TAKUT YANG TERCELA/DIHARAMKAN
TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH.
Pada dasarnya tidak dibenarkan merasa takut kepada semua
selain-Nya. Karena allah ta’ala meliputi segala sesuatu itu. Baginya segala apa
yang dilangit dan dibumi yang dzahir maupun yang bathin yang nampak maupun yang
gha’ib. Dia yang melindungi mahluk-mahluknya selalu menjaganya yang tidak
pernah lelah dan tidak pernah tidur di setiap waktu dari depan dan dari
belakangnya. Tidak ada yang dapat memberikan suatu kemanfaat dan kemudharatan
kecuali atas idzin-Nya. Dia yang maha tinggi dan maha kuasa atas segala
sesuatu.
Ayyuhal ikhwah selanjutnya beberapa contoh rasa takut yang
tercela yang Allah ta’ala peringatkan kepada kita. Disini kami sampaikan
beberapa contoh perbuatan Takut yang tercela itu sebagaimana keadaan maksiat
secara umum memiliki cabang-cabang yang terkadang jatuh kepada dosa besar dan
adakalanya tidak, adakalanya ia terjatuh kepada kesyirikan dan adanya tidak. Namun
dari itu cukuplah ini menjadi hujjah untuk meninggalkanya. Kami sampaikan untuk
menjadi pelajaran dan sudah seharusnya kita menjauhi perkara yang dapat
membinasakan. Adapun masalah tolok ukur kesyirikannya akan ada pembahasan
khususnya insya allah.
TAKUT KEPADA JIBT DAN THAGUUT. TAKUT KEPADA KHUROFAT (TATHOYUR) DAN
RAMALAN. TAKUT KEPADA SIHIR DARI DUKUN DAN AHLI NUJUM.
Ayyuhal ikhwah, takut kepada jibt dan thaguut. Takut kepada
khurofat (tathoyur) dan ramalan. Takut kepada sihir dari dukun dan ahli nujum
adalah rasa takut yang tercela dan diharamkan dalam syari’at. Naam islam tidak
menyangkal adanya kekuatan sihir dan ahli nujum itu namun islam mengajarkan
umatnya untuk mendustakan kekuatan-kekuatan itu untuk berpaling daripadanya dan
kita diperintahkan untuk tidak takut kepada kekuatan sihir dari dukun dan ahli
nujum yang pendusta itu karena kekuatan mereka adalah hanya tipu daya sedangkan
kekuatan allah ta’ala adalah nyata. Jika saja diharamkan mempercayai
perkataanya maka terlebih lagi dalam mempercayai kekuatan (akibat baik dan
buruknya). Tidak akan terjadi suatu kemanfaatan (syafaat) dan kemudharatan
kecuali atas idzin-Nya. Maka menafikan kekuatan sihir itu hukumnya wajib karena
meng imani kekuatan allah ta’ala adalah Tauhid sedang mengakui kekuatan
selain-Nya adalah kesyirikan. “Faman Yakfur Bitthaagut Wayu’min billahi
Faqadistamsaka bil urwatil wusqaa lan fishaamaalaha”
أَلَمْ تَرَ إِلَى
الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ
وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلا
Apakah
kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka
percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir
(musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang
beriman. An Nisaa (4) : 51
Sebelumnya ada baiknya kita mengulang kembali pelajaran
mengenai definisi Jibt dan Thaguut.
Makna al-jibti menurut riwayat Muhammad ibnu Ishaq, dari
Hissan ibnu Qaid, dari Umar ibnul Khattab, yang mengatakan bahwa yang dimaksud
dengan al-jibt ialah sihir, sedangkan tagut ialah setan. Hal yang sama
diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abul Aliyah, Mujahid, Ata, Ikrimah, Sa'id ibnu
Jubair, Asy-Sya'bi, Al-Hasan, Ad-Dahhak, dan As-Saddi.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abul Aliyah, Mujahid, Ata,
Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Asy-Sya'bi, Al-Hasan, dan Atiyyah, bahwa yang
dimaksud dengan al-jibt ialah setan. Menurut riwayat dari Ibnu Abbas
ditambahkan di Al-Habasyiyyah.
Dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa al-jibt artinya syirik,
juga berarti berhala-berhala.
Menurut riwayat dari Asy-Sya'bi, al-jibt artinya juru ramal
(tukang tenung).
Dari Ibnu Abbas Iagi disebutkan bahwa yang dimaksud dengan
al-jibt ialah Huyay ibnu Akhtab.
Dari Mujahid, yang dimaksud dengan al-jibt ialah Ka'b ibnul
Asyraf.
Allamah Abu Nasr ibnu Ismail ibnu Hammad Al-Jauhari di
dalam kitab sahihnya mengatakan bahwa lafaz al-jibt ditujukan kepada pengertian
berhala, tukang ramal, penyihir, dan lain sebagainya yang semisal.
"الطِّيَرَةُ وَالْعِيَافَةُ وَالطَّرْقُ
مِنَ الْجِبْتِ"
Tiyarah, iyafah, dan tharq termasuk jibt.
Selanjutnya Abu Nasr mengatakan bahwa kata al-jibt ini
bukan asli dari bahasa Arab, mengingat di dalamnya terhimpun antara huruf jim
dan huruf ta dalam satu kata, bukan karena sebab sebagai huruf yang
dipertemukan.
Hadis yang disebutkan oleh Abu Nasr ini diriwayatkan oleh
Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya.
Untuk itu Imam Ahmad mengatakan:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا، عَوْفٌ عَنْ حَيَّانَ
أَبِي الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا قَطَنُ بْنُ قَبِيصَةَ، عَنْ أَبِيهِ -وَهُوَ قَبِيصَةُ
بْنُ مُخَارِقٍ-أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
"إِنَّ الْعِيَافَةَ وَالطَّرْقَ وَالطِّيَرَةَ مِنَ الْجِبْتِ"
telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami
Auf ibnu Hayyan ibnul Ala, telah menceritakan kepada kami Qatn ibnu Qubaisah,
dari ayahnya (yaitu Qubaisah ibnu Mukhariq), bahwa ia pernah mendengar Nabi
Saw. bersabda: Sesungguhnya 'iyafah, tharq, dan tiyarah termasuk al-jibt.
Auf mengatakan bahwa iyafah ialah semacam ramalan yang
dilakukan dengan mengusir burung. At-Tarq yaitu semacam ramalan dengan cara
membuat garis-garis di tanah. Menurut Al-Hasan, al-jibt artinya rintihan
(bisikan) setan.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Abu
Daud di dalam kitab sunannya, Imam
Nasai, dan Ibnu Abu Hatim di dalam kitab tafsirnya melalui hadis Auf Al-A’rabi.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami
ayahku, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnud-Daif, telah menceritakan
kepada kami Hajaj, dari Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Abuz-Zubair,
bahwa ia pernah mendengar Jabir ibnu Abdullah ketika ditanya mengenai arti
tawagit. Maka Jabir ibnu Abdullah menjawab, "Mereka adalah para peramal
yang setan-setan turun membantu mereka."
Mujahid mengatakan bahwa tagut ialah setan dalam bentuk
manusia, mereka mengangkatnya sebagai pemimpin mereka dan mengadukan segala
perkara mereka kepada dia, dialah yang memutuskannya.
Imam Malik mengatakan bahwa tagut ialah semua yang disembah
selain Allah Swt.
lbnul Qoyyim
berkata thoghut adalah segala sesuatu yang membuat hamba ALLAH menerjang
batasan-batasannya.
Umar bin
Khotthob berkata : thoghut adalah syetan
Ibnu Katsir
berkata pendapat Umar bin Khotthob adalah pendapat yang paling kuat karena
sangat cocok dengan keadaan masyarakat dimana ayat ALLAH tentangnya diturunkan.
Dari
keterangan di atas bisa kita simpulkan bahwa thoghut itu adalah syetan atau
segala sesuatu yang diibadahi selain ALLAH sedang dia kafir atau segala sesuatu
yang membuat hamba-hamba ALLAH menerjang batasan-batasan -Nya sedang dia kafir.
Atau bisa disebut sebagai pemimpin-pemimpin orang kafir, seperti difirmankan
oleh ALLAH Ta'ala.
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ
الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا
الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ
جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ
وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
"Sedangkan orang-orang kafir
memimpin-pemimpin mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya
kepada kegelapan. Mereka itulah penghuni neraka, yang kekal di dalamnya (Al
Baqarah (2) : 275)
Sebagai contoh adalah Iblis, Fir'aun, Namrud, Qorun, Abu
Jahal, Abu Lahab, para dukun/para normal, dan semisalnya dari pemimpin-pemimpin
kafir baik dari jenis manusia maupun jin.
Adapun makna
thaghut, Ibnul Qayyim berkata, “Thaghut adalah suatu keadaan yang melebihi
batasan-batasan seorang hamba, seperti diibadahi, diikuti atau ditaaati.”
Maka Ibnul Qayyim membagi macam-macam thaghut pada setiap
kaum, yaitu :
1.
Orang yag berhukum selain dari hukum ALLAH dan rasul-Nya
(al-Qur’an dan as-Sunnah).
2.
Orang yang diibadahi selain ALLAH dan dia ridlo.
3.
Orang yang diikuti, tetapi dia tidak berada di atas
bashirah (ilmu) dari ALLAH dan diapun ridlo.
4.
Orang yang ditaati dalam perkara-perkara yang dalam perkara-perkara
tersebut hanya ALLAH-lah yang pantas untuk ditaati dan diapun dalam keadaan
ridlo. (Fathul Majid Syarh Kitabit Tauhid)
Dan
adalah makna iman kepada ALLAH Ta’ala
yaitu meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa dialah ALLAH satu-satunya yang berhak
untuk diibadahi dengan semurni-murninya keseluruhannya hanya untuk ALLAH Ta’ala
saja. Dan menafikan semua yang diibadahi
selain daripadanya. Mencintai ahli ikhlas dan saling tolong-menolong dengan
mereka. Membenci ahli syirik dan berlepas diri dari mereka. Inilah millah
Ibrahim alaihissalam yang berserah diri sepenuhnya dan tidak ada baginya tempat
untuk nafsu.
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ
وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ
الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلا قَوْلَ
إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ لأسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ
شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Sesungguhnya telah ada suri tauladan
yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika
mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya Kami berlepas diri
daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain ALLAH, Kami ingkari
(kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian
buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada ALLAH saja. kecuali Perkataan
Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi
kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) ALLAH".
(Ibrahim berkata): "Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakkal
dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah Kami
kembali." Al Mumtahanah (60) : 4
Thaghut adalah suatu
yang diibadahi atau sesuatu yang
di taati dan dipatuhi selain daripada ALLAH dan rasulullah saw maka inilah thagut. Rasulullah saw bersabda “Tidak ada ketaatan
bagimu dalam suatu urusan yang bertentangan
dengan perintah atau hukum ALLAH Ta’ala.”
Pokok-pokok Utama Thaghut adalah :
1.
Syaithon
Syaithon yang selalu mengajak untuk menyembah selain
ALLAH menyelisihi perintahnya dan membantah segala larangannya mengajak untuk
tunduk atas nafsu.
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا
الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Bukankah aku telah memerintahkan
kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya
syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu", yasiin (36) : 60
2.
Hukum selain Hukum ALLAH.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ
أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ
أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ
الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا
Apakah kamu tidak memperhatikan
orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan
kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim
kepada thaghut Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan
syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.
An Nisaa (4) : 60
3.
Orang yang berhukum dan menghukumi manusia selain dengan
hukum ALLAH
إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ
بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ
وَالأحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ
فَلا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا وَمَنْ
لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Sesungguhnya Kami telah menurunkan
kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang
dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang
menyerah diri kepada ALLAH, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta
mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab ALLAH dan mereka
menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut kepada manusia,
(tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan
harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang
diturunkan ALLAH, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Al Maidah (5)
: 44
4.
Orang yang mengaku mengetahui perkara Gha’ib
إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ
بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ
وَالأحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ
فَلا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا وَمَنْ
لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
(dia adalah Tuhan) yang mengetahui
yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib
itu. kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan
penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Al Jiin (72) : 26-27
5.
Orang yang disembah selain daripada ALLAH dan dia ridhla
atasnya.
إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا
هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا
وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا
عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي
ثَمَنًا قَلِيلا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Dan Barangsiapa di antara mereka,
mengatakan: "Sesungguhnya aku adalah Tuhan selain daripada ALLAH",
Maka orang itu Kami beri Balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan
pembalasan kepada orang-orang zalim. Al Anbiyaa (21) : 29
Dan
ketahuilah bahwa mengingkari Jibt dan thagut adalah merupakan syarat keimanan
dan tidaklah dia dikatakan beriman sampai dia mengingkarinya.
لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ
الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ
اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
tidak ada paksaan untuk (memasuki)
agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang
sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada
ALLAH, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat
yang tidak akan putus. dan ALLAH Maha mendengar lagi Maha mengetahui. Al
Baqarah (2) : 256
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ
يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلاءِ
أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلا
Apakah kamu
tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka
percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir
(musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang
beriman. An Nisaa (4) : 51
وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا
إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِي
dan
orang-orang yang menjauhi Thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali
kepada ALLAH, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu
kepada hamba- hamba-Ku, Az Zumaar (39) : 17
الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ
كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ
إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
orang-orang
yang beriman berperang di jalan ALLAH, dan orang-orang yang kafir berperang di
jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena
Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. An Nisaa (4) : 76
قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ
اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ
وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
Katakanlah: "Apakah akan aku
beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari
(orang-orang fasik) itu disisi ALLAH, Yaitu orang-orang yang dikutuki dan
dimurkai ALLAH, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang
yang) menyembah thaghut?". mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih
tersesat dari jalan yang lurus. Al Maidah (5) : 60
Kesimpulan :
Oleh karena itu Thaghut bisa berbentuk makhluk , mahkluk hidup atau juga benda
mati, bisa jadi itu syetan (iblis) ataupun manusia bisa jadi itu adalah harta
benda atau sebagainya yang mana apabila menjadikannya sebagai sekutu bagi ALLAH
dalam ketaatan mendahulukannya dan mencintai nya sebagaimana mereka mencintai
ALLAH. Dan juga padanya dalam rasa takut yaitu takut kepada jibt dan thagut itu
sebagaimana mereka takut kepada Allah ta’ala bahkan lebih rasa takutnya kepada
jibt dan thaguut itu melebihi rasa takutnya kepada allah ta’ala.
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ
مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ
وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
dijadikan indah pada (pandangan)
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia,
dan di sisi ALLAH-lah tempat kembali yang baik (surga). Ali Imran (3) : 14
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ
مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا
وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya
di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan
jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka
Sesungguhnya ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ath Taghabuun (64) : 14
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا
يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ
يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا
وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
dan diantara manusia ada orang-orang
yang menyembah tandingan-tandingan selain ALLAH; mereka mencintainya
sebagaimana mereka mencintai ALLAH. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat
cintanya kepada ALLAH. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu
mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu
kepunyaan ALLAH semuanya, dan bahwa ALLAH Amat berat siksaan-Nya (niscaya
mereka menyesal). Al Baqarah (2) : 165
Istri, anak,
harta benda, jabatan atau atasan bila mana mereka lebih kamu cintai dan lebih
kamu ikuti dan meninggalkan ALLAH Ta’ala maka hakikatnya itu semua adalah
Thagut yaitu sesuatu yang memalingkan kita dari ketaatan kepada ALLAH
memalingkan kita atas kecintaan kepada ALLAH, Naudzubillahi min dzalik.
Sedangkan orang-orang yang beriman mendahulukan ALLAH Ta’ala diatas yang
lainnya, mendahulukan perintah dan larangan ALLAH Ta’ala, diatas
perintah-perintah atau larangan-larangan yang lainnya.
TAKUT KEPADA JIBT DAN THAGUUT. TAKUT
KEPADA KHUROFAT (TATHOYUR) DAN RAMALAN. TAKUT KEPADA SIHIR DARI DUKUN DAN AHLI
NUJUM.
Ayyuhal
ikhwah, Takut atau mempercayai kekuatan kekuatan tersebut adalah syirik.
memiliki kedudukan hukum yang sama dalam syari'at. adalah sesat dan menyesatkan
mereka yang berkata : "Takut Kepada Dukun adalah takut yang wajar, ia
adalah Syirik Kecil Bukan Syirik Besar"
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا
كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ
وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ
مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ
مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ
بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ
وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ وَلَبِئْسَ
مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan
mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan
Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal
Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang
kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang
diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang
keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan:
"Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu
kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan
sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya.
Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada
seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang
tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya
mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan
sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan
mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. Al baqarah (2) : 102
Maka Perhatikanlah yaa ikhwah :
وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ
بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ
Dan
mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada
seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang
tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Al baqarah (2) :
102.
قَالَ مُوسَى أَتَقُولُونَ
لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَكُمْ أَسِحْرٌ هَذَا وَلا يُفْلِحُ السَّاحِرُونَ
Musa
berkata: "Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang
kepadamu, sihirkah ini?" padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat
kemenangan Yunus (10) : 77
فَلَمَّا أَلْقَوْا
قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللَّهَ
لا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ
Maka
setelah mereka lemparkan, Musa berkata: "Apa yang kamu lakukan itu, itulah
yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya"
Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan
orang-yang membuat kerusakan. Yunus (10) : 81
وَأَلْقِ مَا فِي
يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلا يُفْلِحُ السَّاحِرُ
حَيْثُ أَتَى
Dan
lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang
mereka perbuat. "Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya
tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja
ia datang. ThaaHaa (20) : 69
فَغُلِبُوا هُنَالِكَ
وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ .وَأُلْقِيَ
السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ
Maka
mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Dan
ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Al Araaf (7)
: 119 – 120
فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ
سَاجِدِينَ
.قَالُوا آمَنَّا
بِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Maka
tersungkurlah ahli-ahli sihir sambil bersujud (kepada Allah), mereka berkata:
"Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, Asy Syu’araa (26) : 46-47
Inilah janji Allah ta’ala. Sihir itu pasti kalah.
Kesimpulan dari ini adalah meyakini kekuasaan Allah Ta’ala adalah Tauhid dan
Takut kepada sihir adalah menyangsikan kekuatan/kekuasaan Allah ta’ala. Dan ini
adalah kesyirikan. Dan sesungguhnya seorang musliim jika terkena sihir ia wajib
mengembalikan urusan itu kepada Allah Ta’ala. Bahwa itu terjadi atas Idzin-Nya.
Jika seorang musliim meyakini segala sesuatu itu terjadi atas Idzin Allah
Ta’ala maka tidak ada ruang dihatinya untuk takut kepada selain-Nya.
Diperintahkan kepada kaum muslimiin untuk mengingkari Jibt
dan Thaguut. Konsekuensi dari tauhid adalah penetapan dan pengingkaran.
Menetapkan Allah ta'ala satu-satunya kekuatan yang mampu memberikan kemanfaatan
dan kemudharatan. Pengingkaran kepada selain-Nya, inilah TAUHID. Berbeda dengan
rasa takut kepada yang lainya dalam batas-batas syari'at maka takut kepada
sihir dukun dan takut atas ramalan buruk dari ahli nujum telah jelas
kedudukanya dalam syariat dalam hal larangannya yaitu kewajiban bagi kaum
muslimiin untuk tidak takut atasnya dan mengingkari ucapan dan atau kekuatan
darinya.
Dimaklumi bersama larangan allah ta'ala untuk mempercayai sihir, dukun, takhyul, tathoyur atau tiyaroh, ramalan ahli nuzum. yang insya allah dalil dan pembahasanya atas larangan masalah ini akan kami sampaikan dan sudah kami sampaikan pada bab lain di lain risalah.
TAKUT KEPADA JIN, HANTU, ARWAH, KUBURAN, TEMPAT KERAMAT
Ayyuhal ikhwah, selanjutnya adalah takut kepada kekuatan gha’ib
yang hakikatnya hanya Allah ta’ala yang dapat melindungi karena hanya Allah
yang Maha Gha’ib itu yang meliputi segala sesuatu.
قَالُوا سُبْحَانَكَ
أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ
بِهِمْ مُؤْمِنُونَ
Malaikat-malaikat
itu menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka;
bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin
itu." Saba (34) : 41
وَجَعَلُوا لِلَّهِ
شُرَكَاءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ وَخَرَقُوا لَهُ بَنِينَ وَبَنَاتٍ بِغَيْرِ عِلْمٍ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَصِفُونَ
Dan
mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah
yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan):
"Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar)
ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka
berikan. Al An’aam (6) : 100
وَأَنَّهُ كَانَ
رِجَالٌ مِنَ الإنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
Dan
bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada
beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa
dan kesalahan. Al Jinn (72) : 6
Firman Allah Swt.:
وَأَنَّهُ كَانَ
رِجَالٌ مِنَ الإنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
Dan
bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan
kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka
dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6)
Imam Ibnu Katsir dalam tafsir ayat ini : Yakni kami dahulu
berpandangan bahwa diri kami lebih utama daripada manusia karena mereka sering
meminta perlindungan kepada kami, bila mereka berada di sebuah lembah atau
suatu tempat yang mengerikan seperti di hutan dan tempat-tempat lainnya yang
angker. Sebagaimana yang sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab di masa
Jahiliah mereka; mereka meminta perlindungan kepada pemimpin jin di tempat
mereka beristirahat agar mereka tidak diganggu olehnya. Perihalnya sama dengan
seseorang dari mereka bila memasuki kota musuh mereka di bawah jaminan
perlindungan orang besar yang berpengaruh di kota tersebut. Ketika jin melihat
bahwa manusia itu selalu meminta perlindungan kepada mereka karena takut kepada
mereka, maka justru jin-jin itu makin membuatnya menjadi lebih takut, lebih
ngeri, dan lebih kecut hatinya.
Dimaksudkan agar manusia itu tetap takut kepada mereka dan
lebih banyak meminta perlindungan kepada mereka, sebagaimana yang dikatakan
oleh Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: maka jin-jin itu menambah bagi
mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6) Yaitu makin menambah manusia berdosa,
dan jin pun sebaliknya makin bertambah berani kepada manusia.
As-Sauri telah meriwayatkan dari Mansur, dari Ibrahim
sehubungan dengan makna firman-Nya: maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa
dan kesalahan. (Al-Jin: 6) Artinya, jin makin bertambah berani kepada manusia.
As-Saddi mengatakan bahwa dahulu bila seseorang melakukan
perjalanan bersama keluarganya, dan di suatu tempat ia turun istirahat, maka ia
mengatakan, "Aku berlindung kepada pemimpin jin lembah ini agar aku jangan
diganggu atau hartaku atau anakku atau ternakku." Qatadah mengatakan bahwa
apabila dia meminta perlindungan kepada jin selain dari Allah, maka jin makin
menambah gangguannya kepada dia, dan membuatnya makin merasa takut.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami
Abu Sa'id alias Yahya ibnu Sa'id Al-Qattan, telah menceritakan kepada kami Wahb
ibnu Jarir, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada
kami Az-Zubair ibnul Kharit, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa dahulu jin
takut kepada manusia, sebagaimana sekarang manusia takut kepada jin, atau
bahkan lebih parah dari itu. Dan tersebutlah bahwa pada mulanya apabila manusia
turun istirahat di suatu tempat, maka jin yang menghuni tempat ini bubar
melarikan diri. Tetapi pemimpin manusia mengatakan, "Kita meminta
perlindungan kepada pemimpin jin penghuni lembah ini." Maka jin berkata,
"Kita lihat manusia takut kepada kita, sebagaimana kita juga takut kepada
mereka." Akhirnya jin mendekati manusia dan menimpakan kepada mereka
penyakit kesurupan dan penyakit gila. Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya:
وَأَنَّهُ كَانَ
رِجَالٌ مِنَ الإنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
Dan
bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan
kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka
dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6)
Yakni dosa. Abul Aliyah dan Ar-Rabi' serta Zaid ibnu Aslam
telah mengatakan sehubungan dengan makna rahaqa, bahwa artinya takut.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan
dengan makna firman Allah Swt.: maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan
kesalahan. (Al-Jin: 6) Rahaqan artinya dosa. Hal yang sama dikatakan oleh
Qatadah. Menurut Mujahid, rahaqan artinya kekufuran dan kedurhakaan.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami
ayahku, telah menceritakan kepada kami Farwah ibnul Migra Al-Kindi, telah
menceritakan kepada kami Al-Qasim ibnu Malik Al-Muzani, dari Abdur Rahman ibnu
Ishaq, dari ayahnya, dari Kirdam ibnus Sa-ib Al-Ansari yang mengatakan bahwa ia
keluar bersama ayahnya dari Madinah untuk suatu keperluan. Demikian itu terjadi
di saat berita Rasulullah Saw. di Mekah tersiar. Maka malam hari memaksa kami
untuk menginap di tempat seorang penggembala ternak kambing. Dan ketika tengah
malam tiba, datanglah seekor serigala, lalu membawa lari seekor anak kambing,
maka si penggembala melompat dan berkata, "Hai penghuni lembah ini,
tolonglah aku!" Maka terdengarlah suara seruan yang tidak kami lihat siapa
dia, mengatakan, "Hai Sarhan (nama serigala itu), lepaskanlah anak kambing
itu!" Maka anak kambing itu bergabung kembali dengan kumpulan ternak
dengan berlari tanpa mengalami luka apa pun. Dan Allah Swt. menurunkan kepada
Rasul-Nya di Mekah ayat berikut, yaitu firman-Nya: Dan bahwasanya ada beberapa
orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa
laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosadan
kesalahan. (Al-Jin: 6)
Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari
Ubaid ibnu Umair, Mujahid, Abul Aliyah, Al-Hasan, Sa'id ibnu Jubair, dan Ibrahim
An-Nakha'i hal yang semisal.
Barangkali serigala yang mengambil anak kambing itu adalah
jelmaan jin untuk menakut-nakuti manusia agar manusia takut kepadanya, kemudian
ia mengembalikan anak kambing itu ketika manusia meminta tolong dan memohon
perlindungan kepadanya, hingga manusia itu menjadi sesat, dihinakan oleh jin
dan mengeluarkannya dari agamanya; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا إِنَاثًا
وَإِنْ يَدْعُونَ إِلا شَيْطَانًا مَرِيدًا .لَعَنَهُ اللَّهُ وَقَالَ لأتَّخِذَنَّ
مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا .وَلأضِلَّنَّهُمْ وَلأمَنِّيَنَّهُمْ وَلآمُرَنَّهُمْ
فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الأنْعَامِ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ
وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا
مُبِينًا .يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ
إِلا غُرُورًا.
Yang
mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan
menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka,
yang dilaknati Allah dan setan itu mengatakan, "Saya benar-benar akan
mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang telah ditentukan (untuk saya),
dan saya benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan
angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong
telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan
saya suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka
mengubahnya. Barang siapa yang menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah,
maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. Setan itu memberikan
janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka,
padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.
(An-Nisa: 117-120)
Ref:
Tafsir Ibnu Katsir.
Dan syetan
itulah yang membisikan kepada manusia dengan menghembuskan fitnah yaitu karomah
syafaat yang dapat memberikan manfaat atau madharat disisi allah ta’ala
menjadikan rasa cinta dan juga rasa
takut. Mencintai karena dapat memberi manfaat/pertolongan menjadi takut karena
dapat memberikan kemadharatan.
TAKUT TIDAK MAKAN/TAKUT MISKIN
وَلا تَقْتُلُوا
أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ
كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا
Dan
janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan
memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka
adalah suatu dosa yang besar. Al Israa (17) : 31
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ
لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا
اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا
Dan
hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap
(kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah
dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. An Nisaa (4) : 9
وَكَذَلِكَ زَيَّنَ
لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ لِيُرْدُوهُمْ وَلِيَلْبِسُوا
عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
Dan
demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari
orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk
membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya. Dan kalau
Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggallah mereka
dan apa yang mereka ada-adakan. Al An’aam (6) : 137
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلا تُشْرِكُوا
بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ
نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ
وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Katakanlah:
"Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu:
janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap
kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut
kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah
kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya
maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah
(membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar." Demikian itu
yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). Al An’aam (6) : 151
TAKUT MATI
اللَّهُ يَتَوَفَّى الأنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ
فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الأخْرَى
إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa
(orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang
telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu
yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda
kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. Az Zumaar (39) : 42
إِنَّكَ
مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ
Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).
Az Zumaar (39) : 30
أَلَمْ تَرَ إِلَى
الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ
اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ
أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَشْكُرُونَ
Apakah
kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka,
sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman
kepada mereka: "Matilah kamu", kemudian Allah menghidupkan mereka.
Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia
tidak bersyukur. Al Baqarah (2) : 243
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ
أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا
نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah,
sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki
pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa
menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu.
Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Ali Imran (3)
: 145
قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ
الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ
مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ
الصُّدُورِ
Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya
orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke
tempat mereka terbunuh." Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa
yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah
Maha Mengetahui isi hati. Ali Imran (3) : 154
قُلْ
إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ
إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya,
maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan
dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu
Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." Al Jumu’ah (62) : 8
وَمَا
جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ
Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum
kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Al Anbiyaa
(21) : 34
أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ
السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ
مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ
atau
seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap
gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya,
karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi
orang-orang yang kafir Al Baqarah (2) : 19
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا
فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا
حَسَنًا وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Dan
orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati,
benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezki yang baik (surga). Dan
sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezki. Al Hajj (22) : 58
وَيَقُولُ الَّذِينَ
آمَنُوا لَوْلا نُزِّلَتْ سُورَةٌ فَإِذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ مُحْكَمَةٌ وَذُكِرَ
فِيهَا الْقِتَالُ رَأَيْتَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ
نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَأَوْلَى لَهُمْ
Dan
orang-orang yang beriman berkata: "Mengapa tiada diturunkan suatu
surat?" Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan
disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada
penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang
pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka. Muhammad (47) : 20
TAKUT DARI MUSUH /TAKUT SYAHID / TAKUT SAAT BERJIHAD BERPERANG MELAWAN
MUSUH
إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ
مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
ketika
dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah
penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja
orang-orang mukmin bertawakkal. Ali
Imran (3) : 122
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا
فَلَا تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ ﴿١٥﴾ وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا
مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ
اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Wahai
orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir
yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).
Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok
untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain,
maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allâh, dan
tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya Al-Anfal (8)
: 15-16
أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوا اللَّهَ
الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ
ظِلَالِ السُّيُوفِ
Wahai
manusia, janganlah kamu mengharapkan bertemu musuh, tetapi mohonlah keselamatan
kepada Allâh. Jika kamu bertemu musuh, maka bersabarlah dan ketahuilah bahwa
sorga itu di bawah naungan pedang. [HR. Bukhari, no. 3024; Muslim, no. 1742]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه و
سلم قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا
هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ
إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ
الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ
Dari
Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau bersabda:
“Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya:
“Wahai Rasûlullâh, apakah itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Syirik kepada Allâh; sihir; membunuh jiwa yang Allâh haramkan kecuali dengan
haq; memakan riba; memakan harta anak yatim; berpaling (lari) dari perang yang
berkecamuk; menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga
kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina”. [Hadits Shahih Riwayat
al-Bukhâri, no: 3456; Muslim, no: 2669]
وَيَقُولُ الَّذِينَ
آمَنُوا لَوْلا نُزِّلَتْ سُورَةٌ فَإِذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ مُحْكَمَةٌ وَذُكِرَ
فِيهَا الْقِتَالُ رَأَيْتَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ
نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَأَوْلَى لَهُمْ
Dan
orang-orang yang beriman berkata: "Mengapa tiada diturunkan suatu
surat?" Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan
disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada
penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang
pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka. Muhammad (47) : 20
يَا قَوْمِ ادْخُلُوا
الأرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ
فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ
Hai
kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu,
dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu
menjadi orang-orang yang merugi. Al Maidah (5) : 21
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا لا تَكُونُوا كَالَّذِينَ كَفَرُوا وَقَالُوا لإخْوَانِهِمْ إِذَا ضَرَبُوا
فِي الأرْضِ أَوْ كَانُوا غُزًّى لَوْ كَانُوا عِنْدَنَا مَا مَاتُوا وَمَا قُتِلُوا
لِيَجْعَلَ اللَّهُ ذَلِكَ حَسْرَةً فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَاللَّهُ
بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang
munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka
mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: "Kalau mereka
tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh."
Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan
rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan
mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. Ali Imran (3) : 156
TAKUT KEPADA ANCAMAN PENGUASA
قَالَ آمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ
الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَسَوْفَ تَعْلَمُونَ لأقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ
مِنْ خِلافٍ وَلأصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ .قَالُوا لا ضَيْرَ إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ .إِنَّا نَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لَنَا رَبُّنَا
خَطَايَانَا أَنْ كُنَّا أَوَّلَ الْمُؤْمِنِينَ
Fir'aun
berkata: "Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi
izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir
kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat
perbuatanmu); sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan
bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya." Mereka berkata: "Tidak
ada kemudharatan (bagi kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami,
sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan
kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman." Asy Syu’araa (26) : 49-51.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْر، أَخْبَرَنَا الْأَعْمَشُ،
عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّة، عَنْ أَبِي البَخْتَري، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ،
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"لَا يَحْقِرَنَّ أَحَدُكُمْ نَفْسَهُ أَنْ يَرَى أَمْرَ اللَّهِ فِيهِ مَقَالٌ
ثُمَّ لَا يَقُولُهُ، فَيَقُولُ اللَّهُ: مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَقُولَ فِيهِ؟ فَيَقُولُ:
رَبِّ، خَشِيتُ النَّاسَ. فَيَقُولُ: فَأَنَا أَحَقُّ أن يخشى "
Imam
Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Namir, telah menceritakan
kepada kami Al-A'masy, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Bukhturi, dari Abu Sa'id
Al-Khudri r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Jangan
sekali-kali seseorang di antara kalian menghina dirinya sendiri bila ia melihat
perintah Allah yang memerlukan pembelaannya, kemudian ia tidak membelanya. Maka
Allah akan bertanya, "Apakah yang mencegahmu untuk tidak membelanya?” Lalu
ia mengatakan, "Ya Tuhanku, aku takut kepada manusia.” Maka Allah akan berfirman,
"Akulah seharusnya yang lebih ditakuti.”
Imam Ahmad telah meriwayatkannya pula dari Abdur Razzaq,
dari As-Sauri, dari Zaid ibnu Amr ibnu Murrah. Ibnu Majah meriwayatkannya dari
Abu Kuraib, dari Abdullah ibnu Numair dan Abu Mu'awiyah, keduanya dari
Al-A'masy dengan sanad yang sama.
TAKUT KARENA KEMUNAFIKAN
Mereka takut kemunafikan mereka di bukakan.
يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ
أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِئُوا
إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ
Orang-orang
yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang
menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka:
"Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya)."
Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. At Taubah (9) : 64
فَتَرَى الَّذِينَ
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ
فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا
عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ
Maka
kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang
munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata:
"Kami takut akan mendapat bencana." Mudah-mudahan Allah akan
mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari
sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka
rahasiakan dalam diri mereka. Al Maidah (5) : 52
Allah ta’ala berfirman,
يَسْتَخْفُونَ مِنَ
النَّاسِ وَلا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لا
يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطاً
“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak
bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam
mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah
Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan” (QS. An-Nisaa :
108).
Hadits Tsauban radhiallahu ‘anhu di mana Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda,
لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ
لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ
وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ
أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا
“Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari
umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung
Tihamah yang putih. Kemudian Allah menjadikannya debu yang berterbangan.”
Tsauban bertanya, “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri
mereka dan jelaskanlah perihal mereka agar kami tidak menjadi seperti mereka
tanpa disadari.”
Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara kalian
dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian, tetapi mereka
adalah kaum yang jika bersendirian mereka menerjang hal yang diharamkan Allah.”
(Shahih. HR. Ibnu Majah).
TAKUT DALAM MENJALANKAN DAN MENDAKWAHKAN SYARI’AT. TAKUT TERHADAP CELAAN MANUSIA ATAS KETAATAN YANG DIPERBUATNYA
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. Al maidah (5) : 54
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا
(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan. Al Ahzab (33) : 39
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata :
وَيَخْشَوْنَهُ
mereka takut kepada-Nya. (Al-Ahzab: 39)
Mereka hanya takut kepada Allah, dan tidak takut kepada seorang pun selain Dia. Oleh karena itu, maka tiada kekuasaan seorang pun yang dapat mencegah mereka dari menyampaikan risalah-risalah Allah Swt.
وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا
Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.(Al-Ahzab: 39)
Artinya cukuplah Allah sebagai Penolong dan Pembantu. Dan penghulu manusia dalam menjalankan misi kedudukan ini, bahkan dalam semua kedudukan, adalah Muhammad Rasulullah Saw. Karena sesungguhnya dia telah menunaikan risalah ini dan menyampaikannya kepada semua penduduk belahan timur dan belahan barat, hingga kepada semua Bani Adam. Allah telah memenangkan kalimah-Nya, agama-Nya, dan syariatNya atas semua agama dan semua syariat. Dan sesungguhnya nabi-nabi sebelumnya hanya diutus kepada kaumnya semata, sedangkan beliau Saw. diutus untuk semua makhluk, baik yang Arab maupun non-Arab, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
Katakanlah, "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (Al-A'raf: 158)
Kemudian tugas penyampaiannya itu diwarisi oleh umatnya sesudah dia tiada. Orang yang paling berjasa dalam hal ini adalah para sahabatnya radiyallahu 'anhum. Mereka telah menyampaikan darinya sebagaimana apa yang telah dia sampaikan kepada mereka dalam semua perkataan, perbuatan, dan sepak terjangnya di malam dan siang harinya, dalam perjalanan dan di tempat kediamannya, dan dalam kesembunyian dan keterang-keterangannya. Semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada mereka dan membalas mereka dengan pahala yang memuaskan mereka. Kemudian sesudah mereka tugas ini diwarisi pula oleh pengganti mereka secara estafet sampai kepada masa kita sekarang ini. Maka hanya orang-orang yang mendapat petunjuklah yang mengikuti jejak mereka, dan hanya orang-orang yang mendapat taufiklah yang menempuh jalan mereka. Untuk itu kita memohon kepada Allah Swt. semoga Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang dapat menggantikan mereka. Allah Mahamulia lagi Maha Pemberi Karunia.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْر، أَخْبَرَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّة، عَنْ أَبِي البَخْتَري، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَا يَحْقِرَنَّ أَحَدُكُمْ نَفْسَهُ أَنْ يَرَى أَمْرَ اللَّهِ فِيهِ مَقَالٌ ثُمَّ لَا يَقُولُهُ، فَيَقُولُ اللَّهُ: مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَقُولَ فِيهِ؟ فَيَقُولُ: رَبِّ، خَشِيتُ النَّاسَ. فَيَقُولُ: فَأَنَا أَحَقُّ أن يخشى "
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Namir, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Bukhturi, dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian menghina dirinya sendiri bila ia melihat perintah Allah yang memerlukan pembelaannya, kemudian ia tidak membelanya. Maka Allah akan bertanya, "Apakah yang mencegahmu untuk tidak membelanya?” Lalu ia mengatakan, "Ya Tuhanku, aku takut kepada manusia.” Maka Allah akan berfirman, "Akulah seharusnya yang lebih ditakuti.”
Imam Ahmad telah meriwayatkannya pula dari Abdur Razzaq, dari As-Sauri, dari Zaid ibnu Amr ibnu Murrah. Ibnu Majah meriwayatkannya dari Abu Kuraib, dari Abdullah ibnu Numair dan Abu Mu'awiyah, keduanya dari Al-A'masy dengan sanad yang sama.
SEMUA YANG BERSEBERANGAN DENGAN TAKUT YANG DISYARI’ATKAN ADALAH TERCELA-TAKUT
YANG MENYEBABKAN LALAI DARI MENJALANKAN SYARI’AT.
سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ الأعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا
وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ
قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ
أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
Orang-orang
Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: "Harta
dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk
kami"; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam
hatinya. Katakanlah : "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi
kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia
menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan. AL Fath (48) : 11.
إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ
الآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ
Di
antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (tidak pergi
berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah."
Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya
Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir. At Taubah (9) : 45
Dalam
ayat ini adalah sikap takut yang menyebabkan seorang hamba menyelisihi perintah
allah ta’ala dan rasul-Nya.
Sebagaimana telah kami sampaikan sebelumnya beberapa rasa
takut yang disyari’atkan. Dan adalah takut yang tercela yaitu yang menyebabkan
manusia meninggalkan ketaatan kepada allah ta’ala, meninggalkan syari’at yang
telah ditetapkan padanya. Ketahuilah sesungguhnya dengan berpalingnya dari
ketaatan, tidak menjalankan syari’at itu adalah suatu kebinasaan yang lebih
besar, maka hendaknya untuk lebih takut kepada hal tersebut yaitu meninggalkan
ketaatan itu lebih allah murkai dan adakah yang lebih berhak ditakuti selain
dari allah ta’ala, adakah yang lebih berhak ditakuti selain kebinasaan dari
akibat meninggalkan ketaatan itu ?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar