TAKUT YANG WAJAR/MANUSIAWI ? WAJIB BAGI KAUM MUSLIMIIN UNTUK MENGENDALIKAN RASA TAKUTNYA
TAUHID ADALAH PEMURNIAN PERIBADATAN KEPADA ALLAH.
Yang dimaksud adalah menegenai fitrah manusia yang memiliki
rasa takut. Kadang terjadi dengan sendirinya secara tiba-tiba tanpa dimaksudkan
atau diharap-harapkan kedatangan rasa ini. Takut kepada hewan buas, kegelapan,
suara halilintar dan lain-lain. Namun dari itu wajib bagi seorang hamba yang
bertauhid untuk mengendalikan rasa takutnya dan mengembalikan semua perasaanya
itu kepada allah ta’ala, untuk bertawakkal kepadanya menyandarkan urusan-Nya
memohon pertolongan dan berlindung kepada-Nya. Rasa cinta adalah Fitrah dari
Allah Ta’ala, namun wajib bagi setiap hamba mengendalikan rasa cintanya,
kesukaanya, nafsunya akan dunia dan seisinya sehingga diperintahkan padanya
untuk cinta itu tidak boleh sama antara kecintaanya kepada allah dengan kepada
selainya. Begitu juga dalam masalah Rasa takut yang juga merupakan Fitrah
manusia maka wajib baginya utuk di kendalikan dan diarahkan kepada fitrah yang
lurus (Hanif). Tidak boleh rasa takut kepada sama (seimbang) dengan selain
allah Ta’ala mengalahkan atau lebih besar dibanding rasa takutnya kepada Allah
Ta’ala.
Sama hal nya seperti riya yaitu menjadi syirik kecil bila
hal tersebut terjadi dengan tapa kesengajaan namun jika ia dilakukan sengaja
mempersembahkan ibadahnya selain kepada allah ta’ala maka ia adalah syirik
besar. Oleh karena itu perlu adanya perbaikan i’tiqad dalam pengamalanya
sebelum dikerjakanya, saat dikerjakan dan setelahnya terus dan terus.
Wajib bagi kaum muslimiin untuk mengendalikan rasa takutnya
bukan lantas menyerah dan berkata “Bukanlah dosa jika ini rasa yang
wajar/Fitrah bagi setiap manusia” hakikat perintah itu adalah untuk dilaksanaan
untuk di taati dan berusaha sekuat tenaga (Mastatho’tum). Ini adalah amalan
hati (I’tiqadi) maka harus terus dan terus di ingatkan, di latih dan di
luruskan fitrahnya sampai tidak tersisa lagi padanya keraguan, tidak ada lagi
padanya kelemahan, tidak ada lagi padanya rasa takut kecuali hanya kepada Allah
ta’ala, dengan tawakkalnya seorang hamba akan dapat menafikan semua rasa takut
selain daripada-Nya.
Memperbaiki (I’tiqad) sangat memungkinkan dilakukan setiap
saat dengan sangat cepat hanya saja diperlukan kekuatan tujuan yang menjadi
arah rasa takut itu untuk menjadi pengingat bahwa ”Rasa takut yang Haq itu
Hanyalah kepada-Nya” Tidak kepada selain Allah Ta’ala. Mengembalikan niat dalam
hati hanya untuk Allah ta’ala saat merasa arahnya telah menyimpang untuk tidak
berpaling dari satu-satunya kekuatan yang mampu menjawab dan menyelesaikan
segala usrusan, yang maha besar dan maha perkasa berkuasa atas segala sesuatu.
Satu-satunya udzur pada masalah ini adalah bila akal telah
rusak yang menyebabkan terganggunya pikiran untuk memahami masalah ini dengan
benar, untuk mengembalikan fitrahnya seorang muslim yang menyerahkan segala
sesuatunya kepada Allah ta’ala. Seperti dimensia dan pikun yang menghinggapi
orang tua/lanjut usia, semoga Allah ta’ala memberi kita kekuatan aqidah yang
kokoh sehingga kita dapat mati dengan husnul khotimah, mati dalam bertaqwa
(Takut) kepada Allah Ta’ala.
فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ
لا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لا تَخَفْ إِنَّا
أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ
Maka
tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh
perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata:
"Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang
diutus kepada kaum Luth." Huud (11) : 70
إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ
فَقَالُوا سَلامًا قَالَ إِنَّا مِنْكُمْ وَجِلُونَ .قَالُوا لا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ
عَلِيمٍ
Ketika
mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: "Salaam." Berkata
Ibrahim: "Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu." Mereka berkata:
"Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira
kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang
yang alim." Al Hijr (15) : 53
فَفَرَرْتُ مِنْكُمْ
لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكْمًا وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُرْسَلِينَ
Lalu
aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku
memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara
rasul-rasul. Asy Syu’araa (26) : 21
وَاذْكُرُوا إِذْ
أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الأرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ
فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ
Dan
ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi
tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik
kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu
kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar
kamu bersyukur. Al Anfaal (8) : 26
وَأَلْقِ عَصَاكَ
فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّى مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ يَا
مُوسَى لا تَخَفْ إِنِّي لا يَخَافُ لَدَيَّ الْمُرْسَلُونَ
dan
lemparkanlah tongkatmu." Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa
melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang gesit, larilah ia
berbalik ke belakang tanpa menoleh. "Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya
orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku. An Naml (27) : 10
وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ
فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّى مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ يَا
مُوسَى أَقْبِلْ وَلا تَخَفْ إِنَّكَ مِنَ الآمِنِينَ
dan
lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa
melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia
berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): "Hai Musa
datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Se- sungguhnya kamu termasuk
orang-orang yang aman. Al Qashash (28) :
31
إِذْ دَخَلُوا عَلَى
دَاوُدَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ قَالُوا لا تَخَفْ خَصْمَانِ بَغَى بَعْضُنَا عَلَى بَعْضٍ
فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلا تُشْطِطْ وَاهْدِنَا إِلَى سَوَاءِ الصِّرَاطِ
Ketika
mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena kedatangan) mereka. Mereka
berkata: "Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang
berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka
berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari
kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Shaad (38) : 22
فَمَا آمَنَ لِمُوسَى
إِلا ذُرِّيَّةٌ مِنْ قَوْمِهِ عَلَى خَوْفٍ مِنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَنْ يَفْتِنَهُمْ
وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الأرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ
Maka
tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa)
dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa
mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan
sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. Yunus (10) : 83
قَالَ رَبِّ إِنِّي
قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ
Musa
berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku, telah membunuh seorang manusia dari
golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku. Al Qashash (28) : 33
فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ
خَائِفًا يَتَرَقَّبُ فَإِذَا الَّذِي اسْتَنْصَرَهُ بِالأمْسِ يَسْتَصْرِخُهُ قَالَ
لَهُ مُوسَى إِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُبِينٌ
Karena
itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir
(akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin
berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya:
"Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya)."
Al Qashash (28) : 18
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ
فِي الأرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاةِ إِنْ خِفْتُمْ
أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا
مُبِينًا
Dan
apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu),
jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu
adalah musuh yang nyata bagimu. An Nisaa (4) : 101
وَنُمَكِّنَ لَهُمْ
فِي الأرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوا يَحْذَرُونَ
Berkata
Ya'qub: "Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan
aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah dari
padanya." Al Qashash (28) : 6
Ayyuhal ikhwah dalam ketakutan kita dituntut untuk tetap
berada dalam ketaatan, beriman kepada qadha dan qadarnya, bersabar dan
bertawakkal kepada-Nya. Sebagaimana dalam ayat diatas untuk tetap menegakkan
shalat walaupun dalam keadaan takut, Ya’qub tetap mengizinkan anak-anaknya membawa
yusuf dan menyerahkan segala ketentuan itu atas taqdir Allah Ta’ala. Ibrahiim
alaihi salam yang tetap ditempat duduknya setelah ada keterangan “Janganlah
Kamu Takut” begitu juga Daud alaihi salam. Musa alaihi salam yang tetap
menjalankan perintah Rabbnya meskipun dalam keadaan takut menghampiri suara dan
cahaya, memegang kepala ular dan pergi kepada fir’aun walaupun diketahui
dirinya sedang terancam nyawanya karena telah membunuh. Sesungguhnya dalam
ketaatan kepada perintah Allah ta’ala terdapat jalan keluar yang dekat, padanya
terdapat pertolongan yang amat besar. Dan dalam perjalanan hijrahnya dua orang
yang berada didalam gua, sedang musuh mereka berada di atas mereka, tidaklah
mereka menjadikan rasa takutnya mengalahkan tauhid mereka dan berkata Sesungguhnya
Allah bersamamu Pertolongan-Nya itu
Dekat.
إِلا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ
كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ
إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ
لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ
هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Jikalau
kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya
(yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah)
sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di
waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita,
sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya
kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya,
dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah
itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. At Taubah (9) : 40
لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ
رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ
اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لا تَخَافُونَ فَعَلِمَ
مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا
Sesungguhnya
Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan
sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram,
insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan
mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang
tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. Al
fath (48) : 27
وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ
قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِي وَلا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ
إِلا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلا تَتَذَكَّرُونَ
Dan
dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantah
tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk
kepadaku." Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan
yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki
sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu.
Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?" Al
An’aam (6) : 80
فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ
مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ .وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا
بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ .قَالَتْ يَا وَيْلَتَا أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ
وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ .قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ
اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ .فَلَمَّا ذَهَبَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ الرَّوْعُ
وَجَاءَتْهُ الْبُشْرَى يُجَادِلُنَا فِي قَوْمِ لُوطٍ
Maka
tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh
perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata:
"Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang
diutus kepada kaum Luth." Dan
isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan
kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir
puteranya) Ya'qub. Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku
akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini
suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar
suatu yang sangat aneh." Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu
merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan
keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha
Terpuji lagi Maha Pemurah." Maka
tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya,
diapun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth.
Huud (11) : 70-74
وَلَمَّا أَنْ جَاءَتْ
رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالُوا لا تَخَفْ وَلا تَحْزَنْ
إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهْلَكَ إِلا امْرَأَتَكَ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ
Dan
tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa
susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak punya kekuatan untuk
melindungi mereka dan mereka berkata: "Janganlah kamu takut dan jangan
(pula) susah. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu,
kecuali isterimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal
(dibinasakan)." Al ankabuut (29) : 33
فَخَرَجَ مِنْهَا
خَائِفًا يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Maka
keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir,
dia berdoa: "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim
itu." Al Qashash (28) : 21
فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا
تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا
سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لا تَخَفْ نَجَوْتَ
مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Kemudian
datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan
kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia
memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami."
Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya
cerita (mengenai dirinya), Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut. Kamu
telah selamat dari orang-orang yang zalim itu." Al qashash (28) : 25
وَلَهُمْ عَلَيَّ
ذَنْبٌ فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ .قَالَ
كَلا فَاذْهَبَا بِآيَاتِنَا إِنَّا مَعَكُمْ مُسْتَمِعُونَ
Dan
aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku." Allah berfirman: "Jangan takut (mereka
tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa
ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan
(apa-apa yang mereka katakan), Asy Syuaraa (26) : 14-15
وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا
إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا
لا تَخَافُ دَرَكًا وَلا تَخْشَى
Dan
sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu dengan
hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan
yang kering dilaut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah
takut (akan tenggelam)." Thahaa (20) : 77
فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ
خِيفَةً مُوسَى
.قُلْنَا لا تَخَفْ
إِنَّكَ أَنْتَ الأعْلَى
Maka
Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: "janganlah kamu takut,
sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). ThaHaa (20) : 67-68
إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ
مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
ketika
dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah
penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja
orang-orang mukmin bertawakkal. Ali
Imran (3) : 122
فَأَتْبَعُوهُمْ مُشْرِقِينَ .فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ
مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ .قَالَ
كَلا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ .فَأَوْحَيْنَا
إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ
الْعَظِيمِ
.وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ
الآخَرِينَ
.وَأَنْجَيْنَا مُوسَى
وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ .ثُمَّ
أَغْرَقْنَا الآخَرِينَ .إِنَّ
فِي ذَلِكَ لآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ
Maka
Fir'aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit.
Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut
Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul." Musa menjawab:
"Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak
Dia akan memberi petunjuk kepadaku." Lalu Kami wahyukan kepada Musa:
"Pukullah lautan itu dengan tongkatmu." Maka terbelahlah lautan itu
dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami
dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang
besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan
golongan yang lain itu Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka
tidak beriman. Asy Syu’araa (26) : 60-67
Dan kisah ya’qub yang tidak putus asa atas pertolongan-Nya,
untuk tetap percaya kepada Allah ta’ala bersabar dan bertawakkal padanya.
وَجَاءُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ
أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ .وَجَاءَتْ سَيَّارَةٌ فَأَرْسَلُوا وَارِدَهُمْ
فَأَدْلَى دَلْوَهُ قَالَ يَا بُشْرَى هَذَا غُلامٌ وَأَسَرُّوهُ بِضَاعَةً وَاللَّهُ
عَلِيمٌ بِمَا يَعْمَلُونَ
Mereka
datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'qub
berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang
buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah
yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh
seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: "Oh;
kabar gembira, ini seorang anak muda!" Kemudian mereka menyembunyikan dia
sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Yusuf (12) : 19
وَتَوَلَّى عَنْهُمْ
وَقَالَ يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
Dan
Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka
citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan
dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Yusuf
(12) : 84
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو
بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ .يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ
يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ
اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
Ya'qub
menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan
kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada
mengetahuinya." Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita
tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang
kafir." Yusuf (12) : 86-87
وَلَمَّا فَصَلَتِ
الْعِيرُ قَالَ أَبُوهُمْ إِنِّي لأجِدُ رِيحَ يُوسُفَ لَوْلا أَنْ تُفَنِّدُونِ
Tatkala
kafilah itu telah ke luar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka:
"Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah
akal (tentu kamu membenarkan aku)." Yusuf (12) : 94
فَلَمَّا
أَنْ جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَى وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا قَالَ أَلَمْ
أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ
Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju
gamis itu ke wajah Ya'qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya'qub:
"Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang
kamu tidak mengetahuinya." Yusuf (12) : 96
Maka tidak dibenarkan bersembunyi dibalik kalimat “Takut
yang wajar” sesungguhnya telah jelas perintah dan larangan dalam masalah ini
dan telah dicontohkan bagaimana mengatasi bermacam-macam rasa takut itu.
Sebagaimana judul bab ini yaitu wajib setiap musliim mengatasi dan
mengendalikan rasa takut itu. Rasa takut yang wajar/manusiawi bukanlah tolok
ukur penetapan sesuatu itu dikatakan syirik besar atau kecilnya. Tidak ada
perbedaan antara takut kepada satu hal dengan hal yang lainya jika hakikat
takutnya di landaskan kepada rasa yang “Fitrah/Manusiawi”. Insya allah ada
pembahasan khusus dalam masalah tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar