PUNCAK DARI TAWAKKAL KEPADA ALLAH TA’ALA ADALAH DENGAN TIDAK TAKUT KEPADA SELAIN-NYA.
TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH TA'ALA
Ayyuhal ikhwah, tingkatan hamba selanjutnya dari setelah
mampu mengendalikan rasa takutnya adalah dengan bertawakkal, berserah diri
sepenuhnya kepada Allah Ta’ala yakin bahwa Dia adalah sebaik-baik pelindung,
sebaik-baik penolong atas hamba-hambanya. Sehingga tidak tersisa padanya
keraguan sedikitpun. Naam, Kualitas keimanan dan ketaqwaan dari setiap hamba
itu berbeda-beda namun dari itu wajib setiap hamba allah yang beriman
mengetahui apa yang utama dan siapa yang mendapatkan tempat paling mulia disisi
Allah ta’ala sehingga baginya keutamaan (Fadha’il) yang dijanjikan itu.
Ayyuhal ikhwah, tauhid adalah al itsbat dan an nafyu yaitu
menetapkan dan pengingkaran, yaitu menetapkan hanya allah saja illah itu dan
mengingkari selainya. Hanya kepada alllah ta’ala saja bertawakkal (menyandarkan
segala urusan) dan mengingkari selainya. Sebagaimana allah ta’ala berfirman :
كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهَا أُمَمٌ
لِتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ
قُلْ هُوَ رَبِّي لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ
Demikianlah,
Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa
umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Quran) yang Kami
wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
Katakanlah: "Dia-lah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya
aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat." Ar Raad (13) : 30
Demikianlah allah telah menetapkan dirinya atas segala
mahluk, tidak ada yang di ibadahi, di taati, dicintai, ditakuti, ditawakkali
melainkan hanya dirinya. Orang-orang yang bodoh dalam masalah ini telah
tergelincir sebagimana umat-umat terdahulu tergelincir sehingga karena cinta
dan takutnya kepada jibt dan thagut mereka meminta dan memberikan sesembahan
(sembelihan/sesajian) yang menyebabkan allah ta’ala murka atas mereka.
Karenanya mereka di ombang-ambing rasa takut yang tidak berkesudahan jika
sesuatu terjadi dengan alam dan kehidupan yang muncul adalah prasangka karena
hilang sandaran yang utama yaitu allah ta’ala yang berkuasa dan meliputi atas
segala sesuatu yang menetapkan taqdir, yang menghidupkan dan yang mematikan dia
yang menjaga tidak pernah tidur dan tidak merasa berat atasnya. Dia yang maha
tinggi atas segala sesuatu. Sebagaimana juga allah ta’ala berfirman :
إِنْ نَقُولُ إِلا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي
أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ .مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ
لا تُنْظِرُونِي
.إِنِّي تَوَكَّلْتُ
عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا
إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Sesungguhnya
aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu
jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh
kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada
suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya.
Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Huud (11) : 54-56
Sebagaimana telah dimaklumi bersama bahwa sebab-sebab
kesyirikan itu adalah rasa cinta dan rasa takut. Dan kita sefakati bersama
dalam hukum A’aamnya bahwa cinta dan takut kepada selain-Nya adalah kesyirikan.
Disefakati bahwa diperintahkan hanya kepada Allah saja bertawakal, ini adalah
al itsbat (menetapkan) yang mengandung hukum bahwa Tidak ada sandaran kepada
selain-nya, tidak ada yang di cintai dan takuti selain daripada-Nya, ini adalah
an nafyu (pengingkaran). Apakah pantas menyandarkan sesuatu, mencintai dan
takut kepada selain allah ta’ala sedangkan allah ta’ala yang mengatur segala
urusan, allah ta’ala memegang setiap ubun-ubun segala mahluk ?
وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ
قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِي وَلا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ
إِلا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلا تَتَذَكَّرُونَ
Dan
dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantah
tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk
kepadaku." Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan
yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki
sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu.
Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?" Al
An’aam (6) : 80
إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ
مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
ketika
dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah
penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja
orang-orang mukmin bertawakkal. Ali
Imran (3) : 122
Sangat jelas dalam ayat ini allah ta’ala menyandingkan rasa
takut dengan tawakkal. Dan keduanya memiliki keterikatan yang tidak bisa
dipisahkan. Maka orang-orang yang hendak menegakkan benang basah itu berkata
sesungguhnya tawakkal adalah hal yang berlainan dengan rasa takut. Mereka
memisahkan keduanya sehingga terburamkan hukum yang semestinya saling
menguatkan, bahwa tawakkal adalah tauhid memurnikan peribadatan kepada allah
ta’ala inilah al itsbat (penetapan) dan tidak takut kepada selain-Nya adalah
merupakan an nafyu (pengingkaran) kepada selainya itu. Sehingga puncak dari
tidak takutnya seorang hamba kepada selain allah ta’ala adalah dengan
bertawakkal kepada-Nya.
DIJANJIKAN KEMENANGAN
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
Dan
barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan
bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat
kemenangan An Nuur
(24) : 52
Kemenangan yang dimaksud adalah kemenangan dalam segala
hal. Baik dalam urusan dunia maupun urusan akhiratnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar