BERDO’A MELALUI PERANTARAAN ORANG SHOLEH DI KUBUR-KUBUR MEREKA ADALAH KESYIRIKAN
TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH
Deden Abu Abdurrozaq Salman *Sukabumi, 31 Juli 2022
Disarikan dengan penambahan dan pengurangan dari kitab
fathul majid syaikh abdurrahman hasan alu syaikh penjelasan kitab tauhid (syaikh
muhammad bin abdul wahhab) bab “tafsiran tauhid dan syahadat laa ilaaha
illallah” untuk dapat di fahami dengan mudah. Aamiin.
Ayyuhal ikhwah kaitan antara ini
adalah bahwa tauhid adalah mengesakan allah ta’ala dalam peribadatan dan
haramnya syirik (mempersekutukan) dalam peribadatan. Sebagaimana allah ta’ala
berfirman :
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ
Dan Tuhanmu
Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia. Al Israa (17) : 23
Maka terkandung dalam ayat ini pengertian kalimat ikhlas dan
apa yang ditunjukkanya yang berupa tauhid ibadah. Tiada yang di ibadahi
melainkan hanya allah ta’ala Tiada yang di seru melainkan hanya Dia dengan
demikian itulah hakikat keikhlasan (kemurnian) dari penghambaan dengan
menafikan segala sesuatu y ang dapat tmengotorinya.
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلا يَمْلِكُونَ كَشْفَ
الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلا تَحْوِيلا
Katakanlah:
"Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, Maka mereka
tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak
pula memindahkannya." Al Israa (17) : 56.
الَّذِينَ yaitu orang-orang yang diseru selain daripada allah, didalamnya
ada hujjah atas orang-orang yang bergantung kepada para nabi dan orang-orang
shaleh. Mereka berdo’a dan meminta kepadanya. Kebanyakan ulama tafsir
mengatakan, bahwa ayat ini turun tentang orang yang menyembah nabi isa dan
ibunya, uzair dan malaikat. Mereka berdo’a kepadanya dan menjadikanya sebagai
washilah (perantara) untuk mendekatkan mereka kepada allah ta’ala sebagaimana
disebutkan dalam ayat selanjutnya.
Ayat ini adalah bantahan terhadap
kaum musyrikiin yang berdo’a (meminta) kepada orang-orang shalih. Ayat ini
mengandung penjelasan bahwa perbuatan mereka itu adalah syirik yang besar
(akbar). Sebagian manusia ada yang berdalih bahwa ini karena mereka
menyembahnya dan mengatakan bahwa isa dan maryam adalah tuhan sehingga mereka
melakukan penyembahan yang sebenarnya dalam do’a mereka dan bukan dengan
menjadikan mereka itu perantara, maka dengan alasan itu mereka mengatakan bahwa
bertawassul kepada penghuni kubur-kubur dari orang shalih itu bukanlah syirik
besar. Ayyuhal ikhwah hal ini dibantah dengan ayat selanjutnya sebagaimana
dzahirnya allah ta’ala berfirman :
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ
أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ
كَانَ مَحْذُورًا
Orang-orang
yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa
di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya
dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus)
ditakuti. Al Israa (17) : 57
Ayat diatas mengandung hukum bahwa menjadikan perantara dari
orang-orang yang mereka seru itulah yang dimaksudkan dalam ayat ini. Dan Ini
menunjukkan bahwa do’a mereka kepada selain allah adalah syirik dan berdo’a
dengan menjadikan mereka (orang-orang yang mereka seru) sebagai perantara
antara dirinya dengan allah ta’ala adalah kesyirikan. Do’a mereka yang
ditujukan tidak kepada allah ta’ala adalah kesyirikan kepada allah yang
menafikan tauhid dan menafikan syahadat Laa Ilaaha Illallah. Karena tauhid itu
untuk tidak mengakui kecuali allah saja. Kalimat Ikhlas menafikan ini. Karena
berdo’a kepada selain allah ta’ala adalah tunduk dan beribadah kepadanya
sedangkan “Do’a adalah otak (intisari) ibadah” Hr. Tirmidzi dari anas bin
malik. Tidaklah mereka (orang-orang musyrik) itu berdo’a kepada isa melainkan
setelah wafatnya (dianggap matinya) dan disefakati bersama haramnya meminta
kepada ahli kubur dan disefakati haramnya menjadikan ahli kubur itu sebagai
washilah untuk mendekatkan diri kepada allah ta’ala khususnya dalam
menjadikannya perantara (washilah) dalam do’a.
“Dan mereka mengharapkan rahmatnya serta takut akan siksa-Nya”.
“Orang-orang yang mereka seru oleh kaum musyrikiin itu,
mereka sendiri senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka,
siapa diantara mereka yang lebih dekat kepadanya”.
Maka mereka tidak berharap dari selainya dan tidak takut
kepada selain-Nya. Mengharap rahmat hanya kepadanya Itulah mentauhidkanya. Sedangkan
mereka yang menyeru atau menjadikan perantara antara dirinya dengan allah
ta’ala adalah sebaliknya dari itu. Keadaan mereka yaitu mengadakan
seruan-seruan yang lain di samping seruan mereka kepada allah ta’ala. Dan
mereka (yang mereka seru selain allah ta’ala dari kalangan jin, nabi, malaikat)
akan mengingkari kemusyrikan mereka itu. Ada banyak yang semakna dengan ayat
diatas yaitu diantaranya :
إِنْ
تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا
لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ
Jika kamu
menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar,
mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. dan dihari kiamat mereka akan
mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu
sebagai yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui. Faathir (35) : 14
وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ
كَافِرِينَ
Dan apabila
manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi
musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. Al Ahqaap (46) : 6
Terkandung makna didalamnya bahwa agama mereka tidak terlepas
dari agama yang disembah nya. Yaitu jika mereka yang disembah itu seorang
musliim yang menyembah allah ta’ala maka begitupun mereka yang mengagungkan
atau menjadikan orang-orang shalih itu sebagai sesembahan selain dari allah
ta’ala. Mereka mengetahui keshalihan atau keutamaan orang-orang yang diseru itu
sehingga mereka ghuluw terhadapnya ini menunjukan adanya keyakinan yang menjadi
sebab atas hakikat ibadah dan ketuhanan namun mereka jahil dan mengotorinya. Dan
kami perjelas masalah ini yaitu terkandung penjelasan dalam ini bahwa mereka
menyembah allah ta’ala namun mempersekutukanya. Mereka menyeru (berdo’a) kepada
allah ta’ala namun disaat yang sama mereka menyeru pula kepada selain-Nya. Dan
mereka yang diseru selain allah itu akan mengingkari kemusyrikan mereka ini.
Imam Bukhari telah meriwayatkan melalui hadis Sulaiman ibnu
Mahran Al-A'masy, dari Ibrahim, dari Abu Ma'mar, dari Abdullah sehubungan
dengan makna firman-Nya: Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari
jalan kepada Tuhan mereka. (Al-Isra: 57) Bahwa yang dimaksud dengan mereka
adalah sejumlah makhluk jin yang disembah oleh orang-orang kafir, lalu jin itu
masuk Islam.
Menurut riwayat lain, dahulu ada segolongan manusia menyembah
segolongan makhluk jin, kemudian jin itu masuk Islam, sedangkan manusia yang
menyembahnya tetap berpegang pada keyakinannya.
Qatadah telah meriwayatkan dari Ma'bad ibnu Abdullah
Ar-Rumma-ni, dari Abdullah ibnu Atabah ibnu Mas'ud, dari Ibnu Mas'ud sehubungan
dengan firman-Nya: Orang-orang yang mereka seru itu. (Al-Isra: 57), hingga
akhir ayat. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan segolongan orang-orang Arab
yang menyembah sejumlah makhluk jin, lalu jin-jin itu masuk Islam bersamaan
dengan sejumlah manusia, sedangkan orang-orang yang tadinya menyembah jin-jin
itu tidak mengetahui bahwa yang mereka sembah telah masuk Islam. Lalu turunlah
ayat ini.
Syaikh berkata : ini tidaklah bertentangan dengan apa yang
telah diterangkan karena ayat ini merupakan dalil atas setiap orang yang menyeru
(berdo’a terhadap) seorang wali dari kaum dahulu dan kaum sekarang bersamaan
dengan Allah. Sebagaimana syaikhul islam ibnu taimiyah rahimahullah berkata
dalam menafsiri ayat ini, “Dan Perkataan-perkataan ini semuanya adalah benar,
karena ayat itu mencakup orang yang sesembahanya adalah penyembah allah baik
malaikat, jin atau manusia,
Sehingga dengan penjelasan ini terdapat kejelasan bahwa
mereka itu menyembah allah ta’ala akan tetapi mereka pun menyembah/menyeru
selain allah ta’ala sebagai sarana atau washilah al qurbah untuk mendekatkan
diri kepada allah ta’ala dalam artian agar harapan, keinginan atau seruan
(do’a) mereka di kabulkan/menjadi nyata.
Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركته وشركه
“Barangsiapa
yang mengerjakan suatu amalan yang didalamnya dia mempersekutukan Aku dengan
selainKu, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya” [Hadits Riwayat Muslim]
Sangat
nampak disini yang dimaksudkan adalah “beramal atau melakukan suatu
peribadatan” yang nisbatnya kepada kaum muslimiin yang menyembah allah ta’ala
beramal sholeh namun didalamnya terdapat kesyirikan.
Ayyuhal ikhwah, dalam ayat ini ada bantahan terhadap orang
yang menyangka, bahwa syiriknya orang-orang musyrik hanya dengan menyembah
berhala-berhala. Sama sekali tidak demikian bahwa kita sefakati dan kita
ketahui bersama bahwa latta adalah seorang shalih yang bukan seorang nabi namun
mereka menjadikannya sebagai sarana atau washilah agar mereka dekat kepada
allah ta’ala disini nampak jelas mereka tidak mengatakan bahwa latta adalah
anak allah atau tuhan anak. Dan juga bahwa dengan ayat ini allah ta’ala
mengingkari orang yang menyeru (berdo’a) kepada selainya baik para nabi,
orang-orang shalih, malaikat-malaikat dan lain sebagainya. Juga bahwa menyeru
kepada orang-orang mati dan sesuatu yang gha’ib untuk mendatangkan manfaat atau
menghilangkan bahaya adalah termasuk syirik akbar yang tidak akan mendapat
ampunan dari allah ta’ala dan hal itu menafikan dari apa yang ditunjukan oleh
kalimat ikhlas.
Sebagaimana
juga allah ta’ala berfirman :
أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ
أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ
يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ
هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Ingatlah,
Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang
mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka
melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-
dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa
yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang
yang pendusta dan sangat ingkar. Az Zumaar (39) : 3
Juga firman
allah ta’ala
فَإِنَّكَ لا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ
إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ
Maka
Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat
mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila
mereka itu berpaling membelakang. Ar Ruum (30) : 52.
Al qur’an menegaskan mayit tidak bisa mendengar maka harus
ada jawaban dari perbedaan diantara dua hal yang seolah berseberangan itu yaitu
sebagaimana yang didalilkan oleh orang-orang yang telah menyimpang (ahli
bid’ah) yang meyakini bahwa penghuni kubur itu bisa mendengar seruan. Dan jika
dikembalikan kepada pondasi aqidah utama yaitu tauhid, dimanakah letak
mengesakan allah ta’ala yang maha mendengar dan maha mengabulkan segala
permohonan itu jika diantara allah dan mereka itu ada perantara?.
Ayat ini, Q.S Az Zumaar (39) : 3 menjadi pembeda antara
orang-orang yang menyimpang dengan orang-orang yang berada diatas petunjuk.
Pendapat yang menyatakan bahwa bertawassul ke kubur (mayit) adalah syirik akbar
lebih lurus jalanya dan lebih murni aqidahnya dan ini adalah sesuai dengan
persaksian mereka (orang-orang musyrik) itu dari lisan mereka yang termaktub dalam
kalamullah yang tidak ada keraguan didalamnya. Dalam ayat ini menunjukan bahwa
menjadikan orang-orang shalih sebagai perantara itu adalah syirik akbar karena
dzahirnya ayat menerangkan bahwa mereka tidaklah menyembah (menjadikan illah)
latta dan berhala-berhala selainya itu melainkan hanya untuk dijadikan sebagai
washilah atau perantara untuk mendekatkan diri mereka dengan allah ta’ala.
Orang-orang yang diseru selain allah ta’ala itu tidak dapat mendengarkan
seruan, mereka tidak dapat menghilangkan bahaya dan tidak juga dapat
memindahkanya sehingga ada ketegasan hukum atas segala do’a itu hanya di
serukan kepada allah ta’ala karena tidak ada yang dapat mengabulkanya melainkan
hanya allah ta’ala, segala ketetapan ada pada qudrat dan iradahnya. Sehingga dengan
adanya perantara atau pun tidak maka tidak merubah hakikat ketetapan atas
jawaban dari setiap do’a yang dipanjatkan. Terkandung hukum Haramnya
memanjatkan suatu permintaan kepada siapa yang tidak mampu untuk menjawabnya.
Manakah yang lebih baik antara orang-orang yang berdo’a langsung kepada allah
ta’ala dengan orang-orang yang mengadakan perantara padanya ? Maka, Tauhid
menuntut kemurnian dalam hal ini yaitu memanjatkan do’a hanya kepadanya yaitu
dengan tanpa melaui perantara-perantara tersebut karena sesekali mereka tidak
dapat menjadikan mereka (orang-orang musyrik) itu menjadi dekat kepada allah
ta’ala hanya karena disebabkan do’a mereka di tujukan melalui orang-orang
shaleh. Karena kedekatan itu dituntut padanya ketaatan dan ketundukan dalam
menjalankan syari’at yaitu dalam menyembah atau beribadah kepada-Nya. Dan
orang-orang yang mereka seru itu “Mereka sendiri senantiasa mendekatkan diri kepada
tuhan mereka, siapakah diantara mereka
yang lebih dekat (Kepada-Nya).” Mereka (Isa, Maryam, Uzair, Malaikat)
mencari kedekatan kepada allah itu dengan ikhlas kepadaNya dan mentaati yang
diperintahkan-Nya dan Meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya dan Taqarrub
(mencari kedekatan) yang paling besar adalah Tauhid. Inilah yang menjadikan
mereka dekat.
Tawassul kepada allah adalah dengan apa yang Dia cintai dan
ridhai, tidak denga apa yang dibenci dan ditolak yaitu syirik yang dia
membersihkan diri-Nya dari syirik tersebut. “katakanlah, “Apakah kamu
mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik dilangit dan tidak
pula dibumi?” Maha suci allah dan maha tinggi dari apa yang mereka persekutukan
(itu). Yunus (10) : 18
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ
وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا
لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
Dan mereka
menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan
kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "mereka
itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah:
"Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di
langit dan tidak (pula) dibumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa
yang mereka mempersekutukan (itu). Yunus (10) : 18
Dan mereka membantah ayat
ini dengan perkataan-perkataan bathil, hadits-hadits maudhu dan perkataan ahli
bid’ah dari kalangan ahli kalam suffiyyuun. Sesungguhnya diwajibkan bagi setiap
musliim jika didatangkan kepada mereka satu ayat yang menjadi penjelasan atas
setiap perkara yang mereka perselisihkan itu wajib bagi mereka untuk tunduk dan
menetapi kebenaran. Ayat ini adalah bantahan yang sangat jelas dan tegas dari
allah subhaanahu wata’ala yang maha suci yang tidak ada sesembahan yang pantas
diseru selain dari-Nya bahkan tidak dibenarkan menjadikan seruan-seruan
selainya bersama dengan-Nya. Allah ta’ala tidak memerlukan perantaraan apapun
untuk dapat mengetahui setiap harapan yang diserukan oleh mahluk-mahluknya baik
yang ada didaratan maupun yang ada di langit di gunung dilaut, dimasjid ataupun
dikuburan. Tidak ada padanya keperluan syariat untuk menjadikan perantara-perantara
itu sebagai penyebab maqbulnya do’a tidak ada dalil syar’i yang menyebutkan
bahwa kuburan nabi dan auliyaa itu adalah tempat yang utama untuk berdo’a dan
menjadi sebab di ijabahnya pengharapan. Bentuk kesyirikan yang nampak adalah
mereka menyangka dengan sangkaan yang tidak benar terhadap allah ta’ala bahwa
di ijabahnya do’a adalah dikarenakan harapan-harapan itu di sampaikan melalui
wali-walinya. Dan menjadikan perantaraan antara allah dengan diri mereka itu
adalah satu bentuk kesyirikan karena allah ta’ala yang maha mendengar lagi maha
mengetahui sama sekali tidak memerlukan itu. Manakah yang lebih baik, petunjuk
Allah ataukah selainya....?
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ
أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ
كَانَ مَحْذُورًا
Orang-orang
yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa
di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya
dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus)
ditakuti. Al Israa (17) : 57
Firman allah ta’ala : “Siapa diantara mereka yang lebih dekat
kepadanya” mengandung pelajaran :
1.
Allah mengingkari kecurangan
perbuatan hamba yang hanya ingin dekat dengan tanpa haq yaitu berusaha
mendekatkan diri dengan melalui perantaraan (tawassul).
2.
Perbuatan mereka itu sama
sekali tidak dapat menjadikan mereka dekat kepada allah.
3.
Masing-masing mereka
memiliki tugas/kewajiban yang sama dalam menyembah kepada allah, menyeru dan
berdo’a hanya kepada allah ta’ala
4.
Akan dibalas sesuai dengan
amalnya masing-masing dan mempertanggung jawabkan amalanya sendiri sebagaimana
ayat-ayat lainnya.
Allah menerangkan, bahwa ini adalah jalan para nabi dan rasul
serta orang-orang mukmin yang mengikuti mereka. Qatadah berkata, “Mereka
bertaqarrub kepada Nya dengan mentaatinya dan menjalankan apa yang
diridhai-Nya”. Ibnu katsir berkata :, “Dalam hal ini tidak ada perbedaan
diantara ulama tafsir.
Ibnu Zaid membaca firman allah, “Orang-orang yang diseru oleh
kaum musyrikiin itu mereka sendiri sentiasa berusaha mendekatkan diri kepada
tuhan mereka, siapa yang lebih dekat (kepadanya).
Syaikh berkata, maksudnya, karena semua orang-orang shalih
yang diseru dan dimintai pertolongan oleh orang-orang musyrik, bisa jadi
sebagai perantara kepada Allah untuk menyampaikan hajat mereka, dan bisa jadi
murni bahwa orang-orang musyrik itu meminta mereka supaya memenuhi hajat mereka
seraya meyakini, bahwa allah telah memberi kekuasaan kepada mereka. Orang-orang
shalih menyibukan diri mereka berdo’a kepada allah untuk hajat itu dan
bertawassul kepadanya dengan beribadah kepadanya dengan memurnikan agama pada-Nya,
takut siksa-Nya, dan mengharap rahmat-Nya. Ternyata mereka tidak mendatangkan manfaat dan menolak bahaya
untuk dirinya (selain dengan amalnya). Maka bagaimana mungkin mereka dapat
mendatangkan manfaat dan menolak bahaya untuk orang lain.
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini, Allah
menyebutkan tiga hal : Cinta, yaitu berusaha taqarrub kepada-Nya, Tawassul
kepada-Nya dengan amal shalih, dan takut serta berharap. Inilah hakikat tauhid
dan hakikat ad dienul islam, sebagaimana dalam al musnad dari Bahz bin hakim
dari ayahnya dari kakeknya bahwa dia berkata kepada nabi sholallahu ‘alaihi
wasalam,
والله يا رسول الله ما أتيتك إلّا بعدما
حلفت عدد أصبي هذه: أن لا آتيك. فبالّذي بعثك بالحق ما بعثك به؟ قال: وما لإسلامز
قال: أن تسلم قلبك وأن توجّه وجهك إلى الله, وأن تصلّي الصلوات المكتوبة, وتؤدّي
الزّكاة المفروضة.
“Demi Allah wahai rasulullah,
aku tidak dating kepada engkau kecuali aku telah bersumpah sejumlah jari-jari
ku ini, bahwa aku tidak akan datang kepada engkau. Maka demi dzat yang mengutusmu dengan hak, untuk
membawa apa allah mengutusmu? Beliau menjawab, “Islam” dia berkata, “Dan apa
itu islam”? beliau menjawab, “Hendaklah engkau menyerahkan hatimu dan mengarahkan
wajahmu kepada Allah, dan hendaklah kamu menjalankan shalat-shalat yang
diwajibkan dan membayar zakat yang diwajibkan”.
إنّ للإسلام صوّى ومنارا كمنار الطّريق. من
ذلك أن تعبد الله ولا تشرك به شيئا وتقيم الصّلاة وتؤتي الزكاة وتصوم الرّمضان
والأمر بالمعروف و النّهي عن المنكر.
Sesungguhnya islam memiliki
tanda-tanda dan rambu-rambu seperti rambu-rambu jalan. Diantaranya hendaklah
kamu menyembah Allah dan tidak berbuat syirik sama sekali, menjalankan shalat, membayarkan zakat, dan
puasa ramadhan, menyuruh berbuat ma’ruf dan melarang kemungkaran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar