Jumat, 16 September 2022

 

TAKUT KEPADA SELAIN-NYA ADALAH WARISAN JAHILIYYAH-BERPRASANGKA BURUK TERHADAP ALLAH TA’ALA.

TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH. 

Naam, sesungguhnya takut kepada selain-Nya adalah bagian dari berprasangka buruk terhadap Allah ta’ala, Allah ta’ala maha kuasa atas segala sesuatu, maha mendengar dan meliputi segala sesuatu. Tidak ada satupun permasalahan luput dari pengawasanya semua ujian dan cobaan bagi setiap hamba adalah untuk diketahui siapa yang benar-benar imanya, bertawakkal kepadanya, menghadapkan wajah kepada-Nya, menyandarkan punggungnya kepada Allah dan menyerahkan segala urusan yang dihadapi kepada Allah ta’ala yang menjawab segala permohonan dan hanya dia tempat bergantung segala sesuatu, memberi pertolongan dari arah yang tidak disangka-sangka dia maha lembut (Al Latief) mengurus segala sesuatu. Kepada-Nya segala urusan itu dikembalikan dan padanya kesudahan yang baik itu.

Orang-orang yang tersisa dalam hatinya kekhawatiran dan rasa takut adalah orang yang sedikit mengenal Rabbnya. Seakan mengira bahwa allah ta’ala tidak akan menolongnya, se akan ia berprasangka bahwa allah ta’ala kejam, sekan allah ta’ala itu jauh  tidak mengetahui keadaan hambanya yang sedang berada dalam kesulitan, se-akan-akan allah ta’ala tidak akan mengeluarkanya dari kesulitan itu dan tidak akan membalasnya dengan ampunan dengan surganya yang sangat penuh dengan keindahan. Mereka adalah orang-orang yang lebih meyakini apa yang nampak dan kurang imanya atas yang maha gha’ib. Terdapat kesangsian atas kekuasaan yang kesemuanya berada dalam genggaman-Nya. Tidak sepenuhnya berserah diri dalam harta, jiwa, dan raga sehingga aqidahnya lemah.

Inilah warisan jahiliyah yang ada di zaman kita sekarang ini, yaitu asuransi, aborsi, keluarga berencana, buzzer bayaran, menikah sesama jenis dan lain sebagainya. Kaum jahiliah dahulu, diantara mereka ada yang membunuh anak-anak mereka karena takut akan makan bersamanya, diantara mereka ada yang tidak menikah karena khawatir akan rizki dan nafkan atasnya, diantara mereka menikahi sesama jenis karena tidak perlu khawatir untuk mempunyai anak yang nantinya akan menyusahkan mereka, diantara mereka ada yang menjual jiwa dan raganya kepada tuan-tuan mereka. Rela mengorbankan apapun setia layaknya anjing peliharaan asalkan bisa makan dan hidup terselamatkan. Mereka menukarkan kebahagiaan akhirat yang kekal dengan dunia yang fana, menukarkan hidayah islam dengan segengam uang dan kekuasaan dan itulah jual beli yang paling buruk. Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan bergitu saja sedangkan mereka tidak di uji ?

ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَى طَائِفَةً مِنْكُمْ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الأمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لا يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَا هُنَا قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?." Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah." Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh." Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. Ali Imran (3) : 154

وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ

sedangkan segolongan lagi dicemaskan oleh diri mereka sendiri. (Ali Imran: 154)

Yakni mereka tidak terkena kantuk karena hati mereka diliputi oleh rasa khawatir, gusar, dan takut.

يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ

Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan Jahiliah. (Ali Imran: 154)

Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain, yaitu:

بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلى أَهْلِيهِمْ أَبَداً

Tetapi kalian menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya. (Al-Fath: 12), hingga akhir ayat.

Demikian pula halnya mereka (orang-orang munafik), mereka berkeyakinan ketika kaum musyrik beroleh kemenangan saat itu, bahwa saat itu merupakan saat penentuan, dan bahwa Islam beserta para pemeluknya telah lenyap. Demikian perihal orang-orang yang ragu; jika terjadi suatu peristiwa yang buruk, timbul dugaan yang jelek seperti itu.

 

firman-Nya:

قُلْ إِنَّ الأمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لَا يُبْدُونَ لَكَ

Katakanlah, "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan (kekuasaan) Allah." Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. (Ali Imran: 154)

Kemudian apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka itu dibeberkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَاهُنَا

Mereka berkata, "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." (Ali Imran: 154)

Maksudnya, mereka menyembunyikan ucapan ini dari pengetahuan Rasulullah Saw.

Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yahya Ibnu Abbad ibnu Abdullah ibnuz Zubair, dari ayahnya, dari Abdullah ibnuz Zubair yang menceritakan bahwa Az-Zubair pernah menceritakan hadis berikut: Ketika aku sedang bersama Rasulullah Saw., yaitu di saat rasa takut sangat mencekam kami, maka Allah mengirimkan kantuk yang meliputi diri kami. Maka tidak ada seorang lelaki pun dari kami melainkan dagunya menempel pada dadanya (karena tertidur). Az-Zubair melanjutkan kisahnya, "Demi Allah, aku benar-benar mendengar suara Mu'tib ibnu Qusyair yang suaranya kudengar seperti hanya dalam mimpi. ia mengatakan: 'Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." Kata-kata itu selalu kuingat." Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Mereka berkata, '"Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." (Ali Imran: 154) karena perkataan Mu'tib itu. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Firman Allah Swt.:

قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلى مَضاجِعِهِمْ

Katakanlah, "Sekiranya kalian berada di rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh." (Ali Imran: 154)

Yakni hal ini merupakan takdir yang ditentukan oleh Allah Swt. Dan merupakan keputusan-Nya yang tidak dapat dielakkan lagi darinya dan tidak ada jalan selamat baginya.

Firman Allah Swt.:

وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ

Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dada kalian dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hati kalian. (Ali Imran: 154)

Yaitu menguji kalian melalui apa yang terjadi pada diri kalian agar dapat dibedakan antara yang buruk dan yang baik, dan akan tampak nyata perbedaan antara orang mukmin dan orang munafik di mata orang-orang, baik dalam ucapan maupun perbuatannya.

وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ

sedangkan segolongan lagi dicemaskan oleh diri mereka sendiri. (Ali Imran: 154)

Yakni mereka tidak terkena kantuk karena hati mereka diliputi oleh rasa khawatir, gusar, dan takut.

يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ

mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan Jahiliah. (Ali Imran: 154)

Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain, yaitu:

بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلى أَهْلِيهِمْ أَبَداً

Tetapi kalian menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya. (Al-Fath: 12), hingga akhir ayat.

Demikian pula halnya mereka (orang-orang munafik), mereka berkeyakinan ketika kaum musyrik beroleh kemenangan saat itu, bahwa saat itu merupakan saat penentuan, dan bahwa Islam beserta para pemeluknya telah lenyap. Demikian perihal orang-orang yang ragu; jika terjadi suatu peristiwa yang buruk, timbul dugaan yang jelek seperti itu.

firman-Nya:

قُلْ إِنَّ الأمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لَا يُبْدُونَ لَكَ

Katakanlah, "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan (kekuasaan) Allah." Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. (Ali Imran: 154)

Kemudian apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka itu dibeberkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَاهُنَا

Mereka berkata, "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." (Ali Imran: 154)

Maksudnya, mereka menyembunyikan ucapan ini dari pengetahuan Rasulullah Saw.

Ref : Tafsir Ibnu Katsir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar