-Isra: 57) Bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah sejumlah makhluk jin yang disembah oleh orang-orang kafir, lalu jin itu masuk Islam.

Menurut riwayat lain, dahulu ada segolongan manusia menyembah segolongan makhluk jin, kemudian jin itu masuk Islam, sedangkan manusia yang menyembahnya tetap berpegang pada keyakinannya.

Qatadah telah meriwayatkan dari Ma'bad ibnu Abdullah Ar-Rumma-ni, dari Abdullah ibnu Atabah ibnu Mas'ud, dari Ibnu Mas'ud sehubungan dengan firman-Nya: Orang-orang yang mereka seru itu. (Al-Isra: 57), hingga akhir ayat. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan segolongan orang-orang Arab yang menyembah sejumlah makhluk jin, lalu jin-jin itu masuk Islam bersa­maan dengan sejumlah manusia, sedangkan orang-orang yang tadinya menyembah jin-jin itu tidak mengetahui bahwa yang mereka sembah telah masuk Islam. Lalu turunlah ayat ini.

Syaikh berkata : ini tidaklah bertentangan dengan apa yang telah diterangkan karena ayat ini merupakan dalil atas setiap orang yang menyeru (berdo’a terhadap) seorang wali dari kaum dahulu dan kaum sekarang bersamaan dengan Allah. Sebagaimana syaikhul islam ibnu taimiyah rahimahullah berkata dalam menafsiri ayat ini, “Dan Perkataan-perkataan ini semuanya adalah benar, karena ayat itu mencakup orang yang sesembahanya adalah penyembah allah baik malaikat, jin atau manusia,

Sehingga dengan penjelasan ini terdapat kejelasan bahwa mereka itu menyembah allah ta’ala akan tetapi mereka pun menyembah/menyeru selain allah ta’ala sebagai sarana atau washilah al qurbah untuk mendekatkan diri kepada allah ta’ala dalam artian agar harapan, keinginan atau seruan (do’a) mereka di kabulkan/menjadi nyata.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركته وشركه

Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang didalamnya dia mempersekutukan Aku dengan selainKu, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya” [Hadits Riwayat Muslim]

Sangat nampak disini yang dimaksudkan adalah “beramal atau melakukan suatu peribadatan” yang nisbatnya kepada kaum muslimiin yang menyembah allah ta’ala beramal sholeh namun didalamnya terdapat kesyirikan.

Ayyuhal ikhwah, dalam ayat ini ada bantahan terhadap orang yang menyangka, bahwa syiriknya orang-orang musyrik hanya dengan menyembah berhala-berhala. Sama sekali tidak demikian bahwa kita sefakati dan kita ketahui bersama bahwa latta adalah seorang shalih yang bukan seorang nabi namun mereka menjadikannya sebagai sarana atau washilah agar mereka dekat kepada allah ta’ala disini nampak jelas mereka tidak mengatakan bahwa latta adalah anak allah atau tuhan anak. Dan juga bahwa dengan ayat ini allah ta’ala mengingkari orang yang menyeru (berdo’a) kepada selainya baik para nabi, orang-orang shalih, malaikat-malaikat dan lain sebagainya. Juga bahwa menyeru kepada orang-orang mati dan sesuatu yang gha’ib untuk mendatangkan manfaat atau menghilangkan bahaya adalah termasuk syirik akbar yang tidak akan mendapat ampunan dari allah ta’ala dan hal itu menafikan dari apa yang ditunjukan oleh kalimat ikhlas.

Sebagaimana juga allah ta’ala berfirman :

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. Az Zumaar (39) : 3

Juga firman allah ta’ala

فَإِنَّكَ لا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ

Maka Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang. Ar Ruum (30) : 52.

Al qur’an menegaskan mayit tidak bisa mendengar maka harus ada jawaban dari perbedaan diantara dua hal yang seolah berseberangan itu yaitu sebagaimana yang didalilkan oleh orang-orang yang telah menyimpang (ahli bid’ah) yang meyakini bahwa penghuni kubur itu bisa mendengar seruan. Dan jika dikembalikan kepada pondasi aqidah utama yaitu tauhid, dimanakah letak mengesakan allah ta’ala yang maha mendengar dan maha mengabulkan segala permohonan itu jika diantara allah dan mereka itu ada perantara?.

Ayat ini, Q.S Az Zumaar (39) : 3 menjadi pembeda antara orang-orang yang menyimpang dengan orang-orang yang berada diatas petunjuk. Pendapat yang menyatakan bahwa bertawassul ke kubur (mayit) adalah syirik akbar lebih lurus jalanya dan lebih murni aqidahnya dan ini adalah sesuai dengan persaksian mereka (orang-orang musyrik) itu dari lisan mereka yang termaktub dalam kalamullah yang tidak ada keraguan didalamnya. Dalam ayat ini menunjukan bahwa menjadikan orang-orang shalih sebagai perantara itu adalah syirik akbar karena dzahirnya ayat menerangkan bahwa mereka tidaklah menyembah (menjadikan illah) latta dan berhala-berhala selainya itu melainkan hanya untuk dijadikan sebagai washilah atau perantara untuk mendekatkan diri mereka dengan allah ta’ala.

Orang-orang yang diseru selain allah ta’ala itu tidak dapat mendengarkan seruan, mereka tidak dapat menghilangkan bahaya dan tidak juga dapat memindahkanya sehingga ada ketegasan hukum atas segala do’a itu hanya di serukan kepada allah ta’ala karena tidak ada yang dapat mengabulkanya melainkan hanya allah ta’ala, segala ketetapan ada pada qudrat dan iradahnya. Sehingga dengan adanya perantara atau pun tidak maka tidak merubah hakikat ketetapan atas jawaban dari setiap do’a yang dipanjatkan. Terkandung hukum Haramnya memanjatkan suatu permintaan kepada siapa yang tidak mampu untuk menjawabnya. Manakah yang lebih baik antara orang-orang yang berdo’a langsung kepada allah ta’ala dengan orang-orang yang mengadakan perantara padanya ? Maka, Tauhid menuntut kemurnian dalam hal ini yaitu memanjatkan do’a hanya kepadanya yaitu dengan tanpa melaui perantara-perantara tersebut karena sesekali mereka tidak dapat menjadikan mereka (orang-orang musyrik) itu menjadi dekat kepada allah ta’ala hanya karena disebabkan do’a mereka di tujukan melalui orang-orang shaleh. Karena kedekatan itu dituntut padanya ketaatan dan ketundukan dalam menjalankan syari’at yaitu dalam menyembah atau beribadah kepada-Nya. Dan orang-orang yang mereka seru itu “Mereka sendiri senantiasa mendekatkan diri kepada tuhan mereka, siapakah diantara mereka  yang lebih dekat (Kepada-Nya).” Mereka (Isa, Maryam, Uzair, Malaikat) mencari kedekatan kepada allah itu dengan ikhlas kepadaNya dan mentaati yang diperintahkan-Nya dan Meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya dan Taqarrub (mencari kedekatan) yang paling besar adalah Tauhid. Inilah yang menjadikan mereka dekat.

Tawassul kepada allah adalah dengan apa yang Dia cintai dan ridhai, tidak denga apa yang dibenci dan ditolak yaitu syirik yang dia membersihkan diri-Nya dari syirik tersebut. “katakanlah, “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik dilangit dan tidak pula dibumi?” Maha suci allah dan maha tinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu). Yunus (10) : 18

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). Yunus (10) : 18

                Dan mereka membantah ayat ini dengan perkataan-perkataan bathil, hadits-hadits maudhu dan perkataan ahli bid’ah dari kalangan ahli kalam suffiyyuun. Sesungguhnya diwajibkan bagi setiap musliim jika didatangkan kepada mereka satu ayat yang menjadi penjelasan atas setiap perkara yang mereka perselisihkan itu wajib bagi mereka untuk tunduk dan menetapi kebenaran. Ayat ini adalah bantahan yang sangat jelas dan tegas dari allah subhaanahu wata’ala yang maha suci yang tidak ada sesembahan yang pantas diseru selain dari-Nya bahkan tidak dibenarkan menjadikan seruan-seruan selainya bersama dengan-Nya. Allah ta’ala tidak memerlukan perantaraan apapun untuk dapat mengetahui setiap harapan yang diserukan oleh mahluk-mahluknya baik yang ada didaratan maupun yang ada di langit di gunung dilaut, dimasjid ataupun dikuburan. Tidak ada padanya keperluan syariat untuk menjadikan perantara-perantara itu sebagai penyebab maqbulnya do’a tidak ada dalil syar’i yang menyebutkan bahwa kuburan nabi dan auliyaa itu adalah tempat yang utama untuk berdo’a dan menjadi sebab di ijabahnya pengharapan. Bentuk kesyirikan yang nampak adalah mereka menyangka dengan sangkaan yang tidak benar terhadap allah ta’ala bahwa di ijabahnya do’a adalah dikarenakan harapan-harapan itu di sampaikan melalui wali-walinya. Dan menjadikan perantaraan antara allah dengan diri mereka itu adalah satu bentuk kesyirikan karena allah ta’ala yang maha mendengar lagi maha mengetahui sama sekali tidak memerlukan itu. Manakah yang lebih baik, petunjuk Allah ataukah selainya....?

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. Al Israa (17) : 57

Firman allah ta’ala : “Siapa diantara mereka yang lebih dekat kepadanya” mengandung pelajaran :

1.       Allah mengingkari kecurangan perbuatan hamba yang hanya ingin dekat dengan tanpa haq yaitu berusaha mendekatkan diri dengan melalui perantaraan (tawassul).

2.       Perbuatan mereka itu sama sekali tidak dapat menjadikan mereka dekat kepada allah.

3.       Masing-masing mereka memiliki tugas/kewajiban yang sama dalam menyembah kepada allah, menyeru dan berdo’a hanya kepada allah ta’ala

4.       Akan dibalas sesuai dengan amalnya masing-masing dan mempertanggung jawabkan amalanya sendiri sebagaimana ayat-ayat lainnya.

Allah menerangkan, bahwa ini adalah jalan para nabi dan rasul serta orang-orang mukmin yang mengikuti mereka. Qatadah berkata, “Mereka bertaqarrub kepada Nya dengan mentaatinya dan menjalankan apa yang diridhai-Nya”. Ibnu katsir berkata :, “Dalam hal ini tidak ada perbedaan diantara ulama tafsir.

Ibnu Zaid membaca firman allah, “Orang-orang yang diseru oleh kaum musyrikiin itu mereka sendiri sentiasa berusaha mendekatkan diri kepada tuhan mereka, siapa yang lebih dekat (kepadanya).

Syaikh berkata, maksudnya, karena semua orang-orang shalih yang diseru dan dimintai pertolongan oleh orang-orang musyrik, bisa jadi sebagai perantara kepada Allah untuk menyampaikan hajat mereka, dan bisa jadi murni bahwa orang-orang musyrik itu meminta mereka supaya memenuhi hajat mereka seraya meyakini, bahwa allah telah memberi kekuasaan kepada mereka. Orang-orang shalih menyibukan diri mereka berdo’a kepada allah untuk hajat itu dan bertawassul kepadanya dengan beribadah kepadanya dengan memurnikan agama pada-Nya, takut siksa-Nya, dan mengharap rahmat-Nya. Ternyata mereka  tidak mendatangkan manfaat dan menolak bahaya untuk dirinya (selain dengan amalnya). Maka bagaimana mungkin mereka dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya untuk orang lain.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini, Allah menyebutkan tiga hal : Cinta, yaitu berusaha taqarrub kepada-Nya, Tawassul kepada-Nya dengan amal shalih, dan takut serta berharap. Inilah hakikat tauhid dan hakikat ad dienul islam, sebagaimana dalam al musnad dari Bahz bin hakim dari ayahnya dari kakeknya bahwa dia berkata kepada nabi sholallahu ‘alaihi wasalam,

والله يا رسول الله ما أتيتك إلّا بعدما حلفت عدد أصبي هذه: أن لا آتيك. فبالّذي بعثك بالحق ما بعثك به؟ قال: وما لإسلامز قال: أن تسلم قلبك وأن توجّه وجهك إلى الله, وأن تصلّي الصلوات المكتوبة, وتؤدّي الزّكاة المفروضة.

“Demi Allah wahai rasulullah, aku tidak dating kepada engkau kecuali aku telah bersumpah sejumlah jari-jari ku ini, bahwa aku tidak akan datang kepada engkau. Maka demi dzat yang mengutusmu dengan hak, untuk membawa apa allah mengutusmu? Beliau menjawab, “Islam” dia berkata, “Dan apa itu islam”? beliau menjawab, “Hendaklah engkau menyerahkan hatimu dan mengarahkan wajahmu kepada Allah, dan hendaklah kamu menjalankan shalat-shalat yang diwajibkan dan membayar zakat yang diwajibkan”.

إنّ للإسلام صوّى ومنارا كمنار الطّريق. من ذلك أن تعبد الله ولا تشرك به شيئا وتقيم الصّلاة وتؤتي الزكاة وتصوم الرّمضان والأمر بالمعروف و النّهي عن المنكر.

Sesungguhnya islam memiliki tanda-tanda dan rambu-rambu seperti rambu-rambu jalan. Diantaranya hendaklah kamu menyembah Allah dan tidak berbuat syirik sama sekali,  menjalankan shalat, membayarkan zakat, dan puasa ramadhan, menyuruh berbuat ma’ruf dan melarang kemungkaran.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar