Kamis, 29 September 2022

 

PUNCAK DARI TAWAKKAL KEPADA ALLAH TA’ALA ADALAH DENGAN TIDAK TAKUT KEPADA SELAIN-NYA.

TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH TA'ALA

Ayyuhal ikhwah, tingkatan hamba selanjutnya dari setelah mampu mengendalikan rasa takutnya adalah dengan bertawakkal, berserah diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala yakin bahwa Dia adalah sebaik-baik pelindung, sebaik-baik penolong atas hamba-hambanya. Sehingga tidak tersisa padanya keraguan sedikitpun. Naam, Kualitas keimanan dan ketaqwaan dari setiap hamba itu berbeda-beda namun dari itu wajib setiap hamba allah yang beriman mengetahui apa yang utama dan siapa yang mendapatkan tempat paling mulia disisi Allah ta’ala sehingga baginya keutamaan (Fadha’il) yang dijanjikan itu.

Ayyuhal ikhwah, tauhid adalah al itsbat dan an nafyu yaitu menetapkan dan pengingkaran, yaitu menetapkan hanya allah saja illah itu dan mengingkari selainya. Hanya kepada alllah ta’ala saja bertawakkal (menyandarkan segala urusan) dan mengingkari selainya. Sebagaimana allah ta’ala berfirman :

كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهَا أُمَمٌ لِتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ قُلْ هُوَ رَبِّي لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ

Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Quran) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: "Dia-lah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat." Ar Raad (13) : 30

Demikianlah allah telah menetapkan dirinya atas segala mahluk, tidak ada yang di ibadahi, di taati, dicintai, ditakuti, ditawakkali melainkan hanya dirinya. Orang-orang yang bodoh dalam masalah ini telah tergelincir sebagimana umat-umat terdahulu tergelincir sehingga karena cinta dan takutnya kepada jibt dan thagut mereka meminta dan memberikan sesembahan (sembelihan/sesajian) yang menyebabkan allah ta’ala murka atas mereka. Karenanya mereka di ombang-ambing rasa takut yang tidak berkesudahan jika sesuatu terjadi dengan alam dan kehidupan yang muncul adalah prasangka karena hilang sandaran yang utama yaitu allah ta’ala yang berkuasa dan meliputi atas segala sesuatu yang menetapkan taqdir, yang menghidupkan dan yang mematikan dia yang menjaga tidak pernah tidur dan tidak merasa berat atasnya. Dia yang maha tinggi atas segala sesuatu. Sebagaimana juga allah ta’ala berfirman :

إِنْ نَقُولُ إِلا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ .مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لا تُنْظِرُونِي .إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Huud (11) : 54-56

Sebagaimana telah dimaklumi bersama bahwa sebab-sebab kesyirikan itu adalah rasa cinta dan rasa takut. Dan kita sefakati bersama dalam hukum A’aamnya bahwa cinta dan takut kepada selain-Nya adalah kesyirikan. Disefakati bahwa diperintahkan hanya kepada Allah saja bertawakal, ini adalah al itsbat (menetapkan) yang mengandung hukum bahwa Tidak ada sandaran kepada selain-nya, tidak ada yang di cintai dan takuti selain daripada-Nya, ini adalah an nafyu (pengingkaran). Apakah pantas menyandarkan sesuatu, mencintai dan takut kepada selain allah ta’ala sedangkan allah ta’ala yang mengatur segala urusan, allah ta’ala memegang setiap ubun-ubun segala mahluk ?

وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِي وَلا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلا تَتَذَكَّرُونَ

Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku." Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?" Al An’aam (6) : 80

إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.  Ali Imran (3) : 122

Sangat jelas dalam ayat ini allah ta’ala menyandingkan rasa takut dengan tawakkal. Dan keduanya memiliki keterikatan yang tidak bisa dipisahkan. Maka orang-orang yang hendak menegakkan benang basah itu berkata sesungguhnya tawakkal adalah hal yang berlainan dengan rasa takut. Mereka memisahkan keduanya sehingga terburamkan hukum yang semestinya saling menguatkan, bahwa tawakkal adalah tauhid memurnikan peribadatan kepada allah ta’ala inilah al itsbat (penetapan) dan tidak takut kepada selain-Nya adalah merupakan an nafyu (pengingkaran) kepada selainya itu. Sehingga puncak dari tidak takutnya seorang hamba kepada selain allah ta’ala adalah dengan bertawakkal kepada-Nya.

DIJANJIKAN KEMENANGAN

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan  An  Nuur  (24) : 52

Kemenangan yang dimaksud adalah kemenangan dalam segala hal. Baik dalam urusan dunia maupun urusan akhiratnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar